Benarkah Muslimah Itu Lemah?

Ada beberapa hal yang sering saya dengar tentang wanita, khususnya kita sebagai muslimah. Saya pribadi kurang sepakat jika ada yang mengatakan bahwa wanita itu lemah, makhluk yang irasional, sering tidak menggunakan akalnya lebih banyak bermain perasaan, dan lain sebagainya. Bukan hendak melawan realitas dan ketetapan Allah, akan tetapi cara pandang yang mengklaim hal tersebut menurut saya bisa berpengaruh terhadap konsep diri seorang wanita.

Menurut saya pribadi, arti kuat itu bukan hanya dalam artian kuat secara fisik. Kekuatan masing-masing manusia bisa berada dalam titik-titik yang berbeda. Kekuatan di aspek fisik, kekuatan pikiran, kekuatan jiwa, dan lain sebagainya. Dalam hal ini masing-masing tentu memiliki kekuatan yang berbeda termasuk laki-laki dan perempuan.

Termasuk wanita. Wanita tidak selalu lemah. Di berbagai anggapan tentang kelemahannya, menurut saya wanita juga memiliki  kekuatan yang besar. Jika dioptimalkan maka wanita tidak perlu merasa rendah diri apalagi dalam posisi yang merasa di bawah kaum laki-laki. Menurut saya itu tidak sesuai spirit ajaran islam itu sendiri.

Saya bukan seorang Feminist, juga bukan seorang yang hendak menyamaratakan gender. Dalam hal ini laki-laki atau perempuan tentu memiliki perbedaan fitrah yang Allah berikan. Fitrah tersebut tidak bisa disama ratakan dan dirubah. Jika ditentang dan dirubah maka akan merusak hukum-hukum keseimbangan di dunia.

Kelebihan laki-laki akan menutup kekurangan pada wanita, dan kelebihan pada wanita juga akan menutup kekurangan pada laki-laki. Semuanya saling melengkapi dan berjalan beriringan. Perbedaan antar gender hanya terletak pada fungsinya bukan pada derajatnya. Wanita yang mengandung dan melahirkan tentu bukanlah suatu yang rendah hal tersebut adalah kemuliaan. Wanita yang bekerja juga bukan wanita yang harus kita caci maki, karena bisa jadi itu bagian dari proses pembangunan keluarganya dan memberikan lebih banyak manfaat untuk ummat.

Akan tetapi, Allah sendiri tidak pernah mengatakan bahwa laki-laki lebih tinggi derajatnya ketimbang perempuan dan juga sebaliknya tidak pernah mengatakan bahwa perempuan adalah lebih baik dari laki-laki. Di sisi Allah yang paling baik adalah mereka yang paling bertaqwa.

Pun jika laki-laki adalah imam atau kepala dalam keluarga bukan berarti mereka sempurna tanpa cacat dan tidak membutuhkan perang seorang wanita. Sama sebagaimana pemimpin, walaupun ia pemimpin bukan berarti kita tidak memiliki kelebihan dibandingkan dia atau harus diposisikan rendah. Sudut pandanganya bisa bekerja sama dan saling menutupi kekurangan.

Siti Khadijah, Teladan Muslimah

Pict from pinterest

Berbicara mengenai muslimah, saya selalu mengingat Siti Khadijah sebagai muslimah teladan. Sebagai muslimah dan istri Rasulullah, Khadijah adalah sosok yang mampu mensupport suaminya sekaligus memberikan kontribusi yang besar kepada islam.

Saat Rasulullah diangkat menjadi Nabi, Siti Khadijahlah orang yang pertama kali mensupport, memberikan ketenangan, dan membuat Nabi yakin bahwa dia memang harus menjalankan misi yang Allah berikan. Tidak tanggung-tanggung, dengan hartanya Siti Khadijah juga memberikannya untuk islam dan mensupport islam dengan kekuatan yang ia miliki.

Dibalik kekayaannya sebagai saudagar dan kebangsawanan Khadijah, ia menyimpan kedermawanan dan keikhlasan untuk bisa memberikannya di jalan Allah menjadi kekuatan besar bagi islam.

Menurut saya, hal tersebut adalah kekuatan yang sangat besar dan kekuatan yang sangat berpengaruh, walaupun hadir dari seorang muslimah. Muslimah mampu memberikan kontribusi yang besar bagi masyarakat dan manfaat untuk kemajuan bangsa juga agamanya. Tanpa harus merendahkan diri sendiri, asalkan mau untuk mengoptimalkan diri, saya rakin, semua Muslimah bisa menjadi sosok-sosok Khadijah baru di era saat ini.

Muslimah Khalifah fil Ard

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS Al Baqarah : 30)

Ayat di atas menyebutkan bahwa manusia sejatinya Allah ciptakan di muka bumi sebagai khalifah fil ard. Baik laki-laki ataupun perempuan tentu semuanya memiliki tugas untuk mengikuti perintah Allah, menjadi pemimpin di muka bumi, memberikan kemakmuran di muka bumi, dan dilarang untuk berbuat kerusakan.

Jika memang sejatinya misi yang Allah berikan di muka bumi terhadap laki-laki dan perempuan sama, maka keduanya sama-sama memiliki potensi untuk berbuat lebih di dunia. Dengan potensi yang Allah berikan seluruhnya bisa dimanfaatkan untuk kemajuan masyarakat, kemajuan islam, dan tegaknya kebenaran.

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS Al Qashash : 77)

Di zaman seperti ini, tentu saja tantangan tersendiri bagi muslimah. Tapi tentu saja, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Siti Khadijah membuktikan bahwa perempuan bisa menjadi kekuatan di tengah-tengah ummat. Kita pun bisa menjadi seperti itu, dengan potensi apapun yang kita miliki. Passion, skill, harta, energi, waktu adalah potensi-potensi yang bisa kita manfaatkan bukan hanya untuk diri kita melainkan untuk kemaslahatan di masyarakat.

Di bidang apapun diri kita bekerja, berkarir, di rumah, di kantor, di jalan, di lingkungan sekitar,kita bisa memberikan manfaat sebesar-besarnya tanpa pandang bulu. Tanpa harus meninggalkan kewajiban kita dari Allah, meninggalkan aturan agama, dan melawan fitrah sebagai muslimah kita bisa melakukan yang terbaik dan membangun amal-amal jariah.

Sebagaimana spirit islam yang melahirkan misi khalifah fil ard, sejatinya keberadaan kita di dunia ini haruslah mampu menggerakkan dan menjadi manfaat yang banyak. Manfaat ini tentu saja tergantung dari potensi apa yang kita miliki dan sebesar itu pula lah amanah yang Allah titipkan bagi kita. Selagi masih bisa kita hidup, sadar, dan memiliki potensi, maka kekuatan itulah akan muncul dari dalam diri kita.

Ketika mampu menggerakkan potensi tersebut, tentu saja itu adalah kekuatan yang besar. Untuk itu muslimah, kita harus mampu menjadi muslimah yang kuat, berdaya, dan mampu memberikan manfaat besar. Kita tidak akan pernah dihitung dari apa yang kita miliki, tetapi dari apa yang kita mampu berikan dari apa yang kita miliki.

Semoga Bermanfaat 🙂 

Pict from Pinterest

You may also like

6 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *