FIRST TRAVEL : GAYA HIDUP MEWAH DAN MEGAH DIATAS KETERPURUKAN JAMAAH

Masih hangat menjadi perbincangan. Kasus Suami Istri dan keluarganya, yang merupakan bos dari Perusahaan bernama First Travel. Sejak menjelang Ramadhan 2017, saya sudah sering mendengar perbincangan mengenai First Travel ini dari teman yang kebetulan bekerja di perusahaan travel juga. Akhirnya mulailah saya mengenal First Travel, si perusahaan travel yang memberikan discount besar-besaran dan memberikan harga super murah untuk berangkat umrah, yaitu hanya 14juta rupiah saja. Angka 14 juta tentu sangat murah dibanding harga travel umrah pada umumnya yang terpaut angka mulai 25 juta rupiah untuk paket reguler.

Namun ternyata di Bulan Agustus 2017, kasusnya semakin mencuat ke publik. Pasangan suami Istri yang bernama Andika Surahman dan Anniesa Hasibuan ini menjadi perbincangan panas di publik. Sosial media menjadi penuh informasi mereka. Instagram Explore, Facebook Timeline, Headline beberapa media mainstream pun ikut meramaikannya. Tidak kalah ramai, komentar dan hujatan netizen juga tak kalah ramai di instagram para bos travel ini.

Tentu saja hal ini bukan tanpa sebab. Ada 58 ribu jamaah yang seharusnya bisa beribadah umrah namun ternyata gagal berangkat. Ada yang menunggu hingga bertahun-tahun dan tidak pernah diberangkatkan. Alasannya ada banyak. Mulai dari masalah visa, masalah keamanan, dan lain sebagainya. Tentu saja itu alasan bohong yang tidak masuk di akal.

Publik pun bertanya-tanya. Kemana uang para jamaah ini? Mereka sudah membayar namun mengapa tak kunjung berangkat? Pada intinya, uang jamaah raib dan dinikmati oleh bos-bos perusahaan ini. Bahkan yang saya baca melalui tempo.co, ternyata selain dari kerugian uang jamaah yang sebesar 750M lebih, First Travel juga masih memiliki hutang hingga angka 104M kepada hotel yang ada di Saudi, Perusahaan Provider, dan tiket pesawat yang belum terbayarkan.

Saya hanya bisa menghela nafas melihat angka-angka tersebut bermunculan. Tidak sedikit para calon jamaah yang membayarkan uangnya minimal 14juta rupiah dengan mengorbankan hartanya demi melaksanakan ibadah umrah. Niat dan tekad yang kuat membuat mereka rela mengeluarkan uang, bahkan sampai ada yang berani menggadaikan ladangnya atau berhutang. Namun semua itu raib, hanya gara-gara Bos-bos First Travel yang tidak amanah dan menuruti hawa nafsunya.

Gaya Hidup Mewah dan Glamour Ala Bos First Travel

Satu hari saya pernah menyempatkan khusus membaca berbagai artikel tentang kasus First Travel ini. Tidak sedikit juga video di Youtube saya cermati untuk mengetahui seluk beluk kisah Anniesa Hasibuan dan Andika Surahman. Dari kasus ini, sebenarnya saya lebih tertarik dari aspek psikologis dan sebab-sebab perilaku Anniesa dan Andika. Mengapa mereka bisa seperti itu?

Hanya saja, informasi yang ada tidak banyak mengungkapkannya, padahal menurut saya pribadi, hal ini jauh lebih penting agar kita waspada dan bisa mengambil hikmah. Artinya, bagaimanapun juga kasus yang serupa bisa saja menerpa siapapun. Manusia punya hawa nafsu dan sangat mudah tergoda. We can’t know people inside.

20170822_110338_harianterbit_anniesa-hasibuan-dan-andika-surachman
Gambar diambil dari google

Ada satu hal yang begitu saya soroti, yaitu gaya hidup mewah dan glamour yang menjadi style dari pasangan ini. Tidak jarang Anniesa mempublish foto-foto liburannya ke mancanegara, menggunakan baju-baju mewah, tas mewah, sepatu mewah, dan berbagai aksesories yang menyilaukan mata.

Dilansir oleh Tempo.co, mengenai harga-harga tas dari Anniesa Hasibuan. Harga tercantum, yang paling murah adalah sekitar 18 juta, dengan brand luar negeri ternama. Angka tersebut, sebetulnya bisa saja memberangkatkan 1 orang pergi umrah, namun raib hanya untuk dikenakan sebagai tas kecil mungil untuk bergaya.

Mungkin, jika diprediksi hijab, aksesoris, atau baju-baju yang ia kenakan, tidak cukup dibeli dengan 1 bulan gaji saya. Mungkin baru bisa terbeli dengan mengumpulkan uang selama lebih dari 1 tahun dengan gaji full yang saya miliki. Yang artinya, saya harus tidak makan dan hidup, untuk bisa membeli itu semua.

Belum lagi Aset Rumah Mewah bak Istana Raja dan Ratu yang ada di daerah Sentul Bogor. Harga tirainya saja diprediksi hingga angka 700 juta. Jika dihitung-hitung, uang 700 juta minimal bisa memberangkatkan hingga 30 orang jamaah umrah. Atau, minimal bisa untuk mengembalikan dana 14 juta ke 50 orang yang pernah mendaftarkan diri ke First Travel.

Persoalan yang lebih mendasar lagi adalah gaya hidup tersebut dipamerkan dan didapatkan dari hasil uang yang tidak halal. Mereka menikmati itu semua di atas penderitaan para calon jamaah yang penuh harap berangkat ke Mekkah, berdoa siang malam, bahkan mengorbankan tidak sedikit uang yang dimilikinya. Kita ketahui bahwa calon jamaah berasal dari berbagai kelas ekonomi, yang artinya uang sejumlah 14 juta bisa jadi bukan angka sedikit bagi mereka. Butuh pengorbanan besar untuk bisa mendapatkannya.

Semenyilaukan itukah Dunia, hingga mereka tak dapat menahan diri dari godaan hidup mewah dan Glamour? Hingga rela memakan harta yang bukan hak-nya? Menelantarkan nasib dan hak orang lain yang hendak beribadah?

Dulu Sulit dan Sekarang Tambah Sulit

Andika dan Anniesa, sering kali menceritakan kisah sulit hidupnya mereka di masa lalu bahkan hingga keinginan bunuh diri karena tak kuat menahan penderitaan. Dari masa lalunya tersebut, mereka telah mengerti bagaimana hidup susah dan bagaimana hidup survive. Ia juga tahu bagaimana kesulitan hidup orang lain mencari uang. Seharusnya ia bisa bertahan hidup dengan kecukupan, tanpa harus mengambil dan memanipulasi jamaah.

Dengan kondisi travelnya yang semakin berkembang, seharusnya ia fokus saja pada pengembangan perusahaan dengan sebaik-baiknya. Bisnis model ponzi yang digunakan malah membuat mereka jatuh dan kembali terpuruk, bahkan lebih terpuruk dari pada awalnya. Apakah karena keinginan cepat kaya akhirnya membuat mereka terdorong untuk melakukan itu semua? Mungkin iya.

Saya bukan ahli psikologi, tetapi jika saya melihat dari kasus ini, sepertinya mereka sangat tertekan dan tertahan dalam masa sulit hidupnya. Seketika mereka berhadapan dengan uang yang banyak dan berlimpah, ibarat balas dendam, tidak tanggung-tanggung limpahan harta dan mewahnya gaya hidup langsung mereka beli. Padahal, belum mengukur akankah uang itu kembali, dan apakah ada jaminan mereka akan terus langgeng dalam kehidupan serba megah itu?

Di salah satu video yang dibuat oleh First Travel, diungkapkan oleh Anniesa, bahwa di masa lalu ia sering dicemooh dan merasa terhina. Mungkin energi itu yang terus terbawa hingga kini, dan membuat akhirnya ia balas dendam atas penderitaan masa lalunya. Mungkin saat ini menjadi pembuktian dirinya pada khalayak bahwa ia bisa kaya dan terhormat. Ini hanya perkiraan saya saja, tetapi energi di masa lalu sesungguhnya begitu kuat dan bisa mendominasi jika tidak pintar-pintar kita mengelolanya.

Saya teringat salah satu teori psikologi, bahwa masa lalu seseorang, bekasan-bekasan mendalam, keinginan yang terpendam dan tertahan kadang bisa membludak di satu waktu ketika sudah ada pelampiasan yang bisa memuaskan segala yang terpendam. Energi negatif seakan-akan telah menguasai diri Annisa dan Andika, hingga mereka lupa masa lalunya, lupa dan tidak bisa empati pada orang-orang susah yang telah membayar biaya umrah pada mereka.

Satu pelajaran berharga bagi saya saat ini. Buatlah energi positif saat kita dirundung masalah dan diuji Allah dengan berbagai kesulitan. Jangan sampai energi negatif menguasai kita. Buktikanlah ap ayang kita lakukan hanya kepada Allah SWT bukan pada manusia. Membanggakan diri di hadapan manusia, hanya akan membuat kita kecewa.

Satu hal lagi yang juga penting. Berdoa pada Allah meminta harta yang berkah, usaha yang berkah, dan rezeki yang halal. Meminta kaya dan berlimpah harta belum tentu Allah berikan kerbekahan. Tapi harta berkah dan bermanfaat tentu lebih penting dari triliunan harta yang kita miliki.

Semoga kasus ini bukan hanya membuat kita menjadi “penyinyir” saja tapi sekaligus pengingat dan hikmah yang besar. Di postingan yang selanjutnya, saya ingin coba mengambil sedikit pandangan tentang kasus ini tentang Gaya Hidup dari sudut pandang yang lain.

Semoga bermanfaat.

”Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shalih adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan” [QS. Al-Kahfi : 46].

 

Gambar Utama diambil dari : detiknews.com

You may also like

2 Comments

  1. Harta memang godaan berat di dunia. Kalau tirai saja mencapai 700juta, rumahnya sudah bisa dipastikan jauh lebih mahal, dan itu uangnya dari uang calon jamaah semua. Kasian jamaah yang benar-benar menunggu untuk umrah, terutama yang bersusah payah mengumpulkan uangnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *