Cerita Chiquesta : Saat Produk Kami Hilang dan Pelajaran yang Berharga

Cerita Chiquesta adalah cerita dan pengalaman berharga dari perjalanan juga proses bisnis saya dan partner. Chiquesta adalah nama brand yang kami bangun hingga sekarang. Bergerak di bidang fashion hijab.

 

Nekat. Satu kata yang bikin semuanya bisa berjalan dan dilakukan. Tanpa ada kenekatan, mungkin saya juga tidak akan pernah merasakan hasil di luar ekspektasi ini. Bekerja sambil berbisnis tentu bukan perkara mudah.

Memasuki bulan Mei 2017 yang lalu, rasa-rasanya deg-degan banget dan bikin setiap hari ga bisa tenang karena harus memikirkan jalan-nya bisnis di bulan Ramadhan. Ini kali pertamanya saya dan partner bisnis menghadapi penjualan di bulan Ramadhan. Konon katanya para senior-senior bisnis, di bulan Ramadhan penjualan bisa berkali lipat karena ini moment yang pas banget umat islam menghadapi lebaran plus dapat gaji ke-13. Sehingga, semua beramai-ramai belanja.

Oke, saat itu saya dan partner berpikir keras bagaimana bisa meningkatkan penjualan di bulan Ramadhan. Akhirnya keputusan yang kami ambil adalah memperbanyak produksi dibanding bulan-bulan lainnya, penjualan online yang semakin intens, dan mencoba berjualan offline melalui bazar di masjid. Kenapa masjid? Karena masjid adalah wilayah strategis saat bulan Ramadhan, apalagi ada tawaran di beberapa masjid yang mengadakan event bazar oleh pengurusnya.

Tentu saja bukan modal kecil yang harus dikeluarkan. Tidak sedikit, apalagi bagi kami pembisnis online yang masih pemula (belum 1 tahun). Dengan berdiskusi dan konsultasi kesana sini, akhirnya kami sepakati, Nekat itulah yang kami lakukan.

Apakah semuanya lancar? Oooh, tentu tidak. Tapi dibalik semua tantangan itulah kami belajar dan banyak sekali hikmah juga hasil yang bisa kami capai.

Produksi Berkali-Kali Lipat dan Kehilangan Produk

Bulan Mei benar-benar sepi pembeli. Kalau tidak didukung oleh jualan offline di beberapa moment, mungkin bisa kering kerontang pemasukan bisnis kami. Tapi alhamdulillah selalu ada jalan dan rezeki dari Allah siapa yang tahu?

Karena memasuki Ramadhan, kami songsong dengan semangat dan optmisme. Kami produksi hijab hampir 3,5 kali lebih banyak dari biasanya. Dan jangan lupa, bahwa masih ada sisa-sisa stock produk yang belum terjual di bulan sebelumnya. Tanpa pikir panjang, produksi pun kami lakukan dimulai dari belanja bahan.

Supplier bahan kadang tidak selalu menjual bahan yang kami inginkan. Akhirnya pembelian bahan pun dilakukan beberapa kali oleh partner saya sendiri karena kendalanya di hari biasa saya harus bekerja yang terikat waktu, sedangkan partner saya bisa lebih flexibel waktu kerjanya. Akhirnya ia sendiri harus beberapa kali bulak balik ke supplier bahan di beberapa tempat, naik gojek, naik bajaj, dan bergumul dengan orang-orang yang hilir mudik di commuter line sendiri. Tentunya ini jadi perjuangan sendiri.

Kejadian pertama yang membuat kami shock adalah hilangnya hijab yang sudah jadi yaitu sekitar 11. Ceritanya, hijab yang sudah jadi ini akan diantar oleh Driver Gojek ke tempat kami. Ntah bagaimana si driver gojek menyimpannya, menurut penjahit kami si driver tidak menaruhnya di depan melainkan di belakang dan diikat seadanya. Alhasil, sampai di tempat kami setelah dihitung kurang 11 hijab.

Marah pada siapa? Driver gojek pun tak bisa berbuat apa-apa dan bertanggung jawab. Malah panjang urusannya kalau diperkarakan.

Shock, sedih, ingin marah. Bayangkan saja, bagi pembisnis pemula seperti kami, modal untuk menghasilkan 11 hijab tentu tidak sedikit. Kalau dihitung-hitung bisa menghasilkan kurang lebih 800 ribu. Belum lagi, hijab ini adalah hijab favorit kami yang diprediksi bakal best seller motif dan warnanya.

Tapi sadar lagi bahwa pasti ini ujian seorang pembisnis. Pasti setiap pembisnis pernah merasakan hal ini. Bahkan ada yang pernah rugi ber-roll roll kain, gagal produksi, bahkan ditipu ber milyaran ada yang pernah merasakannya. Tidak masalah. Sabar dan tetap semangat, karena energi kami masih harus digunakan untuk berpikir hal lainnya untuk mensukseskan penjualan di bulan Ramadhan. Lemah sekarang, emosi sekarang, pasti akan gagal saat kedepannya.

Emosi pasti. Kesal juga pasti. Tapi ada satu pembelanjaran yang kami ambil saat itu dan sudah seharusnya dilakukan dalam sebuah produksi. Kami jadi mengingat bahwa mungkin saatnya kami berbenah dan merapihkan sistem bisnis yang sudah berjalan ini. Walaupun masih dihandle berdua dan beberapa orang saja, sistem bisnis sekecil apapun harus mulai dibangun. Tidak bisa alamiah berjalan, karena kesuksesan tidak hadir pada jalan yang alamiah.

Check and Recheck, Kontrol dan Rapih Administrasi

Kejadian kehilangan produk ini pastinya ada karena kesalahan kami juga yang tidak check and recheck setiap proses dan detail dari produksi. Bagaimanapun sebuah sistem produksi harus rapih dan tidak boleh berjalan sembarangan.

Dibalik kesulitan ada kemudahan. Dibalik peristiwa juga pasti ada hikmahnya.. Walaupun masih 11 hijab yang hilang, tentu saja kami berharap ini jadi pelajaran berharga. Ada beberapa hal yang menjadi catatan kami dari persitiwa kehilangan ini.

  1. Tulis Jumlah Bahan yang Dibeli dari Supplier secara Detail

Setelah belanja bahan produksi, jangan langsung ditinggal dan kegirangan dulu. Segera catat melalui nota yang kita tanda tangani dan pihak supplier tanda tangani juga. Hal ini supaya jelas kedua belah pihak, sehingga kalaupun nantinya ada kekurangan atau kehilangan kita bisa mengurutnya, dari mana hilangnya. Tentu kedua belah pihak juga saling check dan recheck.

  1. Tulis Bahan yang akan Dijahit oleh Penjahit

Setelah dari supplier bahan pastinya akan kita antarkan ke penjahit atau konveksi. Jangan lupa juga, biasanya disini sering luput. Tulis detail bahan yang diantarkan dan diterima oleh pengantar dan juga penerima. Begitu juga jika setelah dijahit dan akan diantarkan oleh driver atau pihak lain, kedua belah pihak harus sama-sama mengetahui dan menandatangani bahan sejumlah di awal yang kita setorkan.

Akan lebih baik jika kita yang mengambilnya sendiri, maka bisa langsung kita amankan dan hitung sendiri. Pelajaran berharga sekali adalah semua pihak harus tau berapa dan seperti apa yang dikirimkan, tanda tangan keduanya, agar sama-sama enak dan bisa terkontrol dengan baik.

  1. Pastikan Barang yang diantarkan dikemas Rapih dan Aman

Jika akan dikirim ke tempat kita oleh ekspedisi ataupun oleh driver via gojek, mobil atau apapun pastikan barang kita dikirim dengan kemasan yang rapih dan aman. Aman misalnya dilapisi oleh pelastik anti air, rapat dan tidak ada lubang atau mudah robek. Pastikan juga semuanya rapat, tidak ada potensi berceceran kalai terlempar-lempar atau berjatuhan saat pengiriman.

Jangan sampai terjadi lagi seperti saya. Hilang saat dkirim oleh Driver Gojek karena disimpan di belakang motornya dan tidak tersadari saat akan dikirim.

  1. Check ulang Barang saat Sampai di Tujuan

Jika barang sudah sampai di tujuan kita, jangan lupa untuk mengecek ulang. Minimal mengecek jumlahnya. Tentu saja di check sebelum driver yang mengirimkan pulang atau meninggalkan tempat kita. Untuk Quality Control bisa di check setelahnya, karena tentunya proses QC membutuhkan waktu dan ketelitian yang lebih detail. Selain itu, QC juga hubungannya dengan konveksi atau penjahit.

Enaknya jika kita memiliki konveksi atau penjahit sendiri, maka setiap selesai produksi, QC bisa dilakukan setiap saat karena konveksi atau penjahit milik sendiri. Insya Allah kedepan, jika usaha ini sudah berkembang lebih pesat, bisa seperti itu ya.

So, itulah kisah dan hikmah dari cerita bisnis Chiquesta. Ini masih cerita pertama yang saya tuliskan tentang perjalanan mencapai target penjualan di bulan Ramadhan. Baca di postingan selanjutnya tentang kisah perjalanan kami ya.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *