Belajar Adil dalam Menilai

Ada hal yang mungkin harus banyak dipelajari ketika manusia hendak menilai apalagi memberikan stempel. Tidak layak kita menilai segala sesuatu yang tidak kita ketahui seluk beluknya secara mendetail atau mampu kita buktikan kebenarannya. Bayangkan saja, manusia itu banyak sekali memiliki kelemahan. Tuhan berikan perangkat akal, fisik, rasa semuanya dalam suatu kadar tertentu. Tidak sempurna 100%.

G1. ambar diambil dari Google
Memang mudah memberikan penilaian yang sesuai dengan persepsi dan keinginan sendiri. Menilai dengan sudut pandang kepala sendiri dan memberikan cap adalah sesuatu yang setiap orang pun bisa melakukannya. Tanpa perlu pendidikan tinggi-tinggi, semua orang bisa melakukan hal tersebut.

Ada hal yang mungkin harus banyak dipelajari ketika manusia hendak menilai apalagi memberikan stempel. Tidak layak kita menilai segala sesuatu yang tidak kita ketahui seluk beluknya secara mendetail atau mampu kita buktikan kebenarannya. Bayangkan saja, manusia itu banyak sekali memiliki kelemahan. Tuhan berikan perangkat akal, fisik, rasa semuanya dalam suatu kadar tertentu. Tidak sempurna 100%.

Mata kita, hanya mampu melihat radius yang jangankan 1km, pandangan 100 meter saja mungkin sudah buram. Jangankan melihat dan menembus pandangan ke atas langit hingga ke berbagai planet, melihat proses hujan saja kita kesulitan. Telinga kita, jangankan mendengar frekuensi tertentu, berkomunikasi dengan satu orang saja manusia bisa salah tangkap, salah dengar, dan akhirnya salah memahami. Akal kita, satu-satunya alat berpikir yang Tuhan ciptakan ini, sebagai alat memahami kebenaran, terkadang bekerjanya tidak sempurna. Bukan karena Tuhan serba kekurangan sehingga tidak bisa menciptakan kesempurnaan pada diri manusia, tapi itulah kadarnya. Akal bekerja sesuai data yang masuk dan tidak bisa bekerja tanpa data atau memori. Kita tahu sendiri bahwa manusia makhluk yang bisa lupa. Data atau memory yang tersimpan tidak selalu tersimpan dan dapat dikeluarkan dengan sempurna kembali. Tapi kembali lagi, bahwa itulah kadar dari Allah. Diciptakan seimbang, sempurna dalam ketetapanya. Manusia yang menginginkan sesuatu lebih dari kadarnya, tentu dampaknya sangat sistemik bagi kehidupan ia sendiri.

Adanya kekurangan ini, membuktikan bahwa manusia diciptakan tidak untuk menjadi sempurna. Segala kelemahan justru membuat kita harus lebih bijak menyikapi berbagai soal. Begitupun ketika manusia memberikan penilaian. Keterbatasan kita membuat kita sebagai manusia harus berhati-hati memberikan penilaian. Apalagi penilaian yang menyangkut atas kedirian seseorang. Terkadang ranah tersebut menjadi suatu yang agak misterius dan abu-abu. Bukan karena manusia tersebut tidak bisa dinilai, tapi kita ini siapa? Apakah kita benar-benar tahu dan yakin atas data yang kita miliki? Bahkan kadang, menilai kedirian seseorang khawatir tidak adil dan malah merusak kecuali memang perilakunya sudah terbukti jelas salah. Tentu dengan pembuktian fakta dan pendasaran hukum yg jelas.

Tidak perlu jauh. Mungkin sering kita melihat orang yang kesehariannya tidak sesuai dengan pandangan kita. Misalnya saja, ada orang yang berpakaian tidak sesuai dengan aturan yang kita pahami, sebagaimana Islam memberikan aturan. Dia tidak menggunakan jilbab syar’i sebagaimana hasil belajarnya terhadap syariah. Saat itu langsung memberikan judging bahwa dia wanita tidak baik-baik. Tidak berpakaian wanita muslimah sebagaimana ia pelajari. Kita langsung berikan penilaian wanita itu tidak baik, tidak taat, dsb. Padahal, kita tidak tau siapa dia, mengapa alasannya, bagaimana prosesnya? Kita tidak pernah tau, tapi kita memberikan cap pada keseluruhan jati dirinya.

Misalkan lagi, ada orang yang berganti haluan dalam perjalanan karir dan profesinya. Ambil contoh seorang Guru dan Da’i. Awalnya sering berdakwah tapi kemudian mengambil jalan untuk berwirausaha juga. Andai kata penilaian itu muncul secara sepihak, akan ada banyak orang yang mengatakan bahwa dia matre, tidak peduli lagi islam, dsb. Padahal kita juga tidak pernah tau apa alasan utamanya. Kecuali, bagi mereka yang sudah tau dan memahaminya.

Terkadang satu orang dengan yang lainnya tidak bersaudara dan bersinergi dalam misi kemanusiaan yang ditetapkan Allah, hanya karena saling menilai yang bisa jadi itu hanya di kacamata masing-masing. Saling memberikan cap yang bisa jadi belum terbukti kebenarannya. Saya mengatakan bisa jadi, bukan berarti setiap penilaian terhadap manusia selalu keliru bahkan mengatakan bahwa tidak boleh memberikan penilaian sama sekali. Tentu bukan seperti itu.

Ketidak hati-hatian bisa menyebabkan kita salah menempatkan orang lain, menutup untuk bekerja sama, memunculkan kerisauan atau memecah belah ummat. Sebagai muslim tentu butuh rasa persaudaraan, walaupun kita tahu ada orang-orang munafik yang sejak masa Rasulullah dulu selalu menghantui dan mengikuti ummat. Kehati-hatian itu justru dibutuhkan agar tidak salah dalam memberikan penilaian. Tentunya harus dilakukan oleh orang yang bukan hanya capable, tetapi mengenal utuh informasinya, meninjau dan terus mengkoreksi.Begitupun satu orang dengan orang yang lain, satu kelompok dengan kelompok yang lain, bahkan satu bangsa dengan bangsa yang lain. Berbagai keragaman, berbagai sudut pandang, kekhasan, kepentingan, tujuan tertentu, kebiasaan, dan lain sebagainya bukan harusnya memecah belah. Penilaian tertentu yang kurang objektif, kurang bijak, dan kurang adil, yang atas dasar hawa nafsu atau ego diri sendiri lah yang justru menghancurkan. Sampai-sampai, terkadang penilaian itu begitu melampaui batas kemanusiaan kita. Contohnya saja, klaim kafir, klaim bahwa diri dan kelompoknya paling benar sendiri, menuduh orang lain sesat, mengklaim munafik, ahli neraka, dan sebagainya. Menurut saya pribadi, penialain manusia atas itu begitu absurd.

Mungkin terhadap diri sendiri kita bisa menjadikan penilaian itu sebagai bentuk kewaspadaan dan kehati-hatian dalam bertingkah laku. Terhadap pihak di luar diri, tentu bukan suatu yang main-main, apalagi mudah untuk dikeluarkan klaim atau cap tersebut. Sekali salah memberikan cap, maka dampak nya tidak main-main juga. Kerugian yang besar terhadap yang diberikan klaim menjadi luar biasa. Sekali lagi, saya tidak mengatakan bahwa penilaian itu pasti salah, tapi jika asal-asalan, keluar dari mulut yang secara sembarangan tentu tidak adil dan kurang bijaksana.
6360017002957661481768308257_image252520of252520openness
G2. Gambar Diambil dari Google

Terkadang, Kerahmatan itu tidak muncul bukan karena memang hal tersebut tidak benar. Terkadang penilaian kita yang salah atau kurang fair. Kita tidak sebenar-benarnya menilai dengan tepat dengan ilmu dan metode yang benar. Bisa jadi terlalu terburu-buru, terlalu khawatir, terlalu takut, atau hal-hal lainnnya yang kadang menutupi fitrah kebenaran itu sendiri.

Bukan berarti saya tidak sepakat dan tidak memperbolehkan menilai. Menilai adalah fitrah manusia yang tidak bisa dihindarkan. Menilai juga suatu kebutuhan dasar untuk mengetahui benar dan salah, membedakan baik dan buruk. Akan tetapi, berhati-hatilah dalam menilai apalagi terhadap sesuatu yang tidak kita mengenalnya dengan baik. Jangankan dengan yang tidak kita kenal, bahkan ketika sudah mengenal pun belum tentu itu sebuah proses pengenalan yang baik dan utuh.

Saya bukan seorang relativis yang menganggap tidak adanya kebenaran mutlak di muka bumi ini, di hadapan manusia. Saya tidak sepakat jika ada anggapan bahwa kebenaran sulit terungkap, bahkan tidak ada kebenaran yang mutlak bisa dibuktikan. Saya tidak sepakat hal tersebut. Manusia butuh kebenaran, tuntunan, dan ketegasan soal yang benar yang baik. Saya yakin lewat agama dan tanda tanda di alam/kehidupan, petunjuk itu senantiasa ada. Tinggal manusia mencari, menemukan, dan menguji.

Kita bukan pakar kebenaran yang setiap penilaian adalah benar 100%. Tetapi juga bukan tidak sama dengan 100% kita tidak bisa menilai. Justru itulah, kita harus berhati-hati. Apa yang kita nilai dan kita berikan cap, tidak selalu hal tersebut benar. Kadang kebenaran itu begitu jelas, namun karena egoisitias diri dan hawa nafsu, hal tersebut menjadi seperti terhalang kabut dan blur.

Terkadang, kita sering mengatakan bahwa : INI PASTI BENAR. ITU SUDAH SAYA BUKTIKAN SENDIRI. INI ADA BUKTINYA. Namun, dari pembuktian sendiri kita ragu atau malas meninjau ulang sudut pandang orang lain. Bisa karena ego bisa juga karena kita sudah merasa yakin benar bahwa penilaian kita begitu sempurna. Meninjau ulang bukan pekerjaan sia-sia dan membuat kita ragu. Kebenaran, semakin dia diuji semakin kuatlah dia. Semakin dia ditempa maka semakin cemerlang lah dia. Fakta yang berbicara, kita hanyalah penemunya saja.

Untuk itu, menguak kebenaran tidak hanya butuh ilmu pengetahuan. Ia membutuhkan kesabaran, keteguhan hati, keikhlasan menerima kenyataan, serta hati yang lapang untuk terus menerus belajar. Bisa jadi seumur hidup prosesnya tidak akan pernah berhenti. Siapa yang menjamin bahwa hasil belajar kita ini adalah 100% benar? Tentu tidak akan pernah ada yang menjamin hal tersebut. Untuk itu, kesombongan dalam diri akan ilmu, akan keyakinan, membuat kita terkadang menutup mata, hati, dan telinga kita untuk memikirkan hal-hal lain yang bisa jadi mampu dibuktikan kebenarannya.

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”

(QS. Lukman: 18).

Kita hanyalah manusia yang penuh batasan dan kadar tertentu yang sudah Allah tetapkan. Menilai di luar batas tanpa memiliki pengetahuan dan kemampuan yang memadai tentu bukan suatu yang bijak. Orang berilmu dan berkemampuan tidak serta merta dia juga adalah dewa tanpa kesalahan. Dia tetap manusia, seluas apapun ilmu dan pengalaman yang dimiliki potensi kesalahan selalu ada.

Menilai pasti akan selalu di lakukan. Hasil penilaian adalah sebuah keniscayaan. Yang bisa kita lakukan adalah selalu mengkoreksi diri, meninjau kembali pengetahuan yang dimiliki, dan tidak pernah berhenti menguak pengetahuan serta hukum Allah Yang Maha Benar yang ada di dunia ini.

Manusia bukan hakim agung, walaupun statusnya adalah seorang hakim di pengadilan sekalipun. Menghakimi orang dengan penilaian sendiri yang tak berdasar, tentunya suatu pertanggunjawaban berat di hadapan Allah kelak.

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. “
QS : Al-Isra : 36

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *