Seperti OASE di Tengah Gurun Pasir

Pernah merasa tidak bermakna?

Ibarat ada di padang pasir, rasanya seperti kekeringan. Nah bedanya kekeringan dalam hal ini adalah ketika ruhiah (rohani/spiritual/jiwa) kita sedang mengalami penurunan. Namanya hati manusia, pasti ada waktunya untuk di atas, kadang juga ada di bawah. Saat seperti ini mungkin ruhiah kita sedang tak terjaga, butuh asupan, dan pastinya ibarat baterai butuh di charge.

Tentunya yang baik adalah seperti kita makan. Sebagaimana hadist Rasulullah SAW “Makanlah sebelum lapar, berhentilah sebelum kenyang”. Jika saya amati keseharian hidup, makan di waktu saat benar-benar terasa lapar membuat makan menjadi kelewat batas, juga jika terlambat menimbulkan sakit di lambung. Berhenti sebelum kenyang artinya jangan sampai kita makan terlewat batas, hingga rakus atau benar-benar berlebihan.

Begitupun dengan menjaga ruhiah. Pengalaman pribadi saya, mengisi ruhiah ketika dalam kondisi benar-benar down rasanya butuh waktu yang agak panjang untuk bangkit lagi. Sepertinya saya ini harus belajar untuk mengisi ruhiah, mencharge diri saya setiap saat sebelum benar-benar jatuh sampai susah bangun-nya.

Mungkin itu mengapa Allah memberikan perintah shalat 5 waktu untuk umat muslim. Ibaratnya seperti men-charge diri kita,  mengisi ruhiah kita 5 kali dalam sehari untuk tetap ingat pada Allah, pada aturan-Nya, aturan kehidupan-Nya, yang sering kali kita lalaikan jika sudah terbentur masalah-masalah duniawi. Tapi terkadang, shalat saja kurang khusuk, teringat masalah yang lain, yang membuat akhirnya shalat pun juga belum sempurna.

Untuk itu mengisi ruhiah butuh tambahan yang lain. Saya tidak bisa membayangkan kalau hidup ini tanpa terisi dengan nilai-nilai islam, ketundukan pada hukum Tuhan, mungkin hidup ini benar-benar kosong tanpa makna dan arah. Apalagi setan-setan di sekeliling selalu menggoda.

Jujur saja, kesibukan bekerja, memikirkan hal-hal duniawi tak selalu menyenangkan. Ada kalanya di titilk bosan, jenuh, lalu bertanya buat apa sih sebetulnya saya melakukan semua ini? Bila sudah pada titik tersebut itu artinya harus segera berhenti dan segera kembali mengisi diri dengan energi yang positif.

Nah, ada yang ingin saya lakukan secara konsisten. It’s pure a note to self, walaupun belum istiqomah melaksanakananya tapi coba saya sharing. Semoga saja bermanfaat.

Soal Membaca Al-Quran

img_4394

Membaca terjemahan Al-Quran, berasa lebih bermakna

Saya pribadi memiliki pandangan, bahwa Al-Quran itu hanya akan dipahami jika kita membacanya dengan benar. Ayat-ayat Al-Quran tentu diturunkan Allah untuk memberikan peringatan, petunjuk, dan pencerahan untuk manusia. Untuk itulah kita akan bisa memahaminya jikalah bisa membacanya.

Bagi yang bisa dan mengerti bahasa arab mungkin akan bisa memahami dengan membaca Al-Quran tanpa terjemahan. Akan tetapi bagi yang tidak paham bahasa Arab, tentu saja harus membaca terjemahannya. Akan tetapi bukan berarti, tidak perlu mempelajari ilmu Al-Quran dari aspek ilmu bahasa dan ilmu tajwidnya. Tetapi, memahami dan mengamalkan isinya juga penting.

Saya pribadi berusaha mendekat dengan Al-Quran dengan mencoba untuk memahaminya. Beberapa teman mengatakan bahwa, membaca Al-Quran itu sulit harus dipahami dengan tafsir dan tidak boleh untuk dipahami sendiri jika tidak ahli. Jangan asal membaca nanti salah paham dan salah kaprah.

Mungkin benar kalau salah pemahaman bisa salah kaprah. Tapi Allah turunkan Al-Quran sebagai petunjuk. Jangan sampai semangat mendekat dan menjadikan Al-Quran sebagai petunjuk malah hilang hanya gara-gara takut salah memahaminya.

Baca saja tidak masalah bukan? Kalaupun ada yang tidak kita pahami dan butuh penjelasan lebih dalam kita bisa bertanya pada ahlinya (para alim ulama yang lebih mumpuni ilmunya) atau membaca referensi terkait.

Saya pribadi masih merasa kurang jika terbatas hanya membaca dengan bahasa Arab-nya saja, maka pasti saya membutuhkan untuk membaca artinya. Rasanya seperti langsung ditegur, diperingatkan, diberikan informasi yang langsung bisa saya abstraksikan kedalam kehidupan. Ya, walaupun ada beberapa hal pastinya yang tidak dipahami dengan mudah, tentu butuh mempelajarinya, mencatat hal-hal tersebut lalu bertanya pada ahlinya.

Baca Quran di Gadget

Jujur saja, hampir tiap menit saya membuka sosial media! Hehehe.

Saya jadi berpikir. Kalau bisa membuka sosial media secara update, harusnya membaca Al-Quran pun bisa juga sering-sering untuk update. Saat ini tentu sangat mudah jika hendak membacanya kapanpun dan dimanapun. Adanya smarphone dan menginstall AL-Quran digital di dalamnya sudah selesai lah masalah keribetan.

Rasanya ingin sekali lebih dekat dengan Al-Quran. Untuk itu, saya juga mencoba membiasakan diri membaca arti atau terjemahan Al-Quran setiap kali sudah shalat. Kalaupun masih tidak sempat, mungkin bisa menyempatkan sebelum tidur.

Kebetulan, saya sendiri menginstall aplikasi Muslim Pro di smartphone. Setiap pukul setengah 10 malam, biasanya ada notifikasi dari Muslim pro agar saya membaca satu ayat yang dikirimkan. Ayat tersebut random, tapi entah mengapa, mungkin itu ayat-ayat pilihan, rasanya seperti selalu pas saja dengan kondisi diri. Baca satu ayat kadang kurang, bisa lanjut membaca ayat yang lainnya.

5 menit saja membaca beberapa ayat, setidaknya menjadi reminder buat saya pribadi. Di tengah kesibukan dan padatnya aktifitas, membaca ayat Al-Quran yang bisa kita pahami artinya seperti OASE di tengah guru pasir.

Apa hal yang sulit dari aktivitas ini?

Niat, Kebulatan Tekad, dan Konsistensi. Itu penghalangnya. Tapi, walaupun awalnya sulit ini jauh lebih baik ketimbang kekeringan lalu sulit lagi untuk bangkit.

How about you? Apa yang kalian lakukan untuk mencharge diri? Yuk Sharing!

You may also like

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *