FRAME – Jangan Hidup di dalam Frame

Frame atau bingkai bisa menjadi sudut pandang kita dalam melihat suatu masalah. Masalah bisa muncul karena adanya frame kita terhadap suatu peristiwa. Pada dasarnya setiap peristiwa adalah netral, yang menjadikannya emosi positif atau negatif adalah frame yang kita gunakan.

Frame sangat dibutuhkan saat kita hendak memfokuskan diri kita pada satu masalah atau melakukan penilitian. Dari frame apa atau siapa masalah tersebut akan diteliti. Bahkan seorang penulis novel harus menetukan frame nya terlebih dahulu saat ia akan menghasilkan karyanya. Agar cerita tersebut mengalir, fokus, pada satu angel tertentu. Tidak glambyar, jelas, dan jernih.

Dengan frame kita juga bisa memilih makna negatif atau positif kah yang hendak kita ambil. Misalnya saja : kita diberikan gaji yang tidak seberapa oleh perusahaan, tapi di sisi lain kita bisa memframe positif bahwa walaupun gaji yang kecil kita tetap bisa melakukan aktivitas lain karena pekerjaan yang tidak banyak atau luang.

Tidak jarang orang-orang yang sempit cara berpikirnya, hanya akan menggunakan satu frame dalam melihat suatu masalah. Atau bahkan terkungkung dalam frame dalam melihat dunia yang sangat luasnya.

Tentu kita ketahui, bahwa dunia tidak sesempit pemandangan yang kita lihat di frame. Memframing sesuatu artinya menyempitkan masalah dan memfokuskan masalah. Tapi jika hanya frame itu-itu saja, menggunakan frame yang sama dari seseorang yang itu-itu lagi, bukankah itu bisa menyempitkan makna sebuah realitas?

Itulah gunanya perkembangan ilmu dan teknologi. Bukan hanya itu tetapi dibutuhkan juga kebijaksanaan melihat realitas. Agar kita tak cepat mengambil kesimpulan dan menggunakan frame tertentu yang dirasa sudah baik dan kebenarannya absolut. Padahal perubahan itu pasti adanya dan pasti akan terjadi, itulah yang absolut.

Yang menyedihkan lagi adalah ketika sebuah frame digunakan untuk menjustifikasi seseorang. Memframing seseorang dengan frame yang dimilikinya, yang belum pasti kebenarannya, bisa berefek pada persepsi yang salah, penyikapan yang salah. Belum mengenal, belum mengetahui secara mendalam, namun sudah memframing dan memberikan penyikapan atau judgement.

Seperti halnya memberikan streotype pada seseorang yang tidak kita kenal dan kita tahu betul mengenai orang tersebut. Hanya dengar dari katanya atau bisik-bisik sekitar.

Misalnya saja, Pernahkah kita berkata tau menjumpai realitas ini?

“Dia orang Batak, pasti dia emosional!”, “Wajahnya seram, pasti dia preman!”, “Buku-bukunya kebanyakan dari tokoh Anu, pasti dia orang Liberal”, “Lihat dia sukanya pake cadar, pasti dia teroris” “Lihat, dia sering pakai baju bagus pasti dia orang kaya”, “Lihat dia suka berdiskusi dengan Tokoh Anu, pasti dia orang radikal”, “Dia suka berteman dengan kelompok ini, pasti dia pendukungnya”.

Bukankah hal tersebut bisa masuk pada perilaku mendzalimi seseorang? Jika memang kita tidak tahu, dan tidak mengerti maka secara arif dan bijak, katakanlah tidak tahu. Jika memang tahu sedikit, maka deskripsikanlah dengan pengetahuan yang sedikit tersebut secara netral.

Sekali-kali memang kita harus keluar dari frame diri kita sendiri untuk melihat luasnya dunia dan mengenal kompleksnya masalah kehidupan. Jangan menggunakan kacamata kuda, apalagi kacamata gelap yang bisa menghitamkan semua pandangan. Dunia ini luas dan penuh warna. Tidak sesempit apa yang hanya ada dalam frame.

CMIIW, Waulahualam- Hanya Allah sebenar-benarnya petunjuk

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *