Mengapa Saya Menulis? Inilah Alasannya

Ada beberapa hal yang ingin saya geluti saat ini di luar pekerjaan utama, yaitu menulis. Sejak SD saya senang sekali menulis apapun di buku harian saya terutama mengenai pengalaman dan aktivitas yang sudah saya lewati. Jika dibaca ulang saat ini begitu lucunya, ingin tertawa sendiri, dan yang pasti tulisan anak kecil begitu polosnya.

Sejak SMP saya pernah mencoba membuat blog sendiri. Isinya hanya satu , dua tulisan lalu tidak pernah saya update kembali. Lain cerita ketika SMA. Hampir setiap minggu saya bisa upload tulisan dan pengalaman saya di blog. Senang sekali rasanya ketika blog itu banyak dihampiri dan terlebih bisa membagi pengalaman pribadi pada orang lain. Sayangnya, blog tersebut saya tulis di friendster.com yang saat itu sedang hits. Namun belum sempat saya migrasi data, friendster sudah menutup semua lamannya, dan akses blog saya jadi hilang semuanya.

Oke, tidak masalah. Let’s start to make new blog again.

Seiring berkembangnya waktu, saya pun mencari-cari dan mendalami tentang dunia tulis menulis di blog atau menjadi seorang blogger. Banyak sekali manfaatnya dan tentu saja menjadi kenikmatan tersendiri ketika tulisan tersebut di baca oleh banyak orang. Mudah-mudahan saja menjadi bermanfaat bagi si pembaca. Mungkin ini yang dikatakan bahwa menulis adalah mengukir keabadian. Andai sudah tidak ada di dunia ini, tulisan dan apa yang ada di pikiran kita masih eksis, entah ada di buku atau di blog yang kita buat.

Ada banyak hal yang bisa saya dapatkan ketika menulis di web-blog, baik blog pribadi atau berkontribusi di web orang lain. Yang saya pikir, tidak ada ruginya menulis itu, apalagi jika tulisan kita berniat baik dan mengandung manfaat untuk orang lain.

Nah, ini adalah hal-hal yang membuat saya semakin menikmati aktivitas menulis, khususnya menulis di blog atau berkontribusi di web portal komunitas atau lainnya. Tentunya ada banyak manfaat lainnya, tapi hal-hal ini yang saya highlight, karena sudah saya rasakan langsung.

Menambah Ilmu dan Membentuk Cara Berpikir

Menulis bukan hanya menuangkan kata dan merangkainya menjadi kalimat. Untuk bisa membuatnya menjadi sebuah tulisan yang baik tentu saja membutuhkan pengetahuan dan cara berpikir. Banyak orang-orang yang bilang bahwa menulis mengalir saja. Menurut saya, mengalir pun membutuhkan pengetahuan, pengalaman, dan berpikir yang baik. Jika tidak, pasti tulisan kita entah kemana mengalirnya.

Walaupun tulisan saya belum berkualitas, dengan menulis saya menjadi sering untuk membaca lebih banyak, mencari inspirasi baru, belajar hal-hal baru yang kemudia membentuk juga cara berpikir saya lebih sistematis, open mind, dan terus menerus untuk menguji kualitas pemikiran. Hal ini tentu saja akan bisa dirasakan seiring waktu berjalan dan semakin kita sering menulis.

Tidak perlu takut juga merasa tulisan tidak berkualitas. Toh selalu ada ruang untuk perbaikan. Tidak perlu takut juga tema-nya tidak sesuai dengan kesukaan orang lain, toh semua orang punya kesukaan atau minat yang berbeda-beda. Selagi pengetahuan tersebut diaplikasikan, ada hikmah dan orientasi untuk kebaikan, maka tidak perlu khawatir menjadi mubazir.

Yeah, it’s note to my self.

Menebar Manfaat dan Kebaikan

Semakin banyak tulisan yang kita bagikan maka semakin banyak manfaat yang kita sebar. Tentu saja tulisan yang mengandung kebaikan dan beretika. Setidaknya, walaupun belum dan tidak semua orang menerima manfaatnya, tulisan itu akan menjadi kebaikan bagi diri kita sendiri.

Untuk itu, saya selalu berusaha mencari topik-topik apa yang bisa membuahkan hikmah dan manfaat. Walaupun sulit untuk menjadi tulisan berbobot dan berkualitas, berlatih dan mencari pengalaman tentunya hal yang harus dilakukan untuk bisa menjadi penulis handal. Apalagi di era digital seperti sekarang ini. Menebar keburukan saja bisa secepat kilat, seharusnya menebar kebaikan pun juga bisa dong.

Tulisan pertama saya yang di muat di web portal adalah yang berjudul, Begini Cara Perhatian pada Anak Walaupun Ibu Bekerja. Tulisan ini dimuat di website ummi-online saat saya coba-coba menulis dan sedang tertarik dengan dunia anak dan parenting (walaupun saya belum menjadi orang tua, saat itu saya banyak berhadapan dengan dunia anak dan pelajar, jadi seperti orang tua mereka sendiri). Terasa sangat bahagia ketika dilihat kembali sudah 11.221 yang membaca dan 1550 share di Facebook. Nah, ini rasa kebermaknaan menulis yang tidak bisa digantikan oleh apapun.

Saya pun melihat bahwa tulisan-tulisan kemanusiaan (feature) yang ada di website seperti kitabisa.com, website milik LAZNAS seperti Dompet Dhuafa, Aksi Cepat Tanggap (ACT), dan lain sebagainya bisa mengguggah dan menggerakkan orang. Saya berpikir bahwa beragam feature yang dibuat oleh mereka, dapat menarik simpati publik dan juga meraih pendanaan untuk program-program sosial kemanusiaan mereka. Coba bayangkan, berapa banyak kebaikan pula yang akan si penulis raih dari hasil tulisannya tersebut?

Untuk itulah, menulis dapat menebar manfaat dan kebaikan. Menjadi seperti itu, tentu saja saya masih belum handal. Lagi-lagi, it’s still process.

Membangun Networking dan Personal Branding

Tahun 2016 ini saya belajar tentang dunia blogger. Menulis di blog ternyata dapat membangun 2 hal yaitu networking dan personal branding. Networking ini karena kita bisa bertemu dengan para blogger lainnya lewat berbagai komunitas blog yang ada. Lebih asik lagi jika mereka memiliki niche yang sama dengan kita. Bertambah ilmu sudah pasti, bertemu orang baru yang lebih berpengalaman dengan kita itu poin plusnya.

Selain itu, personal branding juga bisa terbentuk dari niche di blog yang kita bangun. Walau kadang masih acak-acakan yang saya tulis di blog, tapi setidaknya dari tips blogging yang saya dapatkan, saya tahu bahwa idealnya blog kita memiliki niche yang spesifik dan konsisten. Untuk membangun personal dan blog branding kita tentu membutuhkan hal tersebut.

Nah ini yang kadang masih menjadi dilema saya. Terkadang menulis untuk berkontribusi di web portal milik yang lain lebih sering daripada menulis di blog sendiri. Hasilnya terkadang blog saya agak krik-krik berbulan-bulan.

Ada poin plus dan minus tentunya ketika menulis di blog sendiri atau menulis di web milik orang lain. Menulis di web orang lain biasanya tulisan kita langsung di baca oleh banyak orang, tapi jarang diingat siapa penulisnya. Jika di blog sendiri, akan mudah diingat siapa kita, dan bisa membangun brand di blog sendiri. Tetapi bagi saya yang belum banyak memiliki follower dan belum dikenal, tentu bisa sepi pengunjung.

Untuk itu, strateginya adalah menulis dan mempromosikan blog pribadi di web portal yang sudah dikenal. Mungkin istilahnya, berkontribusi sambil numpang promosi. He he he.

Menambah Penghasilan

Ini manfaat yang terkahir. Bagi blogger yang handal, menulis di blog sudah bisa menjadi lumbung penghasilan tersendiri. Bagi saya pribadi, menulis di blog belum bisa menjadi penghasilan utama, untuk itu hanya sekedar menambah penghasilan dan poin plus dari sekian manfaat lain yang sudah saya sebutkan di atas.

Salah satu contohnya, saya pernah merasakan nonton film favorit di bioskop ruangan kelas1. Kalau bukan karena hadiah dari kontribusi menulis saya di blog ruangguru.com, seumur hidup saya tidak akan pernah nonton di tempat yang harganya bisa 300 ribu lebih. Tapi namanya rezeki, ya disyukuri dan dinikmati. (Tulisannya bisa di lihat di sini)

Selain itu, ada juga beberapa tulisan yang menjadi tambahan penghasilan saya. Ya itung-itung untuk beli beras J sebulan. Yang ditayangkan di web dalamislam.com. Tulisannya simple dan masih mengutip dari berbagai sumber, tapi cukup membantu saya untuk mendalami dan mendapatkan pengetahuan islam yang kebetulan menjadi keminatan saya pribadi. Poin plusnya ada tambahan uang jajan buat sehari-hari, walaupun tidak besar.

Baiklah, itu semua pengalaman saya tentang manfaat menulis yang bisa saya rasakan. How about you? Let’s begin to write!

You may also like

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *