ANTARA LINGKUNGAN DAN DIRI SENDIRI

Akhir-akhir ini, rasanya saya semakin bersemangat untuk bekerja. Rasa lelah karena banyaknya pekerjaan atau deadline yang terus menerus berderet di kalendar bisa terbayar ketika melihat hasil pekerjaan yang cukup produktif.  Salah satu hal yang membuat saya semangat untuk terus produktif, merasa bermakna, dan terus menerus berpikir hal-hal baru adalah karena lingkungan yang menurut saya sangat open dan memancing saya untuk berpikir kreatif.

Tahun sebelumnya, saya berada di linkungan, dimana mulai dari atasan, teman-teman, dan juga sekitar saya di kantor tidak terlalu mendukung bagi kestabilan motivasi saya. Saya belum menemukan teman-teman yang cocok untuk diajak sparing partner. Mungkin untuk sekedar diskusi keseharian, bergosip, membahas hal-hal tentang belanja, makan, dsb tentu saja ada. Tapi, saya tidak menemukan dimana mereka yang bisa saya ajak berdiskusi di luar kebiasaan.

Buat saya seorang wanita, membicarakan tentang keseharian seperti masalah make up, skin care, berita artis, online shop bisa jadi kebahagiaan tersendiri. Ya, tapi hanya sekedar senang atau melepas penat saja. Dan apakah saya mendapatkan sesuatu yang baru, sesuatu yang lebih bermakna, sesuatu yang sesuai dengan passion dan visi hidup saya? Jawabannya, NO.

Saya butuh diskusi tentang sosial, politik, agama, ilmu-ilmu terbaru, hal-hal yang berhubungan dengan karir, dsb yang biasa dibicarakan oleh orang-orang yang memiliki growth mind. Diskusi-diskusi seperti ini, biasanya saya lakukan saat pulang ke kosan. Ada sahabat saya yang bisa diajak untuk berdiskusi dan nyambung dengan masalah-masalah ini. Bukan hanya masalah keseharian, tapi hal-hal baru yang mungkin bisa kita pelajari bersama. Selebihnya, saya belum menemukan hal itu di tempat kerja.

Tapi kali ini, alhamdulillah setelah saya melewati 1 tahun dan berhadapan dengan 1 tahun yang baru, saya bisa menemukan Divisi yang memiliki orang-orang “gila”. Saya juga bertemu dengan kawan-kawan yang pikirannya maju, inovatif, dan selalu memikirkan perkembangan diri serta ingin kontribusinya untuk lebih luas. Walaupun tidak semuanya, tapi setidaknya ada dua teman yang bisa nyambung dengan saya untuk hal ini. Mulai tengah tahun 2017-2018, saya pun berasa hidup kembali dan jiwa-jiwa workaholic saya seperti muncul kembali.

Kenapa bisa? Karena saya merasa lingkungan yang baru ini memberikan saya ruang kebebasan untuk berpikir, berdiksusi, berbeda pendapat, dan memikirkan hal-hal baru. Apakah ini lingkungan yang sempurna dan ideal? Ya tidak juga. Karena ada banyak kekurangan, tapi setidaknya saya bisa lebih bebas membuka ruang-ruang diri saya, pikiran saya, bahkan hal-hal baru yang belum pernah saya temui sebelumnya.

Di usia yang semakin dewasa ini, saya semakin sadar bahwa saya punya karakter yang mood-nya sangat mudah terpengaruh oleh situasi lingkungan. Saya bisa sangat bersemangat, bahkan berkali kali lipat lebih semangat dari orang-orang yang bersemangat di sekitar. Tapi saya juga bisa lebih sedih jika ada orang yang sedih di sekitar saya. Untungnya, fluktuasi emosi ini terjadi di tataran mood atau psikis saja. Untuk masalah nilai-nilai, pemikiran, dan prinsip-prinsip diri saya cenderung orang yang tidak terlalu gampang terpengaruh. Apalagi kalau prinsip sebelumnya cukup kuat menancap.

Kebahagiaan saya menemukan lingkungan yang kondusif ini, di sisi lain membuat saya terus berpikir. Saya sadar bahwa diri yang sangat bergantung kepada lingkungan itu tidak terlalu baik. Mungkin kelebihannya bisa jadi saya mudah berempati, tapi disisi lain saya bisa jadi terlarut pada masalah yang bukan masalah saya sendiri. Selain itu, lingkungan yang saya hadapi tidak selalu ideal dan sempurna. Lingkungan dimana saya berada, terutama lingkungan bekerja, tentunya akan selalu berhadapan dengan berbagai karakter manusia, berbagai latar belakang, dan berbagai macam hal lainnya yang ada pada manusia. Selagi lingkungan yang kita hadapi adalah manusia-manusia, maka tentu ketidakidealan pasti akan kita hadapi. Mana mungkin ada manusia yang sempurna?

Andai saya bergantung selalu pada kondisi lingkungan, maka bisa jadi lingkungan tidak berubah dan yang ada saya akan berada dalam kondisi yang stagnan. Bisa jadi jika berhadapan dengan lingkungan yang buruk atau tidak sesuai dengan saya, maka selama itu pula lah saya akan terus menerus dalam keterpurukan.

Pilihannya memang ada dua. Mencari dan selalu mencari lingkungan yang sesuai walau harus berpindah-pindah atau saya bertahan dengan pendirian dan terus beradaptasi dengan lingkungan tanpa harus merubah prinsip-prinsip diri saya.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *