Sekelumit Tentang Penafsiran Manusia Pada Islam

Tulisan ini hanyalah pendapat dan pikiran yang acak dari seorang yang masih awam dan belajar banyak mengenai islam. 100% pendapat di dalamnya masih sangat spekulatif dan belum teruji. Tujuannya hanya ingin belajar menuangkan pikiran dan ide yang sayang jika tak tertuangkan.

Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah SWT sebagai petunjuk kehidupan manusia, khususnya bagi mereka yang beriman terhadapnya. Manusia yang juga memilki hawa nafsu, keserakahan, kejahiliahan tentu membutuhkan petunjuk dan peringatan, agar hidupnya benar-benar dalam jalan kebaikan dan kebenaran.

“Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al Quran) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami; menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman” (QS Al A’raf : 52)

Sebagai bentuk petunjuknya bagi manusia, Allah menurunkan petunjuk lewat Wahyu yang disampaikan oleh Nabi atau Rasul yang ditunjuk dari kalangan manusia sebagai panduan dan teladan.Di setiap ummat atau masa, terdapat Nabi atau Rasul masing-masing. Hingga kini Rasulullah Muhammad SAW dan Al-Quran lah yang menjadi pedoman hidup manusia hingga akhir zaman.

Berbagai penafsiran ataupun pendapat mengenai islam kemudian bermunculan, sejak Rasulullah meninggalkan dunia ini. Banyak friksi, banyak pendapat, penafsiran terhadap wahyu, terhadap hadist, bahkan berbagai hal dasar lainnya mengenai islam seperti masalah keimanan, surga-neraka, sampai pada status kafir pada seseorang.

Kita bisa melihat dalam sejarah bagaimana orang-orang islam pernah memiliki perbedaan pendapat mengenai masalah ketetapan Allah atau takdir yang diwakilii oleh Golongan Jabariah dengan pandangan manusia diekndalikan seluruhnya oleh Allah SWT dan Qadariah dengan pandangan manusia bebas memilih dengan kehendak bebasnya, lalu muncul kembali golongan Ahlussunah Wal Jamaah yang mengambil tengah dari jalan keduanya. Hal ini masih secuplik dari perbedaan mengenai tafsir agama dari sejarah. [1]

Di zaman yang sudah berkembang seperti saat ini, tentunya juga muncul ribuan tafsir dan pendapat tentang agama dan islam. Dengan pendekatan yang berbeda-beda, para ilmuwan, imam mahzab, ulama agama, tokoh-tokoh cendekiawan lainnya melakukan penafsiran yang berbeda-beda mengenai islam dengan sudut pandang, framing, dan keilmuannya masing-masing. Perbedaan bisa terdapat pada masalah epistemologi, masalah teknis, atau masalah lainnya yang semakin berkembang.

Kita bisa melihat contohnya ada kelompok yang memiliki pandangan bahwa islam adalah agama yang murni mengkhususkan masalah pada aqidah dan moralitas sedangkan yang merasa tidak sepakat memiliki pandangan bahwa islam adalah agama yang lengkap sehingga ikut pula mengatur masalah politik, ekonomi, hukum perdata, hukum pidana, keluarga, dan lain sebagainya. Perbedaan juga muncul di tataran konsep penerapan agama, seperti kewajiban wanita berhijab atau tidak. Bahkan di tataran teknis pun juga muncul perbedaan, seperti masalah teknis shalat, teknis berdoa, berzikir, dan lain sebagainya.

Perbedaan tersebut kerap kali membuat umat islam yang notabene berasal dari ruh yang sama (Keyakinan terhadap Allah, Rasul, dan Al-Quran) menjadi terbentuk kelompok, organisasi, friksi, atau aliran tertentu yang memiliki tujuan dan spirit nya masing-masing. Hal ini tentu menjadi wajar, apalagi Allah sendiri menyampaikan di dalam Al-Quran bahwa umat manusia terbagi-bagi dalam berbagai golongan. Sejak Rasulullah ada pun, perbedaan pendapat, perdebatan sengit, dan diskusi yang melahirkan banyak pandangan dan argumentasi juga muncul di dalamnya.

Artinya, memang fitrah manusia adalah memiliki banyak kekurangan. Dalam melihat sesuatu, tidak selalu manusia mendapatkan kesempurnaan. Bahkan klaim bahwa dirinya adalah sempurna dalam melihat dan memandang realitas adalah kelemahan itu sendiri. Hal tersebut menunjukkan bahwa manusia tidak sadar bahwa dirinya bukan makhluk sempurna dalam memandang keluasan alam semesta jagad raya dan seisinya milik Allah SWT ini.

Akan tetapi, bukan berarti argumentasi di atas menunjukkan bahwa saya adalah penganut relativisme, yang memandang tidak adanya kebenaran mutlak yang bisa dihasilkan oleh manusia. Tentu saja manusia membutuhkan kebenaran mutlak dalam kehidupan ini. Jika tidak ada kebenaran mutlak yang dapat diambil dan diterima manusia, saya yakin hidup ini akan hampa dan gelap tanpa arah tujuan. Lantas bagaimana cara manusia tersebut dapat menjalankan kehidupannya dengan baik dan benar. Karena manusia bukanlah hewan yang hidup tanpa membutuhkan tuntunan nilai dan etika.

Contoh kecilnya, kebenaran mutlak bahwa manusia pasti akan mati. Seperrtinya hal itu adalah kebenaran mutlak yang tidak bisa dihindari. Berbagai ilmu pengetahuan berbasis sains, realitas atau kenyataan adanya orang yang meninggal, dan informasi agama atau wahyu menunjukkan pendapat yang sama. Apalagi diperkuat dengan berbagai ketidakberdayaan manusia dalam menghadapi ajal itu sendiri seerta informasi wahyu yang mengatakan bahwa hari akhir akan tiba, setelah kehidupan manusia di muka bumi ini selesai. Kalaupun hari ini ada ilmuwan yang mengatakan bahwa usia manusia dapat diperpanjang hal ini belum dapat mematahkan juga menemukan formula bagaimana manusia dapat hidup abadi.

Dalam konteks pernafisran islam, permasalahannya ada berbagai kondisi dimana masing-masing orang atau kelompok membuat pernyataan masing-masing atau memberikan penafsiran terhadap sesuatu (dalam hal ini khususnya agama), merasa hasil penelitiannya sudah final dan berakhir tanpa perlu mengkaji dan membuat perbandingan kembali dengan pendapat atau penafsiran orang yang lain. Inilah yang kemudian muncul perpecahan, friksi, berbagai perbedaan pendapat yang tidak jarang diwarnai oleh kemarahan, rasa memiliki kebenaran, anarkis, kekisruhan, dan bentuk respon emosi lainnya.

Semasa Nabi Muhammad SAW masih ada, perbedaan pendapat dan berbagai argument tentang pembangunan masyarakat dan islam tentu juga sudah ada. Dalam sejarah dikisahkan bahwa Umar Bin Khattan sahabat dekat nabi, pendamping setia dalam perjuangan nabi saja pernah berbeda pendapat mengenai strategi nabi dalam menyikapi perjanjian hudaibiyah pada awalnya. Namun seiring waktu setelah Umar benar-benar memahami maksud dan strategi tersebut, justru ia sangat mendukung dan menjadi garda depan dalam memperjuangkannya. [2]

Saya berpendapat bahwa tidak adanya perpecahan umat islam di masa tersebut bukan hanya karena umat islam yang terbuka, objektif, mau menilai dari berbagai sudut pandang, tetapi juga ada faktor Kredibilitas Muhammad sebagai seorang Nabi yang langsung ditunjuk oleh Allah. Keotentikannya sebagai seorang Nabi membuat umat islam yang sudah bersatu padu tidak mungkin berjauhan, dan menentang Nabi. Adanya perbedaan pendapat tentu saja dapat selesai dan terpecahkan karena kearifan dan kebijakan Muhammad sebagai Rasul saat itu.

Lantas bagaimana di zaman sekarang yang kita hidup dengan Al-Quran dan Informasi peninggalan Nabi, namun berbagai penafsiran muncul yang bisa jadi satu sama lain saling bertentangan. Di zaman saat ini, tidak ada lagi Pemimpin Otentik pilihan Allah yang ditunjuk secara formal. Adapun ulama, para peneliti agama, ataupun tokoh agama lainnnya adalah sama-sama manusia yang serba memiliki kekurangan, dan posisinya tentu bukanlah seperti Nabi, yang ketika salah akan mendapatkan petunjuk atau peringatan dari Allah.

Kemutlakkan Nilai-Nilai dalam Al-Quran

Sebelum saya berpendapat mengenai masalah di atas, saya ingin berpendapat terlebih dahulu mengenai Kemutlakan Al-Quran dan Kerelativan manusia.

Sebagai muslim yang beriman, saya rasa umat islam tentu akan setuju bahwa Al-Quran adalah petunjuk yang mutlak, tidak mungkin salah dan tidak mungkin diturunkan tanpa tujuan pemecahan masalah atau tujuan yang memiliki hikmah bagi manusia. Adanya petunjuk mengenai nilai-nilai etika, hukum, Ketuhanan, Kerasulan, Sejarah hidup ummat dan Rasul di masa lalu, semuanya mengandung beragam hikmah dan nilai yang sangat mendalam jika didekati dengan berbagai sudut pandang.

Keotentikan Al-Quran tentu sama hal nya seperti keotentikan Nabi yang diturunkan Allah melalui perantara Nabi Jibril. Namun saya tidak akan membahas mengenai bagaimana kemutlakan dan keotentikan Al-Quran dapat diambil kesimpulan dalam tulisan ini.

Yang menjadi masalah adalah bukan pada Al-Quran melainkan pada penafsiran manusia. Manusia yang memiliki kekurangan, ketidaksempurnaan ilmu pengetahuan, akal yang terbatas, tentunya menjadikan manusia satu dengan manusia lainnya sangat berpotensi memiliki framing yang berbeda-beda mengenai islam. Terjemahan mengenai islam dan pengejawantahan-nya dalam perilaku keseharian tentu juga ditemukan hal yang berbeda-beda mengenai hal ini.

Bahkan adanya perubahan kondisi, perubahan zaman, dan perubahan konteks sosial politik membuat penafsiran, pengamaliahan terhadap nilai-nilai agama bisa menjadi berbeda-beda oleh manusia. Walaupun tidak semuanya ajaran islam baik dalam Al-Quran ataupun Hadist selalu berubah dan berbeda di setiap kondisi dan konteks. Contohnya saja gerakan shalat yang tidak akan mengalami perubahan sampai kapanpun, sebagai bentuk kesatuan gerak dari ajaran islam sejak Rasulullah dulu.

Namun di sisi lain, dalam konteks pembangunan sosial kemasyarakatan tentu saja dari zaman ke zaman selalu terdapat perbedaan kondisi yang tiada henti-hentinya. Misalnya, bentuk penindasan di zaman dulu terhadap manusia adalah perbudakan dari tuan nya kepada mereka para budak. Hari ini konteks moderen, perbudakan bukanlah hanya dari tuan, melainkan manusia sendiri yang diperbudak oleh ciptaannya seperti teknologi. Oleh sebab itu, penafsiran dalam kebutuhan pengaplikasian islam tentu akan selalu memiliki potensi untuk mengalami perubahan dan perbedaan di setiap orang, waktu, dan zamannya.

Dalam pendapat saya, kemutlakan Al-Quran adalah sepanjang masa dan tidak akan pernah terganti. Al-Quran dalam kehidupan manusia seperti bangunan dasar ilmu pengetahuan. Setiap pengetahuan tentu memiliki bangunan dasarnya. Ilmu Pengetahuan pasti bukanlah tujuan bagi manusia, maka itu ilmu pengetahuan memerlukan muara kemana ia mengalir dan menuju. Al-Quran dalam hal ini memiliki posisi yang lebih penting dari sekedar perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri.

Yang sangat penting dan mendasar dalam Al-Quran adalah tujuan, makna, nilai-nilai, dan hikmah yang berada di dalamnya. Nilai-nilai, tujuan, makna, dan hikmah ini tidak akan pernah berganti hingga akhir zaman sekalipun. Hal tersebut akan abadi dan tidak akan pernah tergantikan.

Dapat kita ambil contoh dalam Al-Quran terdapat kisah orang tua yang shaleh bernama Lukmanul Hakim yang selalu menasihati anaknya dengan nilai-nilai ketauhidan, keadilan, dan kebijakan lainnya. Yang abadi dan mutlak dari kisah ini bukanlah pada Subjek-nya itu sendiri, melainkan dari Niali-Nilai kebijakan yang disampaikannya itu sendiri.

Begitupun mengenai perintah Allah mengenai berperang melawan kekafiran di dalam Al-Quran. Dalam Al-Quran perintah melawan kekafiran tersebut dilakukan dengan mengangkat senjata, menggunakan pedang-pedang dan kuda-kuda. Dalam penerapan hari ini tentu mengangkat senjata dan berperang dengan kekerasan perlu pengkajian kembali. Namun yang abadi dan otentik dalam ayat ini adalah bentuk perlawanan terhdap kekafiran, kezaliman, ketidak adilan haruslah dilawan. Bentuk perlawanan dan penghadangan terhadap masalah tersebut tentu saja setiap zaman bisa berbeda-beda. Nilai melawan kezaliman dan kekafiran tentu saja sampai kapanpun diperintahkan oleh Allah SWT.

Untuk itu, dalam kaidah fiqh (ushul fiqh) islam terdapat istilah maqosid syariah. Bahwa setiap ayat dan perintah mengalami tujuan dan maksud yang ingin dicapai. Tentu saja dalam hal ini manusia tidak bisa serta merta menarik nilai-nilai dasar, nilai perintah, hikmah-nya secara sembarangan, apalagi mengaplikasikannya dalam bentuk amaliah dan perjuangan di masyarakat. Kembali lagi, bahwa manusia yang serba kekurangan dan memiliki banyak kelemahan pasti juga akan memiliki kelemahan dan kekurangan dalam menafsirkan agama (termasuk ilmu lainnya) apalagi dalam pengamaliahannya.

Memahami Bersama, Merangkai Pengetahuan dan Penafsiran

Yang sering saya amati, banyak orang-orang yang memiliki pandangan mengenai islam dengan framing tertentu. Entah itu berdasarkan landasan keilmuannya, pengalamannya, atau hanya sekedar lintasan pikiranya. Yang perlu di garis bawahi adalah islam tidak serta merta begitu saja dapat disimpulkan dari satu framing tertentu.

Adanya banyak perbedaan penafsiran dan pandangan bukan berarti dengan serta merta semua pandangan tersebut dapat dibenarkan. Tentu perlu dikaji, diteliti dan didiskusikan lebih mendalam. Apalagi sekarang sudah tidak ada lagi Nabi yang secara penafsiran dan memahami Al-Quran lebih otentik dibanding manusia biasa yang ada saat ini. Tidak ada klaim siapa, golongan mana, kelompok apa yang penafsirannya paling benar, karena seluruhnya hanyalah manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan melihat, mendengar, merasa, dan memproses akalnya secara sempurna.

Ketaklidan manusia pada manusia lainnya, pemikiran tertentu, atau pada kelompok tertentu dikhawatirkan menimbulkan potensi konflik yang semakin membesar. Perbedaan memang suatu keniscayaan yang tidak bisa dihindarkan. Membuat islam satu pandangan di hari ini memang sulit bukan main. Akan tetapi bukan berarti, dalam satu masalah tertentu, satu konteks tertentu hal ini tidak dapat dilakukan dan diselesaikan.

Kita ketahui bersama bahwa Ayat Al-Quran – Ajaran ajaran islam, memiliki content yang sangat luas dan beragam. Mulai dari masalah sains, tujuan hidup manusia, keberadaan Allah SWT, aturan hukum, keluarga, ekonomi, dsb. Tentu untuk memahami apa yang ada di dalamnya membutuhkan kemampuan, keahlian, dan pengetahuan yang cukup, tidak terkecuali pemahaman tentang berbagai ilmu pengetahuan.

Contohnya saja berawal dari pandangan terhadap manusia. Saya pernah membaca sebuah tulisan yang penulisnya beranggapan bahwa manusia adalah makhluk homo economicus. Menurut Adam Smith[3], Homo Manusia adalah Homo Economicus, yaitu makhluk yang cenderung tidak pernah merasa puas dengan apa yang diperoehnya dan selalu berusaha secara terus menerus dalam memenuhi kebutuhannya. Jika melihat islam hanya dari aspek homo economicus ini saja, bisa saja terdapat kepincangan dalam menafsirkan soal siapa manusia. Dalam teori dan pendapat yang lain juga ada pandangan bahwa manusia adalah makhluk yang membutuhkan tujuan atau makna dalam kehidupannya. Dan ada beragam macam ilmu, teori, pendapat, dan lain sebagainya mengenai manusia.

Begitupun dengan bidang-bidang dan hal-hal lainnya. Pendekatan berbagai bidang pengetahuan tentu sangat dibutuhkan untuk dapat memahami Al-Quran yang luasnya tidak terkira. Keterbukaan terhadap berbagai informasi, perkembangan update, dan beragam hal teknologi lainnya juga sangat dibutuhkan untuk dapat menterjemahkan dan mengamaliahkan kemutlakkan Al-Quran di zaman yang semakin moderen ini, dimana sudah 1400 tahun lamanya dari awal Al-Quran diturunkan.

Dalam permasalahan ini yang bisa dilakukan manusia adalah mengumpulkan berbagai framing, pendapat, ilmu pengetahuan, teori-teori yang berkembang, agar penafsiran islam semakin holistik dan mendekati pada yang dimaksudkan Al-Quran itu sendiri. Yang terjadi terkadang manusia membuat framing tertentu mengenai islam lalu mengambil kesimpulan langsung dari hasil framingnya tersebut. Tidak jarang hasilnya tentu akan pincang.

Oleh karena itu, pendapat saya pribadi tidak ada orang yang benar-benar disebut sebagai Ahli Al-Quran. Yang ada adalah orang yang memahami sebagian dari keluasannya ilmu dalam Al-Quran. Mempotret dan memframing Al-Quran dari pendekatan yang dia gunakan. Entah dari aspek nilai dasar dalam Al-Quran, aspek fiqh, aspek kebahasaan, sejarah, dsb. Ia membutuhkan Ahli, Ilmuwan, dan berbagai perangkat lain untuk memahaminya. Untuk itu, penafsiran Al-Quran adalah tugas bersama umat islam. Bukan hanya tugas ulama atau tokoh agama tertentu saja.

Keluasan Al-Quran harus pula didukung oleh penafsiran dari berbagai sudut pandang, ilmu pengetahuan terkait, dan konteks yang memadai untuk menjadikannya bisa diaplikasikan dengan benar sesuai dengan nilai-nilai yang mutlak dan menjadi pemecahan masalah di masa moderen ini. Tidak bisa tentunya Al-Quran hanya dipahami dari satu sudut pandang saja, penafsiran satu orang saja yang tentunya selalu ada kelemahan.

Tentu saja menemukan kebenarannya, membutuhkan kesabaran, ketelitian, dan keterbukaan terhadap berbagai penafsiran, keahlian, dan ilmu pengetahuan satu orang dari yang lainnya. Asalkan duduk bersama, membuka akal masing-masing, maka Al-Quran bukan saja jadi petunjuk hidup, melainkan pencerahan yang terus menerangi hingga akhir zaman kelak.

Waulahuallam Bishawab.

[1] Harun Nasution, Teologi Islam

[2] Sejarah Muhammad, M. Husain Haikal

[3] https://id.wikipedia.org/wiki/Zoon_Politikon

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *