My Generation, Potret Realitas Remaja Generasi Millenial

Entah kenapa saya selalu tertarik dengan pembahasan tentang remaja dan karakternya. Mungkin karena pengalaman saya hampir sejak SMA hingga bekerja sebagai konsultan remaja, banyak berinteraksi dengan dunia remaja dan segala dinamikanya. Permasalahan karakter, moral, pendidikan bagi remaja seakan tidak pernah ada habisnya dan selalu menarik untuk dikaji.

Secara psikologis, remaja juga adalah usia yang unik. Dia belum bisa dikatakan dewasa, namun juga tidak bisa dikatakan sebagai anak-anak. Hidupnya juga dibatasi. Dilarang melakukan hal-hal bagi dewasa, namun juga terkadang ditegur akibat sifatnya yang masih kekanak-kanakan. Dengan kondisi tersebut, wajarlah jika remaja terkadang, terjebak dalam kebingungan.

Dalam kondisi kebingungan tersebut, ia pun berusaha mencari jati dirinya, mencari nilai-nilai yang seharusnya menjadi pondasinya. Mereka mungkin memillki tingkat “kepo” atau kuriositas yang sangat tinggi. Ingin mencoba hal baru, tantangan, demi mengeksplorasi dirinya, bahkan membuktikan dirinya sendiri.

Tentu saja pencarian tersebut bisa berakhir baik dan benar, atau justru sebaliknya. Tapi tidak jarang, ketika remaja salah langkah dan terjerumus, mereka disalahkan, diberikan stempel buruk, bahkan seakan-akan masa depanya suram.

Dialegtika ini yang juga pernah saya alami. Ketika berhadapan dengan dunia remaja, hal ini yang menjadi asumsi saya. Mereka adalah manusia dalam usia pencarian. Tidak boleh asa menjudge, tidak boleh asal menilai, mereka butuh bimbingan, namun tidak ingin dikekang. Mungkin sesekali membiarkan mereka bebas, namun tetap melihat dari kejauhan.

Ketertarikan saya ini, sepertinya mulai tergambar dengan realitas yang dihadirkan dalam sebuah film yang akan tayang 9 November 2017 nanti. Film ini adalah karya Sutradara Upi dan produksi dari IFI Sinema yang telah menghasilkan film-film hits Indonesia lainnya.

My Generation, Kisah 4 Remaja dan Dinamikanya Masing-Masing

Film ini berkisah tentang 4 remaja yang bersahabat dan memiliki dinamikanya masing-masing. Mereka memiliki masalah-masalah yang berbeda, namun memiliki sikap kritis yang sama terhadap perlakuan guru, orang tua, dan sekitarnya yang sering kali dianggap tidak sesuai dan kerap menyalahkan mereka.

Realitas dalam 4 remaja ini, sepertinya mewakili realitas remaja kekinian yang juga dalam Generasi Millenial. Tentunya masa kini sangat berbeda dengan masa lalu sebagaimana dinamika zaman ke zaman selalu berubah. Untuk itu, berikut beberapa gambaran 4 remaja dan dinamikanya dalam film My Generation.

  1. Orly

Seorang gadis perempuan yang kritis, pintar, dan berprinsip. Ia mengkritisi soal kesetaraan gender dan hal-hal lain yang melabeli kaum perempuan. Salah satunya adalah tentang keperawanan pada wanita. Ia berusaha untuk mendobrak masalah label negatif pada perempuan.

Di luar masalah tersebut, Orly juga memiliki ibu yang single parent dan memiliki pacar yang jauh lebih muda. Orly menggap gaya hidup Sang ibu tidak sesuai dengan usianya.

  1. Suki

Suki adalah gadis perempuan yang memiliki masalah krisis kepercayaan diri. Masalah ini disembunyikannya dan semakin besar seiring orang tua yang selalu bersikap negatif padanya.

  1. Zeke

Zeke adalah pemuda yang santai dan sangat loyal pada sahabat-sahabatnya. Dibalik sikap santainya ia teryata memendam masalah besar dan luka dalam hati. Zeke merasa orangtuanya tidak menginginkan keberadaannya terlebih tidak mencintainya. Akhirnya, muncul sikap konfrontasi dari Zeke terhadap orang tuanya.

  1. Konji

Konji adalah pemuda polos yang mengalami dilema pubertas. Ia merasa tertekan dengan aturan orang tuanya yang kolot dan sangat protektif. Suatu ketika ia menghadapi shock ketika mengetahui moralitas orang tuanya, yang mungkin kontradiktif dengan apa yang dituntut selama ini.

Kisah remaja ini menurut saya sangat dekat dengan remaja pada umumnya. Bagi para orang tua nampaknya perlu menonton dan mempelajari. Tujuannya tentu kembali kepada masing-masing. Tapi menurut saya, supaya kita sebagai orang tua atau pembimbing bisa benar-benar paham dunia mereka di zaman kini, sehingga bisa membuat satu formulasi menarik untuk mendidik mereka.

Angle film juga dibuat dengan menunjukkan bahwa di zaman serba digital, tidak dimungkiri terjadi berbagia masalah dan bergesernya gaya hidup remaja yang berbeda dan unik.

Film yang dibuat 1 tahun dan riset selama 2 tahun oleh Sutradara Upi, juga ternyata memang bermaksud menggambarkan generasi millenial tanpa harus ditutup-tutupi. Begitupun action dan dialog didalamnya sangat sesuai dengan gaya bahasa dan tren anak muda zaman sekarang.

Pembuatan Film My Generation

Ada beberapa hal unik dalam proses pembuatan film My Generation dan membuat film ini menjadi spesial. Diantaranya adalah :

  • 4 Pemeran utama dalam Film ini adalah pemain baru dalam industri Film di Indonesiam namun menampilkan peran yang natural dan sesuai dengan alur cerita film. Mereka diantaranya adalah : Brian Langelo, Aleandra Kosasie, Arya Vasco, dan Lutesha.
  • Walaupun pemeran utama adalah pemain-pemain baru, di Film ini juga menampilkan pemain senior seperti : Tyo Pakusadewo, Surya Saputra, Ira Wibowo, Indah Kalalo, Karina Suwandhi, Joko Anwar, dan Aida Nurmala

Jika melihat trailer dari film ini, mungkin sekilas menunjukkan banyak sekali masalah-masalah remaja dan terkesan memberikan potret suram kehidupan generasi milenial. Namun tentunya jangan hanya berhenti menonton trailernya ya. Karena, dalam film ada banyak sekali dialegtika antara anak dan orang tua, tuntutan anak terhadap orang tua, keinginan-keinginan mereka, yang mungkin bisa kita pelajari.

Tanpa harus memiliki keputusan yang sama, orang tua tentu berhak memberikan sudut mana yang hendak diambil sebagai hikmah dan pelajaran bagi pendidikan anaknya. Tapi menurut saya, ada garis besar yang hendak diambil dari film ini. Misalnya saja : komunikasi yang dua arah antara orang tua dan anak, perhatian, saling memahami, masuk ke dalam dunia remaja, dan memberikan nilai-nilai bukan dengan cara yang memaksakan atau doktrin. Namun masuk dengan halus, dan mengajak mereka untuk berpikir sendiri tanpa harus kita meninggalkannya secara utuh.

Jika dalam film ini terjadi pro kontra menurut saya itu wajar. Tapi jika melihat semangat Sutradara Upi dalam membuat film ini, nampaknya perlu diapresiasi karena ia hendak memberikan kesadaran bahwa inilah generasi milenial. Jika salah bertindak dan tak memahami, mungkin mereka akan semakin salah dan terjerumus.

Lantas, sudah siap nonton filmnya? Lihat trailernya dulu yuk, sebelum 9 November 2017 tampil di Bioskop.

You may also like

12 Comments

  1. Peran orang paling vital dalam hal ini. Yah, setidaknya sebelum nikah harus belajar parenting terlebih dahulu. Bisa mulai dari lihat video Youtube atau paling tidak dateng ke acara seminar parenting.

  2. Remaja itu unik ya. Mereka bukan lagi anak-anak, tapi juga belum bisa dianggap dewasa. Makanya butuh pendampingan.
    Aku enggak sabar banget ingin nonton dan lihat endingnya. Kira-kira bakal ada penyelesaian konflik dengan orangtuanya ga ya? Buat jadi pelajaran bagi kita semua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *