Belajar Bahasa Inggris Asik, Bersama BritZone

Belajar bahasa tak melulu harus serius. Buka kamus, belajar grammar, menghapal pola-pola kalimat, dan lain sebagainya, yang mungkin bisa membuat otak sedikit ribet. Belum memulai, otak sudah pusing duluan. Tetapi jangan salah. Berbeda dengan belajar bahasa inggris bersama BritZone.

BritZone adalah English Community, yang dibentuk tahun 2002. Biasanya BritZone mengambil tempat belajar di perpustakaan Kemendikbud, di daerah Senayan atau di berbagai tempat lainnya yang ditentukan oleh mereka. Instruktur atau Pembimbing belajar di BritZone adalah orang-orang dari berbagai background, yang ahli dalam bahasa Inggris dan juga memiliki pengalaman atau jam terbang yang banyak dalam berbahasa Inggris.

Anggota atau orang-orang yang bergabung di agenda-agenda BritZone juga berasal dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, karyawan yang juga beragam usia. Disana tidak mengenal hal tersebut, yang penting semangat belajar, dan mau mencoba untuk berbicara dengan kepercayaan diri yang tinggi. Tidak ada aturan baku disini. Just enjoy and fun to learning dan tentunya saling menghargai proses belajar masing-masing.

Kali Pertama di BritZone

Awalnya, saya mengetahui BritZone, dari teman saya. Dia mengajak saya untuk hadir. Kebetulan juga, tempat pertemuan BritZone kali ini adalah di daerah Buncit Raya, Kantor CNN.com yang dekat dengan kantor saya bekerja. Tanpa basa-basi, kita pun pergi kesana sepulang dari kantor. Topik yang akan dibahas kali ini adalah mengenai Academic Writing.

Sesampainya disana, rasa tidak percaya diri kemudian muncul. Seperti roaming, semua orang berdiskusi dan berbincang menggunakan bahasa inggris. Sudah lama juga tidak menggunakan bahasa inggris, pastinya kacau balau dan kaku. Tetapi teman-teman disana humble, instruktur hari itu pun juga menggunakan bahasa inggris yang mudah dicerna, dan enak untuk dipahami.

Buat peserta yang level bahasa inggrisnya masih biasa-biasa, ini sangat menolong dan membantu. Entah kenapa, saya pun jadi semangat sekali mengikuti forum hari itu. Aktif berdiskusi, berdialog dengan teman-teman yang lain. Tidak semua level-nya high, banyak juga yang masih pemula dan dasar sehingga kita bisa belajar bersama-sama.

photo_2016-12-21_14-15-56

Discuss and Sharing Everything With BritZone Members

Belajar Academic Writing

photo_2016-12-21_14-15-51

She is Ms. Bunga Use, Our Instructor. We Learned about Academic Writing.

Ms. Bunga adalah instruktur pertemuan hari itu (Selasa, 20 Desember 2016). Ia menjelaskan tentang apa itu academic writing dan bagaimana kita bisa membuatnya. Banyak yang berpikir saat itu bahwa Academic Writing apalagi dalam bahasa inggris pasti sulit dan beribet. Tetapi dengan metode diskusi, saling sharing antar person dan kelompok, saya jadi lebih memahami apa itu Academic Writing dan pembuatannya.

Kami dibagi ke dalam 3 kelompok. Masing-masing kelompok mencari apa saja jenis-jenis Academic Writing dan juga dasar pembuatannya. Kami pun mempresentasikan hasil diskusi kelompok dan saling mengomentari satu sama lain. Tugas kedua, setiap kelompok pun diminta untuk membuat 3 paragraf dari salah satu jenis academic writing. Dan kelompok saya, memilih pembuatan essay dengan topik yang mudah. Yaitu tentang Aktivitas di Britzone.

Topik yang mungkin awalnya terasa sulit, menjadi mudah dan terasa menyenangkan mempelajarinya.

photo_2016-12-21_14-15-49

It was My notes. It was delivered by me and my group to others members.

Helps and Encourgae You to Speak in English

photo_2016-12-21_14-15-38

Giving Information from BritZone Member (Santo).

Sesuai motivasi dari BritZone, An English Class and Community that helps and Encourages you to speak in English, di BritZone kita bisa melatih bahasa inggris kita dengan pembiasaan. Memang benar, suatu yang tidak dibiasakan pasti akan sulit dan akan lebih mudah jika terbiasa digunakan.

Pertemuan pertama di BritZone, saya pun merasa ada kepercayaan diri dan semangat untuk berbicara bahasa inggris lebih intens. Tidak perlu merasa takut salah atau ketinggalan jika belajar di BritZone. Lakukan, dan Lakukan saja. Teman-teman disana baik-baik, sehingga jikalau salah maka dibenarkan, dan santai…tidak perlu khawatir, karena prinsipnya belajar bersama. Tidak ada pembedaan level disini.

Pertama kali datang, saya pun ingin kembali belajar di sana. Apalagi di tengah masyarakat yang semakin global ini, bahasa inggris juga penting. Minimal untuk percakapan sehari-hari harus bisa. Selanjutnya jika ingin kembali kuliah, belajar berbagai literatur, tentunya sumber yang memadai tidak hanya dalam bahasa Indonesia tapi juga dari luar negeri, yang berbahasa Inggris.

(Hmmm, terpikir juga ingin sekali-kali menulis blog dalam bahasa Inggris. Oke, kumpulkan dulu motivasinya, lalu siap eksekusi dan siap banyak salah dan koreksi. Hehehe.)

Untuk itu, belajar bersama komunitas ini sangat recommended! Kegiatannya juga free, tanpa biaya apapun. Bahagia sekali bukan?

Untuk kegiatan di Britzone, Ada beberapa kelas yang diadakan.

  1. Comprehensive Learning Program (CLP), Setiap selasa, mulai puku 18.30-20.00
  2. Brtizone Speaking Academy, Setiap Rabu, mulai pukul 18.30-20.00
  3. Britzone Fun Day, Setiap Sabtu, mulai pukul 11.00-13.00

Karena tempat untuk forum Britzone berganti-ganti, maka yang berminat atau member dari BritZone harap stay tune terus di Instagram Britzone ya, karena informasi tempat, waktu, dan topik pembelajaran akan terus di update disana.

Oke, sekian Review dari saya…Bagi yang ingin bergabung, check di Instagram BritZone ya @brtizoneid atau buka web-nya di britzone.id ya. Semoga semakin semangat belajar Bahasa Inggris.

Continue Reading

Ibu, Nikmat Allah Sepanjang Hidup

Selamat Hari Ibu!

Ah, ucapan itu tak sebanding dengan apa yang telah aku dapatkan dari seorang ibu. Bukan hanya sekedar ucapan belaka tentunya yang diharapkan seorang ibu. Doa tulus ikhlas dan anaknya menjadi anak shaleh yang memberikan banyak manfaat untuk orang lain melebihi dari sekedar ucapan Hari Ibu tersebut. Entahlah, pastinya saya sendiri tidak dapat membalas jasa-jasanya. Ibu seperti tangan panjang dari segala nikmat yang Allah berikan.

Ibu saya orang biasa. Tapi kerja keras dan apa yang dia lakukan untuk anak-anaknya adalah luar biasa. Saya dan adik selalu berusaha mengikuti nasihat ibu, walaupun kadang kami sering sekali melawan dan menjawab apa yang ibu nasihatkan. Sudah besar, baru kami sadar bahwa tidak ada satupun apa yang ia sampaikan, yang kadang saya sebut sebagai omelan, adalah sia-sia.

Saya tak bisa membayangkan jika tanpa seorang ibu, seperti ibu saya, akankah saya bisa seperti sekarang ini? Bukan hanya sebagai ibu, ibu saya adalah guru pertama dan terakhir dalam hidup saya. Entah harus apa saya menyebutkannya, tetapi saya ingin menjadi seorang Ibu yang kelak seperti ibu saya, bahkan lebih baik lagi.

Ada 5 hal ini dari jutaan dan jasa-jasa ibu yang tak kan pernah terhitung. Inilah nikmah dan berkah dari Allah yang disampaikan-Nya melalui tangan Ibu untuk Saya.

Mengenal Agama dan Nilai Kehidupan

Sungguh beruntung diri saya. Inilah nikmat yang tidak akan pernah tergantikan oleh apapun. Sejak kecil ibu selalu mengenalkan agama dan nilai-nilai moral dalam diri saya. Walaupun dia bekerja, ia mengikutsertakan anaknya untuk ikut kegiatan TPA, memanggilkan guru ngaji ke rumah. Di sela-sela kesibukan bekerja ibu saya selalu mengajak untuk shalat berjamaah dan berdoa bersama.

Begitu kental hal tersebut ditanamkan ibu mulai saya kecil. Saya tidak dapat membayangkan andai sejak kecil ibu tidak pernah mengajarkan hal tersebut pada saya, entah jadi apakah saya? Begitupun ketika sebelum tidur, ibu selalu bercerita dan mengisahkan berbagai hal tentang Tuhan, Akhirat, Dosa dan Pahala, takut jika berbuat salah, dan lain sebagainya. Jika tidak sempat, ia membelikan saya berbagai buku dan juga mainan islami yang bisa saya gunakan bersama Adik.

Banyak saya dapatkan pengetahuan agama dari berbagai ustad atau guru lain, tapi tanpa adanya pendidikan dan dorongan pertama dari ibu, mungkin belum tentu secepat itu saya ingin mendalami agama dan menjalankannya dalam kehidupan.

Mengatur Kehidupan Rumah Tangga dan Anak-Anak

Sejak saya lahir, ibu saya adalah seorang wanita yang berkarir, bekerja di bagian keuangan sebuah perusahaan busana. Jarak rumah ke kantor menempuh hampir 2 jam, untungnya ada jemputan yang bisa menjemput di tempat terdekat. Pukul 07.00 ibu harus sudah berangkat, saya pun ditinggal bersama nenek dan tante. Menjelang magrib ibu sudah pulang.

Pagi-pagi sekali pukul 03.00 setelah tahajud ibu sudah bangun. Setelah tahajud ia biasanya langsung menyiapkan masakan untuk sarapan anak-anak dan bekal ke sekolah. Jam 06.00 pagi terkadang harus bersama-sama anak-anak mengantar ke sekolah dan juga berangkat bekerja.

Pulang di rumah, tak lantas santai-santai. Merapihkan rumah bersama anak-anak, mendengar cerita, curhatan, aduan anak-anaknya di sekolah dan teman-teman. Terkadang masih sempat juga untuk menyiapkan masakan besok pagi atau menyiapkan kebutuhan anak-anak besok.

Setiap hari itulah yang dilakukan. Kadang saat dulu masih kecil saya merasa kesal jika ibu banyak mengomel atau memarahi saya. Saat ini saya berpikir, wajarlah jika ibu mengeluh sedikit, betapa lelahnya apa yang ia kerjakan dan sungguh-sungguh menyiapkannya sendirian.

Ayah bekerja jauh, sehingga pulang hanya dua minggu sekali. Untuk itu, peran dan kerja keras ibu luar biasa dalam mengatur pekerjaannya, rumah tangga, dan anak-anak. Alhamdulillah walau dalam keadaan serba terbatas, saya dan adik tidak pernah melawan nasihat mendasar ibu, dan berusaha selalu dalam nasihat agama seperti yang selalu diajarkannya.

Belajar Multi Tasking dari Ibu

Ibu harus bekerja, membantu perekonomian keluarga tentunya agar lebih baik dan stabil. Selain bekerja kantoran, ibu juga melakukan usaha/bisnis sendiri. Pernah ibu berjualan Chickken Nugget, Sembako, menjadi agen Tupperware, berjualan bahan, dsb. Pulang bekerja ibu harus drop barang kemudian besoknya bisa dijual di kantor, tetangga, atau teman-teman lainnya.

Di hari libur ibu biasanya membuatkan masakan enak, membuat kue, atau kadang menerima pesanan juga. Saya sampai hari ini belum bisa memasak dan membuat kue enak seperti ibu buat. Betapa hebat ibu. Multi tasking dan seba bisa!

Menjadi Pendengar dan Selalu Membantu Orang Lain

Saya melihat ibu selalu menjadi sosok yang nyama bagi orang lain. Ia selalu menerima curhat dari berbagai orang dengan masalah yang berbeda. Ibu selalu mendengarkan orang lain dengan baik dan tidak pernah menjudge orang sembarangan. Di hadapan teman-teman ibu selalu menjadi orang yang berada di tengah dan menengahi kala situasi konflik terjadi.

Saya sering belajar hal tersebut dari ibu. Ibu mengajar saya untuk mendengar orang lain dan membantu sebisa yang bisa kita lakukan. Bantulah walau hanya bantuan yang terbatas. Kelak Allah akan mengganti bantuan itu dari jalan yang tidak terduga-duga. Well, itu adalah prinsip yang begitu kuat diajarkan ibu.

Ibu Mengembangkan Bakat Saya

Ibu saya selalu memperhatikan dan membaca bakat anak-anaknya. Sejak kecil ibu selalu berusaha untuk mengikutkan saya pada kegiatan-kegiatan untuk menunjang bakat saya. Sejak SD saya diikutkan untuk les Vocal, Renang, Aritmatika, Menari, bahkan didorong untuk ikut kegiatan di lingkungan sekitar. Begitupun adik saya, diikutkan club sepak bola, taekwondo, dan lainnya.

Sering saya menjuarai lomba-lomba, mengikut kejuaraan, festival dan lainnya di sekolah ataupun di luar sekolah karena dorongan ibu dan segala usaha ibu untuk saya. Saya sadari sekarang, biaya untuk mengikuti berbagai kegiatan tersebut tidaklah murah. Tapi ibu usahakan agar anak-anak berkembang bakatnya dan menjadi anak yang berguna. Tidak pernah saya sadari sebelumnya, bahkan apa yang saya pikirkan hari ini, apakah saya bisa melakukan hal yang sama seperti ibu, jika kelak saya memiliki anak?

Ya Allah, saya sadari bahwa kehadiran ibu adalah nikmah yang tidak tergantikan oleh apapun. Inilah nikmat yang tidak mungkin bisa saya hitung dan ganti jasa-jasa ibu.Ibu adalah tangan panjang dari rezeki yang Allah berikan untuk kehidupan saya.

Semoga Allah memberikan kekuatan untuk diri saya berbuat lebih baik lagi. Karena Saya tahu jasa-jasa ibu sudah mengalir dalam darah ini. Amal jariah ibu, ada di kebaikan dan amalan yang saya lakukan. Mungkin itu saja yang bisa saya lakukan untuk membalas semua jasanya yang tidak akan  pernah bisa terhitung.

“Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan Ibu Bapakku, sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku diwaktu kecil”.

bag-gypsofilia-seeds-1716747_960_720.jpg

 

Continue Reading

Mengapa Saya Menulis? Inilah Alasannya

Ada beberapa hal yang ingin saya geluti saat ini di luar pekerjaan utama, yaitu menulis. Sejak SD saya senang sekali menulis apapun di buku harian saya terutama mengenai pengalaman dan aktivitas yang sudah saya lewati. Jika dibaca ulang saat ini begitu lucunya, ingin tertawa sendiri, dan yang pasti tulisan anak kecil begitu polosnya.

Sejak SMP saya pernah mencoba membuat blog sendiri. Isinya hanya satu , dua tulisan lalu tidak pernah saya update kembali. Lain cerita ketika SMA. Hampir setiap minggu saya bisa upload tulisan dan pengalaman saya di blog. Senang sekali rasanya ketika blog itu banyak dihampiri dan terlebih bisa membagi pengalaman pribadi pada orang lain. Sayangnya, blog tersebut saya tulis di friendster.com yang saat itu sedang hits. Namun belum sempat saya migrasi data, friendster sudah menutup semua lamannya, dan akses blog saya jadi hilang semuanya.

Oke, tidak masalah. Let’s start to make new blog again.

Seiring berkembangnya waktu, saya pun mencari-cari dan mendalami tentang dunia tulis menulis di blog atau menjadi seorang blogger. Banyak sekali manfaatnya dan tentu saja menjadi kenikmatan tersendiri ketika tulisan tersebut di baca oleh banyak orang. Mudah-mudahan saja menjadi bermanfaat bagi si pembaca. Mungkin ini yang dikatakan bahwa menulis adalah mengukir keabadian. Andai sudah tidak ada di dunia ini, tulisan dan apa yang ada di pikiran kita masih eksis, entah ada di buku atau di blog yang kita buat.

Ada banyak hal yang bisa saya dapatkan ketika menulis di web-blog, baik blog pribadi atau berkontribusi di web orang lain. Yang saya pikir, tidak ada ruginya menulis itu, apalagi jika tulisan kita berniat baik dan mengandung manfaat untuk orang lain.

Nah, ini adalah hal-hal yang membuat saya semakin menikmati aktivitas menulis, khususnya menulis di blog atau berkontribusi di web portal komunitas atau lainnya. Tentunya ada banyak manfaat lainnya, tapi hal-hal ini yang saya highlight, karena sudah saya rasakan langsung.

Menambah Ilmu dan Membentuk Cara Berpikir

Menulis bukan hanya menuangkan kata dan merangkainya menjadi kalimat. Untuk bisa membuatnya menjadi sebuah tulisan yang baik tentu saja membutuhkan pengetahuan dan cara berpikir. Banyak orang-orang yang bilang bahwa menulis mengalir saja. Menurut saya, mengalir pun membutuhkan pengetahuan, pengalaman, dan berpikir yang baik. Jika tidak, pasti tulisan kita entah kemana mengalirnya.

Walaupun tulisan saya belum berkualitas, dengan menulis saya menjadi sering untuk membaca lebih banyak, mencari inspirasi baru, belajar hal-hal baru yang kemudia membentuk juga cara berpikir saya lebih sistematis, open mind, dan terus menerus untuk menguji kualitas pemikiran. Hal ini tentu saja akan bisa dirasakan seiring waktu berjalan dan semakin kita sering menulis.

Tidak perlu takut juga merasa tulisan tidak berkualitas. Toh selalu ada ruang untuk perbaikan. Tidak perlu takut juga tema-nya tidak sesuai dengan kesukaan orang lain, toh semua orang punya kesukaan atau minat yang berbeda-beda. Selagi pengetahuan tersebut diaplikasikan, ada hikmah dan orientasi untuk kebaikan, maka tidak perlu khawatir menjadi mubazir.

Yeah, it’s note to my self.

Menebar Manfaat dan Kebaikan

Semakin banyak tulisan yang kita bagikan maka semakin banyak manfaat yang kita sebar. Tentu saja tulisan yang mengandung kebaikan dan beretika. Setidaknya, walaupun belum dan tidak semua orang menerima manfaatnya, tulisan itu akan menjadi kebaikan bagi diri kita sendiri.

Untuk itu, saya selalu berusaha mencari topik-topik apa yang bisa membuahkan hikmah dan manfaat. Walaupun sulit untuk menjadi tulisan berbobot dan berkualitas, berlatih dan mencari pengalaman tentunya hal yang harus dilakukan untuk bisa menjadi penulis handal. Apalagi di era digital seperti sekarang ini. Menebar keburukan saja bisa secepat kilat, seharusnya menebar kebaikan pun juga bisa dong.

Tulisan pertama saya yang di muat di web portal adalah yang berjudul, Begini Cara Perhatian pada Anak Walaupun Ibu Bekerja. Tulisan ini dimuat di website ummi-online saat saya coba-coba menulis dan sedang tertarik dengan dunia anak dan parenting (walaupun saya belum menjadi orang tua, saat itu saya banyak berhadapan dengan dunia anak dan pelajar, jadi seperti orang tua mereka sendiri). Terasa sangat bahagia ketika dilihat kembali sudah 11.221 yang membaca dan 1550 share di Facebook. Nah, ini rasa kebermaknaan menulis yang tidak bisa digantikan oleh apapun.

Saya pun melihat bahwa tulisan-tulisan kemanusiaan (feature) yang ada di website seperti kitabisa.com, website milik LAZNAS seperti Dompet Dhuafa, Aksi Cepat Tanggap (ACT), dan lain sebagainya bisa mengguggah dan menggerakkan orang. Saya berpikir bahwa beragam feature yang dibuat oleh mereka, dapat menarik simpati publik dan juga meraih pendanaan untuk program-program sosial kemanusiaan mereka. Coba bayangkan, berapa banyak kebaikan pula yang akan si penulis raih dari hasil tulisannya tersebut?

Untuk itulah, menulis dapat menebar manfaat dan kebaikan. Menjadi seperti itu, tentu saja saya masih belum handal. Lagi-lagi, it’s still process.

Membangun Networking dan Personal Branding

Tahun 2016 ini saya belajar tentang dunia blogger. Menulis di blog ternyata dapat membangun 2 hal yaitu networking dan personal branding. Networking ini karena kita bisa bertemu dengan para blogger lainnya lewat berbagai komunitas blog yang ada. Lebih asik lagi jika mereka memiliki niche yang sama dengan kita. Bertambah ilmu sudah pasti, bertemu orang baru yang lebih berpengalaman dengan kita itu poin plusnya.

Selain itu, personal branding juga bisa terbentuk dari niche di blog yang kita bangun. Walau kadang masih acak-acakan yang saya tulis di blog, tapi setidaknya dari tips blogging yang saya dapatkan, saya tahu bahwa idealnya blog kita memiliki niche yang spesifik dan konsisten. Untuk membangun personal dan blog branding kita tentu membutuhkan hal tersebut.

Nah ini yang kadang masih menjadi dilema saya. Terkadang menulis untuk berkontribusi di web portal milik yang lain lebih sering daripada menulis di blog sendiri. Hasilnya terkadang blog saya agak krik-krik berbulan-bulan.

Ada poin plus dan minus tentunya ketika menulis di blog sendiri atau menulis di web milik orang lain. Menulis di web orang lain biasanya tulisan kita langsung di baca oleh banyak orang, tapi jarang diingat siapa penulisnya. Jika di blog sendiri, akan mudah diingat siapa kita, dan bisa membangun brand di blog sendiri. Tetapi bagi saya yang belum banyak memiliki follower dan belum dikenal, tentu bisa sepi pengunjung.

Untuk itu, strateginya adalah menulis dan mempromosikan blog pribadi di web portal yang sudah dikenal. Mungkin istilahnya, berkontribusi sambil numpang promosi. He he he.

Menambah Penghasilan

Ini manfaat yang terkahir. Bagi blogger yang handal, menulis di blog sudah bisa menjadi lumbung penghasilan tersendiri. Bagi saya pribadi, menulis di blog belum bisa menjadi penghasilan utama, untuk itu hanya sekedar menambah penghasilan dan poin plus dari sekian manfaat lain yang sudah saya sebutkan di atas.

Salah satu contohnya, saya pernah merasakan nonton film favorit di bioskop ruangan kelas1. Kalau bukan karena hadiah dari kontribusi menulis saya di blog ruangguru.com, seumur hidup saya tidak akan pernah nonton di tempat yang harganya bisa 300 ribu lebih. Tapi namanya rezeki, ya disyukuri dan dinikmati. (Tulisannya bisa di lihat di sini)

Selain itu, ada juga beberapa tulisan yang menjadi tambahan penghasilan saya. Ya itung-itung untuk beli beras J sebulan. Yang ditayangkan di web dalamislam.com. Tulisannya simple dan masih mengutip dari berbagai sumber, tapi cukup membantu saya untuk mendalami dan mendapatkan pengetahuan islam yang kebetulan menjadi keminatan saya pribadi. Poin plusnya ada tambahan uang jajan buat sehari-hari, walaupun tidak besar.

Baiklah, itu semua pengalaman saya tentang manfaat menulis yang bisa saya rasakan. How about you? Let’s begin to write!

Continue Reading