Tentang Makna yang Hilang

Pernah gak sih merasakan hidup cuma gitu gitu aja dan seperti mengulang hal yang sama. Saat beraktivitas dan bekerja, tapi kita. gak merasakan adanya meaning di hal tersebut.

1 tahun belakang saya bener bener merasakan hal itu. Istilahnya seperti berada si gurung pasir, kekeringan, kehausan. Saya juga gak tau apa sebenernya yang ingin dicapai dan bener bener jadi satu tujuan dalam hidup.

Tujuan disini, pastinya bukan tujuan akhir dunia yang dalam sudut pandang islam adalah soal akhirat. Justru kegalauan sering melanda ketika ingat, apa yang saya kerjakan ini apakah bener benar bisa menyelematkan hingga tujuan akhir hidup saya? Artinya apa sih yang goal dunia saya hingga ini bener bener jadi bekal hidup kelak?

Saya sering berpikir, apa yang saya lakukan itu ujung ujungnya selalu berakhir untuk tujuan diri saya sendiri. Apalagi jika berhadapan soal materi. Kadang lepaslah soal apakah karir kita benar benar membawa manfaat pada orang lain atau tidak. Padahal sebaik baiknya manusia adalah mereka yang paling banyak memberikan manfaat.

Bekerja si salah satu NGO yang punya value unik dan khas, tidak lantas membuat kebermaknaan itu muncul. Apalagi jika membandingkan apa yang dikerjakan atau dikorbankan orang lain begitu besar. Sedangkan saya? Mungkin tak ada 1% dari apa yang mereka lakukan. Misalnya, harus mencari dana, berjibaku dengan pelaksanaan program, berada di wilayah rawan bencana, siap siaga saat terjadi bencana, mengelola para penerima manfaat, dan lain sebagainya.

Ya, 1 tahun kebelakang saya merasa ada yang hilang tentang kebermaknaan dan memberikan manfaat. Apa yang bisa saya lakukan sepertinya adalah level rendah dari kebutuhan masyarakat hari ini. Walaupun jika ingin digali, tentu saja selalu ada manfaat yang kita berikan walau tak terlihat secara kasat mata.

Saya pernah merasakan kebermaknaan akan rasa memberikan manfaat. Rasanya puas, lega, ikhlas dan banyak bersyukur. Berbeda. ketika fokus kita adalah untuk menghidupi diri sendiri, mengumpulkan materi, dan berpikir besok dapat uang darimana untuk menutup kebutuhan hidup. Rasanya lelah sekali. Seperti tidak ada habisnya.

Bayang bayang harus bermanfaat, menjadi khalifah fil ard, seakan terus mengejar dari belakang. Seakan mereka berteriak, kamu sudah ngapain aja? Apakah misi hidupmu sudah kamu jalankan?

Tapi setelah 1 tahun berlalu saya pun punya cara pandang lain soal kebermaknaan. Mungkin tak mudah membentuk makna. Apalagi bagi kita yang makna muncul dari lingkungan atau pekerjaan itu sendiri. Namun bagaimana jika dibalik. Justru kita yang memproduksi makna dan pekerjaan atau aktivitas muncul makna karena itu hasil pikiran kita sendiri.

Suatu hari saya berpikir. Jika saya terus menerus merasa hilang makna, lantas kapan saya akan merasa bermakna? Padahal hidup ini begitu singkat. Bukankah seharusnya kita selalu memaknai dari apa yang bisa kita lakukan. Jika tidak ada orang yang memaknai dan memberikan apresiasi, berarti diri saya sendirilah yang harus melakukannya.

Banyak orang bunuh diri soal makna hidup. Islam sudah memberikan panduannya bahwa seharusnya makna hidup kita tak jauh dari misi yang Allah titipkan pada kita. Sesimpel membantu orang lain dengan apa yang kita bisa, membagikan semangat dan hal positif di lingkungan sekitar kita berada.

Andai saya ambil waktu sejenak dan berpikir lebih mendalam, mungkin 1 tahun kemarin begitu banyak makna yang bisa saya rasakan. Sayangnya, saya terlalu fokus dengan masalah dan ancaman, sampai sampai lupa bersyukur dan memaknai semua perjalanan yang telah berlalu.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *