Membangun Jakarta dengan Jakarta Smart City

Namanya hidup di perkotaan sudah pasti banyak masalah yang akan kita hadapi sehari-hari. Mulai dari kemacetan, lamanya antrian mengurus administrasi, perkelahian, parkir liar, dan 1001 macam masalah lainnya yang tidak berhenti kita hadapi.

Sebagai seorang perantau di Jakarta, saya sendiri hampir setiap hari menemukan masalah-masalah baru yang ada di Jakarta. Masalah tersebut sepele, kecil, namun jika dibiarkan tentu efeknya tidak sepele.

Contoh saja, di sebuah jalanan kecil dan macet tiba-tiba ditemukan mobil parkir dengan seenaknya. Padahal jalan tersebut hanya cukup untuk 2 jalur saja bulak balik, namun entah mengapa mobil tersebut malah seenaknya parkir di jalan yang sempit. Akhirnya ketika tidak ada penyelesaian, rawan terjadi konflik dan perkelahian, yang membuat jalanan semakin macet.

Belum lagi ketika melihat menumpuknya sampah atau bahkan ada kecelakaan atau lubang di jalan yang tidak terselesaikan. Pertanyaannya, apakah pemerintah setempat mengetahui? Apakah sudah ada penyelesaian dengan cepat dan tanggap?

Jika belum, kota tersebut belumlah menjadi kota yang disebut dengan SMART City.

Apa itu SMART City?

Smart City adalah istilah yang sering kita dengar sehari-hari. Bahkan, Smart City ini juga sering dijanjikan oleh para calon gubernur atau walikota yang hendak mengelola kota tersebut. Terutama kota-kota besar, termasuk di Ibukota.

Menurut Ahmad Nurman, dalam bukunya berjudul Manajemen Perkotaan, Smart City memiliki 3 hal yang harus diperhatikan dan dijalankan.

  1. Faktor Manusia, yaitu manusia yang kreatif dalam pekerjaan, jejaring pengetahuan, lingkungan yang bebas dari kriminalitas
  2. Faktor Teknologi, yaitu kota yang berbasis kepada teknologi komunikasi dan informasi
  3. Faktor Kelembagaan, masyarakat kota (pemerintah, kalangan bisnis dan penduduk) yang memahami teknologi informasi dan membuat keputusan berdasarkan pada teknologi informasi

Selain itu, salah satu pakar smart city, Boyd Cohen, mendefinisikan SMART City dengan adanya 6 Indikator. Indikator tersebut adalah :

  1. Smart Living yang mengacu pada kualitas hidup masyarakat serta terpenuhinya kebutuhan kemanan, keselamatan, kemudahan, dan kenyamanan hidup
  2. Smart Mobility, yaitu pemenuhan kebutuhan dengan pergerakan seminim mungkin, dan secepat mungkin
  3. Smart Governance, yaitu pemerintah yang mengerluarkan kebijakan dengan mengindahkan prinsip-prinisp hukum, akuntabilitas, transparansi, demokrasi, efektifitas dan efisiensi kebijakan.
  4. Smart Economy yang mengacu pada tingginya tingkat ekonomi dan kesejahteraan masyarakat dengan pertumbuhan ekonomi dan pendapatan yang tinggi
  5. Smart Environment, yaitu lingkungan yang memberikan kenyamanan saat ini dan saat mendatang secara berkelanjutan baik aspek fisik maupun non fisik
  6. Smart People yaitu modal manusia yang baik, dengan pendidikan yang baik secara formal ataupun informal. Hal ini terwujud dalam bentuk individu atau komunitas yang baik.

Jika dilihat dari penjelasan tersebut, Smart City adalah suatu sistem yang mendukung kehidupan manusia dalam masyarakat agar tercapai keseluruhan kebutuhan hidupnya dengan cepat, tepat, dan mampu mengatasi setiap masalah dengan tekknologi yang handal.

Di zaman ini, tentu saja Smart City tidak akan pernah terwujud jika sistem informasi dan tekonologi yang digunakan tidak diperbaharui dan dibuat semakin inovatif. Tentu saja akan menjadi sia-sia, dan Smart City Indonesia hanyalah impian belaka.

Smart City, dengan Jakarta Smart City

Salah satu Kota di Indonesia yang mulai menerapkan Smart City dengan Pemanfaatan Teknologi dan Informasi adalah Jakarta. Jakarta, memiliki aplikasi online bernama Jakarta Smart City. Tentu saja hal ini menjadi kebanggan tersendiri untuk mengembangkan Smart City Indonesia.

Aplikasi ini berfungsi bagi masyarakat melaporkan berbagai hal yang perlu ditindaklanjuti dan diselesaikan secepatnya secara real time. Warga Jakarta bisa melaporkan dengan bentuk teks dan foto di tempat kejadian, beserta informasi lokasi yang akurat melalui map.

Aplikasi Jakarta Smart City yang sedang dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta

Sistem kerja Jakarta Smart City menggunakan aplikasi sejenis sosial media yaitu Qlue. Qlue dapat digunakan juga melalui smartphone yang berbasis Android.

Penggunaan Jakarta Smart City sangat mudah.

Untuk menggunakan Qlue Jakarta Smart City ini, pengguna perlu untuk registrasi dan melakukan login di aplikasi Qlue. Hal ini dilakukan untuk bisa melaporkan kejadian. Jika hanya untuk melihat berbagia masalah dan kejadian, tidak perlu login atau registrasi pun masih bisa.

Dengan menggunakan Qlue, warga Jakarta dapat menginformasikan dan melaporkan semua masalah yang terjadi di Jakarta, seperti rusaknya jalanan, parkir liar, kemacetan, rambu lalu lintas yang rusak, masalah sampah, dan lain sebagainya.

Jenis-Jenis Masalah yang Dapat Dilaporkan Warga melalui Qlue-Jakarta Smart City

Gambar di bawah adalah contoh permasalahan di Ibu kota, yaitu kemacetan. Berikut adalah laporan berupa foto kemacetan di wilayah tanah abang dan saat itu belum ada penyelesaian dari aparat setempat. Padahal jalan sudah macet total dan kendaraan tidak bisa bergerak.

Berbagai Jenis Masalah dapat Dilaporkan melalui Aplikasi Jakarta Smart City, dengan menggunakan Media Sosial bernama Qlue

Untuk bisa merespon hal-hal tersebut, Pemprov DKI bersama dengan seluruh aparatnya hingga ke kelurahan menginstall aplikasi bernama CROP yang berfungsung untuk memetakan dan merespon masalah-masalah tersebut. Untuk aplikasi CROP tentu hanya bisa diakses oleh aparat atau pemangku jabatan tertentu di lingkup Pemprov DKI Jakarta.

Dengan adanya aplikasi Jakarta Smart City ini, tentu saja memudahkan warga Jakarta untuk melaporkan dan meminta tindak lanjut atas masalah yang terjadi di ibukota. Selain itu, warga Jakarta juga bisa mendapatkan informasi lengkap update permasalahan yang terjadi, sehingga bisa mengantisipasi sebelum menuju ke lokasi setempat.

Dari testimoni yang ada, tentunya sistem ini belum sempurna. Terkadang masih ada juga kendala penindak lanjutan yang masih lambat atau admin yang tidak selalu Online. Namun, ini adalah satu langkah solutif untuk membangun Smart City di Indonesia.

Membangun Smart City yang Lebih Inovatif dan Solutif

Jakarta Smart City tentu saja adalah inovasi yang baik untuk perkembangan ibukota. Apalagi, ibu kota adalah central dari segala informasi dan kemajuan di Indonesia. Untuk itu, kemajuan dan inovasi teknologinya akan menjadi contoh bagi daerah lainnya.

Tentu saja walaupun Jakarta Smart City sudah terbentuk, masih ada catatan dan berbagai hal yang harus diperbaiki dan butuh inovasi untuk menjadikannya lebih baik lagi.

Saya pribadi, sebagai orang yang hidup dan bekerja di Jakarta memiliki berarapa ide dan masukan agar Jakarta Smart City ini bisa bekerja lebih baik lagi. Tentu saja ide dan masukan ini bersifat kasar dan penerapan implementasinya masih perlu digali lebih mendalam.

  1. Memberikan Poin Reward Pada Subjek Pelapor

Subjek pelapor atau yang memberikan laporan pada aplikasi Qlue – Jakarta Smart City tentu saja adalah orang-orang yang peduli terhadap masalah yang terjadi. Untuk itu, orang-orang seperti ini (tentu saja dengan pelaporan yang baik, beretika, tidak menghina-hina) perlu diapresiasi dan diberikan dorongan lebih agar banyak juga yang mau melaporkan masalah-masalah di Jakarta.

Lebih mudahnya kita memberikan reward untuk subjek pelapor sebagai bentuk apresiasi terhadap mereka. Misalnya saja kita memberikan kredit poin setiap laporan yang benar-benar merupakan suatu masalah bukan hanya keluhan biasa saja.

Kredit poin tersebut jika dikumpulkan bisa ditukarkan untuk mendapatkan rewardnya. Misalnya saja voucher sponsor, marchindise dari Jakarta, atau misalnya gratis masuk untuk jalan-jalan ke destinasi wisata di Jakarta.

Manusia tidak akan bergerak tanpa adanya motivasi dan dorongan. Untuk itu, motivasi dan dorongan bisa dipancing dengan adanya hal tersebut. Kredit poin dan reward adalah bagian dari penghargaan yang bisa memotivasi dan mengkondisikan orang-orang untuk peduli terhadap kotanya.

  1. Masyarakat Bisa Ikut Terlibat dan Mendapatkan Reward

Jika dilihat dari aplikasi yang sudah ada, masyarakat Jakarta belum banyak dilibatkan dalam penyelesaian masalah ini. Masyarakat menjadi masayrakat yang suka melapor tetapi masyarakat belum didorong untuk menjadi masyarakat yang juga beraksi dan berbuat.

Untuk itu, Jakarta Smart City juga harus mendorong agar masyarakatnya mau berbuat sesuatu untuk turut menyelesaikan masalah yang ada di kotanya. Tentunya ada masalah-masalah di Jakarta yang bisa diselesaikan oleh warga sendiri, tanpa harus menunggu aparat. Misalnya saja, membersihkan selokan, membersihkan sampah menumpuk, atau mungkin ada yang mau berbaik hati untuk membenarkan taman kota yang rusak, dsb.

Pemprov DKI bisa melibatkan warga yang peduli dan juga komunitas setempat untuk turut serta menyelesaikan masalah tersebut. Tentu sajam agar terkontrol dan tidak melanggar aturan yang ada, tetap ada solusi dan kontrol yang dilakukan pemprov setempat.

Sebagaimana subjek yang melaporkan, subjek atau komunitas yang turut serta menyelesaikan masalah ini juga harus diberikan apresiasi. Kredit poin dan penghargaan harus ada untuk bisa mendorong warga mau berbuat untuk Jakarta. Jika tidak, maka budaya dan sistem ini tidak akan hidup.

  1. Sosilasiasi dan Informasi yang Lebih Meluas Melalui Berbagai Kanal Media

Menurut pendapat saya pribadi, aplikasi ini belum banyak diketahui oleh warga Jakarta secara meluas. Banyak warga Jakarta yang masih belum memiliki awareness terhadap sistem informasi ini.

Untuk itu, pemerintah bisa lebih mensosialisasikannya secara meluas, terutama bagi generasi-generasi muda dan milenial, karena merekalah pengguna internet terbesar di Indonesia adalah generasi tersebut.

Selain itu, bisa juga ditambahkan berbagai informasi lain yang menarik minat warga Jakarta sehingga mereka tertarik untuk membuka aplikasi Jakarta Smart City. Dengan begitu, warga Jakarta akan terbiasa untuk membuka aplikasi dan menggunakan-nya dalam keseharian.

Hal ini misalnya saja : Event atau kegiatan menarik di Jakarta, Info Kuliner dan Oleh-oleh khas Jakarta, Info pedagang kaki lima di Jakarta, atau hal-hal informatif lainnya. Hal ini tentu akan menarik minat warga Jakarta atau pendatang untuk terus membuka aplikasi dan mengikuti segala perkembangannya.

Smart City bukan hanya persoalan pemerintah, melainkan kolaborasi dengan masyarakat dan komunitas yang juga berkembang di dalamnya. Smart City juga bukan tugas satu atau dua tahun, melainkan proses berkesinambungan yang membutuhkan inovasi dalam mengembangkannya.

Semoga Smart City di Jakarta semakin baik, dan menjadi cikal bakal Smart City Indonesia.

You may also like

9 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *