TENTANG PUISI IBU INDONESIA, ITU BUKAN INDONESIA

Ramai diperbincangkan tentang puisi berjudul Ibu Indonesia, yang mengandung kalimat “Aku Tak Paham Syariat Islam” yang dibacakan oleh Ibu Sukmawati di acara Fashion Show 26 tahun Anne Avantie, di Indonesia Fashion Week 2018. Ada perasaan sedih dan khawatir yang muncul saat bait demi bait puisi saya baca. Saya berpikir sejenak, apa maksud puisi ini sebenarnya? Apakah ini menggambarkan Indonesia? Bagaimana efeknya terhadap sosial puisi ini, khususnya umat islam sebagai objek diskursus dari puisi yang dibacakan oleh Ibu Sukma. Karena tak jarang, kelompok sumbu pendek muncul dan memperparah keadaan. Itu yang saya khawatirkan.

Jujur, saat membaca isinya saya merasa maksud puisi ini sebenernya tak sedang membanggakan Indonesia. Justru yang saya lihat adalah mempertentangkan agama dengan pendapat pribadi ibu Sukmawati, yang entah punya pandangan apa tentang islam.

Kalau boleh beropini, agama itu adalah bagian dari Keindonesiaan. Masyarakat Indonesia yang mayoritas umat muslim adalah bagian dari Keindonesiaan. Begitupun dengan umat-umat agama yang lain, walaupun bukan mayoritas, tetapi juga bagian dari Keindonesiaan. Segala aktivitas, aksen, peribadatan dan hal-hal lainnya memang tak bisa dipisahkan satu sama lain dari Keindonesiaan. Semuanya bagian dari hidup yang beragam di bangsa ini.

Sejak SD, nilai-nilai Bhineka Tunggal Ika dan keberagaman, pasti sudah kita dapatkan. Entah mengapa rasanya ketika membaca puisi tersebut, saya merasa pembuat puisi mendiskursuskan antara Islam dan Indonesia. Seakan-akan antara Islam dan Indonesia adalah hal yang bertentangan dan tak ada keindahan di dalamnya. Coba lihat lebih dalam, perbedaan itu bisa indah terlihat andai hal-hal sensitif yang membangkitkan emosi keber-agamaan seseorang tak perlu disinggung.

Sejak kecil, saya bertetangga dengan orang-orang yang berbeda agama. Ada diantaranya yang bergama nasrani, hindu, dan budha. Saat idul fitri dan idul adha, nenek saya sering memberikan sajian ketupat lebaran atau olahan daging pada tetangga-tetangga walaupun berbeda agama. Mereka juga tak marah saat di rumah kami ada pengajian yang cukup ramai, bahkan meminjamkan kursi-kursi di rumahnya sebagian untuk pengajian di rumah nenek saya. Begitupun saat mereka merayakan hari agamanya, kami memang tak mengucapkan selamat Natal atau selamat hari Raya mereka, karena secara keyakinan tak menganggap itu dibenarkan syariah. Tapi kami selalu berkunjung saat tahun baru saling bertukar makanan tanpa harus menyinggung kepercayaan masing-masing. Keluarga saya jelas tidak menyukai nyanyian-nyian yang terdengar saat mereka beribadah bersama, tapi kami juga tak pernah menyinggung itu dihadapan mereka. Bukankah itu lebih indah, dibanding puisi yang menyinggung satu sama lain.

Bagaimana jika saat ini Umat Islam marah karena disinggung soal hal tersebut? Menurut saya wajar saja jika marah, karena hal-hal yang dianggap sakral dalam agama islam disinggung dan diperbandingkan dengan pendapat lainnya hingga kesakralan itu menjadi rendah dipandangnya. Tak ada satu pun yang mau direndahkan kesakralannya, walaupun dalam realitas ada secuil hal tersebut. Tapi jelas itu tak pantas jika diungkit.

Entahlah. Mengapa kalau pembuat puisi cinta terhadap bumi Indonesia, tak membuat saja tentang Indahnya Indonesia yang berwarna-warni ini? Saling menghormati dan menghargai kepercayaan masing-masing. Hidup berdampingan dan menghargai hak-hak satu sama lain. Kita bisa liburan di saat Hari Besar masing-masing Agama. Kita juga tak ingin mengganggu saudara lain yang sedang beribadah. Diberikan keleluasaan untuk menjalankan ibadah tanpa ada larangan sedikitpun. Bukankah itu lebih indah dibanding dengan kalimat-kalimat puisi yang menyinggung keber-agamaan satu ummat?

Kalau memang cinta Indonesia, jangan lepaskan keberagamaan ini. Jangan sudutkan satu pandangan agama tertentu yang sudah diyakini, apalagi melukai hati banyak orang, yang juga bagian dari bangsa Indonesia. Tak perlu singgung hal sensitif milik kepercayaan orang lain, kalau ingin hidup bersama di negeri ini. Walaupun ada realita perpecahan dan konflik, tapi realita tersebut tak perlu untuk terus digali lebih dalam. Yang ada berlombalah untuk menampilkan seni yang lebih indah dan penuh penghargaan kepada setiap orang yang memeluk kepercayaannya, apalagi soal ibadah.

Tak perlu bandingkan cadar dan konde. Karena itu tidak akan pernah selesai malah menuai konflik yang berkepanjangan. Tak perlu juga bandingkan suara adzan dengan suara lainnya, karena itu melukai orang yang mencintainya. Yang perlu kita lakukan cukup menghormati pilihan orang lain, selagi tidak membuat kerusakan, kericuhan, dan perpecahan, untuk apa disinggung?

Jika tak suka suara adzan, tak perlu disebut dan disebarkan pada banyak orang. Suara adzan yang notabene adalah panggilan untuk menghadap Allah tak layak jadi perbandingan dengan yang lainnya. Begitupun ketika kita tak suka dengan suara teman-teman yang di gereja sedang beribadah, juga tak perlu sebut dihadapannya kita tak suka. Buat apa? Karena kita bukan mereka, dan mereka pun akan jelas-jelas akan marah. Apa itu yang mau kita capai?

Sebagai muslimah saya memiliki kewajiban untuk menjalankan ibadah saya, kepercayaan saya sebagai umat islam, mengagungkan Allah, menjaga seluruh hal yang diperintahkan oleh Allah pada saya. Tapi saya juga warga Indonesia. Tinggal di bumi Indonesia, dan menjadi bagian dari ajaran islam untuk menghargai hak-hak dan menjaga kesakralan agama lain yang hidup berdampingan di negeri ini. Agamaku Agamaku, Agamamu Agamamu. Prinsip itu yang saya pegang, tanpa harus merendahkan kepercayaan lain. Apalagi menghina dan merendahkannya.

Entah apa pembelaan sang pembuat puisi. Tapi bagi saya sendiri, puisi tersebut telah melukai sebagian besar bangsa Indonesia yang merupakan umat Islam. Puisi itu tak melambangkan keindonesiaan yang pada dasarnya penuh penghargaan terhadap kepercayaan agama seseorang.

 

 

Feature Image from Pixabay.

You may also like

12 Comments

  1. Semoga permasalahan yang menyangkut keberagaman dalam bangsa kita ini segera berakhir ya…
    Pengalihan isyu atau apapun itu sebagai Muslim kita harus tetap menjalankan kewajiban 🙂

  2. Aku pun ketika tinggal di kampung sebelum pindah ke rumah yang sekarang, sangat menikmati kerukunan warga kampung kami.

    Kami saling bertukar hantaran masakan di hari-hari raya masing-masing. Saling dg ikhlas menerima bila ada ‘keramaian’ yg berkaitan dg acara ibadah. Dan yg sangat mengesankan di kampungku dulu itu, tiap selesai Shalat Ied seluruh warga dari berbagai agama dan etnis berbaris di dekat Masjid untuk bersalaman dan bermaaf-maafan.

  3. Pernah baca mengapa pemikiran bu sukma seperti itu..karena sejak kecil sdh broken home..ditambah dr orang kaya jd dimiskinkan negara hingga perceraian dgn suaminya..entaah dr berbagai masalah yg dia hadapi..apa mungkin ia mempertanyakan agamanya sndiri? Bu suk..bu suk..puisimu boomerangmu

  4. Waktu melihat berita ini pertama kali di beranda sosmed, lgsg istighfar berkali-kali. Darah lgsg mendidih pengen memaki nenek tua itu. Tapi sekuat tenaga aku tahan jari2 agar jgn sampai mengetikkan kata2 tak pantas. Untunglah tidak lama kemudian muncul puisi2 balasan berima sejuk. Mereka menggugat tapi tidak menghujat. Setidaknya ada perasaan semua uneg2 yg aku rasakan sudah tersampaikan oleh mereka.

  5. aku sebenernya pengen bahas soal puisi kemarin itu juga di blog tapi gajadi heheh.. aku juga sebenernya kurang setuju. Beliau pembuat puisi kan bilang puisi itu mewakili suara hati perempuan Indonesia yang menjunjung tinggi budaya, tapi kok ya aku sebagai perempuan Indonesia ngerasa gak terwakili hehe

  6. tiap masa-masa pilkada dan mau masuk kampanye, sering banget deh muncul issue issue kayak gini. smoga gak pecah kerukunan bangsa kita hanya karena hal-hal sepele seperti ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *