SEHARI SINGGAH DI SUMBAWA

Menjelang Idul Adha 1439 H yang lalu, saya mendapat tugas dari kantor untuk liputan dan menggali content untuk kebutuhan komunikasi di wilayah Lombok dan Sumbawa. Biasanya menjelang Idul Adha, kami harus menggali content tentang para peternak dan program pemberdayaan di berbagai daerah. Mendapatkan tugas ini pertama kali, rasanya surprise karena saya jarang-jarang dikirim ke luar pulau. Biasanya hanya di sekitaran pulau Jawa saja. Perjalanan ini pun saya tempuh bersama dengan teman saya yang juga sesama wanita.

Di tulisan yang lain, akan saya ceritakan pengalaman saya saat bertugas di Lombok yang saat saya kesana, tepat 3 hari sebelumnya telah terjadi bencana gempa bumi 6,4SR. Waktu itu, menurut manajer di kantor saya, daerah Mataram cenderung aman. Jadi saya pun tetap berangkat sambil meminta pertolongan pada Allah SWT agar selamat dan kembali ke Jakarta dengan aman.

Perjalanan ke Sumbawa dari Lombok, awalnya akan saya tempuh melalui jalur darat dan laut, menggunakan travel lalu masuk ke kapal hingga sampai ke Sumbawa. Tiket travel pun sudah saya pesan untuk keberangkatan pukul 07.30 pagi, dengan perjalanan kurang lebih 7-8 jam. Beberapa orang yang pernah ke Sumbawa dari Lombok memang menyarankan saya dan teman saya untuk naik travel dan kapal saja. Menurut mereka pemandangan lautnya sangat bagus. Walaupun perjalanan memakan waktu 8 jam, tapi tidak akan bosan karena menikmati pemandangan yang indah.

Tetapi kondisi pun berkata lain. Saat makan malam, saya melihat berita bahwa laut di Lombok dan Sumbawa sedang pasang. Apalagi pasca gempa bumi terjadi, ada perasaan was-was kalau-kalau terjadi tsunami. Teman saya pun jadi ikut khawatir. Akhirnya pukul 21.00 saya pun memutuskan untuk tidak menggunakan travel dan kapal dan segera memesan tiket pesawat Sumbawa agar lebih aman dan nyaman. Lagipula, dengan menggunakan pesawat perjalanan lebih singkat yaitu hanya sekitar 1 jam.

Pesan tiket dengan cepat di pegipegi. Langsung check seat, harga, dan checkout untuk bayar

Saya pun segera buka aplikasi pegi-pegi dari smartphone. Alhamdulillah, tiket pesawat Lombok-Sumbawa masih ada dan tersedia di keberangkatan pukul 07.00. Tanpa panjang lebar, saya pun segera checkout dan melakukan pembayaran. Lega rasanya saat tahu bahwa masih ada seat yang tersisa. Kami khawatir tidak bisa melakukan perjalanan ke Sumbawa, padahal tiket pulang Sumbawa-Jakarta sudah kami pesan untuk keberangkatan esok harinya. Khawatir agenda kantor gagal hanya gara-gara hal ini. Untungnya kami masih bisa selamat dan sampai di Sumbawa dengan selamat.

Saat jalan-jalan lebih mudah dan murah dengan Pegipegi. Perjalanan panjang lebih terencana dan nyaman

Menikmati Kota Sumbawa yang Mungil

Sesampainya di Bandara Sumbawa, saya dan teman saya pun dijemput oleh Pak Samsu. Beliau ini adalah mitra peternak dari kantor saya, yang juga menjalankan program-program pemberdayaan peternak di Sumbawa. Ia pun bertanya-tanya, mengapa akhirnya saya memilih menggunakan pesawat padahal sebelumnya menggunakan travel? Tapi kondisi tersebut pun ia pahami, sambil tertawa karena melihat kami bercerita penuh antusias. Hehehe.

Pesawat kecil di Bandara Sumbawa yang mungil

Saat berada di bandara Sumbawa, saya tidak menyangka kalau bandara yang ada disana ternyata sangat kecil. Mungkin kalau di daerah perkotaan ini tidak ada bedanya dengan kantor kecamatan, hehehe. Begitupun dengan sistem keamanan yang ada di Bandara, sangat lenggang dan tidak begitu ketat. Orang dengan mudah masuk dan kembali ke ruang tunggu tanpa security check.

Tapi suasana di kota ini pun tidak terlalu ramai. Jalan raya utama yang ada di Sumbawa cukup lebar, tetapi mobil-mobil dan motor yang berlalu lalang juga tidak terlalu banyak. Sangat mudah untuk menghitungnya karena tidak sepadat di kota besar. Saya pun dengan sangat mudah dan nyaman berjalan kaki di pinggiran jalan, karena jalan yang besar ini jarang ada kendaraan berlalu lalang. Bahkan, selama disana, saya pun juga jarang melihat adanya kendaraan umum. Apalagi ojek online. Sepertinya hampir tidak ada.

Di situasi seperti ini, saya merasa sangat fresh. Walaupun cuaca di Sumbawa yang sangat kering dan panas, tetapi angin semilir masih berhembus sejuk. Selain itu, tidak seperti di Jakarta, dimana jalan raya penuh suara klakson bersahut-sahutan, dan yang lebih kencang lagi adalah suara sumpah serapah orang-orang yang bertengkar di jalanan. Disini tentu tidak. Apa yang mau diributkan? Hehehe.

Di peternakan yang ada di Sumbawa, Desa Baru Tahan

Setelah sarapan di kedai yang ada di dekat Bandara, saya pun diantar Pak Samsu menuju peternakan. Peternakan yang akan kita tuju ada di Desa Baru Tahan. Jika ditempuh dari pusat kota, memakan waktu sekitar 30 menit.  Memasuki wilayah desa, saya pun sudah melihat sapi-sapi berkeliaran di padang rumput. Pohon-pohon kering dan kaktus pun banyak tumbuh di sekitar wilayah desa. Rasanya, jarang-jarang melihat pemandangan seperti ini. Sepi, damai, dan nuansa alam yang eksotis masih saya dapatkan disini.

Bercengkrama dengan Masyarakat di Desa Baru Tahan

Saat mereka tahu bahwa saya berasal dari Jakarta, mereka sangat senang. Di rumah Pak Samsu, saya dan teman saya pun disambut dengan sangat ramah. Mereka mengajak ngobrol, bercerita tentang kehidupannya di Sumbawa, dan bagaimana mereka hidup dengan kebiasaannya di Sumbawa. Keluarga Pak Samsu ini, termasuk keluarga yang sangat terkenal di kampungnya. Selain karena keluarganya yang berpendidikan, mereka rata-rata juga adalah pemilik sawah dan ternak di desanya. Beberapa diantaranya juga adalah PNS.

Bercengkrama dengan anak-anak Sumbawa. Mereka sangat antusias untuk difoto karena kemana-mana saya bawa kamera, tripod, dan berbagai peralatan untuk pengambilan content hehehe
Bersama Pak Samsu, Mitra Peternak dari Kantor yang menemani saya dan teman selama di Sumbawa

Tepat saat saya berkunjung kesana, malam harinya di rumah keluarga Pak Samsu akan ada acara aqiqah. Ada sekitar 50 anak-anak TKA-TPA yang akan diundang ke rumahnya. Aqiqah ini juga kebetulan titipan donatur dari kantor saya. Mereka pun bergotong royong memasak sajian daging kambing yang dimasak di atas kayu-kayu, bukan dengan kompor.

Adik-Adik TPA yang datang ke rumah Pak Samsu, untuk mengaji dan menikmati daging Aqiqah titipan donatur

Masyarakat Sumbawa, yang notabene tinggal di pedesaan masih sangat kekeluargaan dan sangat gotong royong. Berada di sana seperti disambut keluarga sendiri. Mereka malah mengajak saya dan teman saya untuk tidak pulang besok paginya karena mereka ingin mengajak kami untuk jalan-jalan ke pulau-pulau kecil di dekat Sumbawa dan menikmati suasana pantainya. Sayangnya, perjalanan saya harus segera berakhir besok pagi.

Jalan-Jalan di Sekitar Pusat Kota Sumbawa

Walaupun tak sempat mampir ke tempat wisata di Sumbawa, saya dan teman saya tetap berusaha menyempatkan mencari tempat terdekat untuk sekedar berfoto, sebagai kenang-kenangan perjalanan di Sumbawa. Akhirnya kami pun mampir sebentar di Masjid Agung Sumbawa dekat alun-alun, dan berfoto di sekitarnya.

Walaupun tak banyak tempat-tempat yang kami singgahi, tetapi pengalaman pertama ke Sumbawa ini membuat saya pun ingin kembali kesini. Menikmati berbagai nuansa alam yang lainnya dan tentu mencoba beragam aktivitas lainnya.

Jalan-jalan selepas bertugas di Instana Dalam Loka Sumbawa. Ini adalah istana dalam bentuk rumah adat khas Sumbawa

Sebetulnya, Sumbawa memiliki potensi wisata yang cukup besar. Tetapi jarang orang yang memperhatikan pulau ini dibanding Lombok atau Bali. Mungkin karena pengelolaan dan belum termonetasi dengan baik. Misalnya saja, di Sumbawa jarang sekali hotel atau penginapan yang bagus. Kalaupun ada penginapan dekat pantai, tetapi fasilitas dan kondisinya kurang baik.

Begitupun saat saya menginap di hotel di dekat Bandara Sumbawa. Kelebihannya hanya dekat dengan Bandara. Saya hanya tinggal berjalan 5 menit, lalu sampai di Bandara. Jangan bayangkan Bandara Soekarno Hatta yang masuknya saja sudah harus paham di terminal berapa, hehehe. Namun, secara fasilitas dan suasana hotelnya masih sangat jauh dari hotel-hotel yang layak. Semoga kedepannya, Sumbawa bisa dikelola dengan lebih baik dan mengundang para wisatawan tertarik untuk kesini.

Setelah 1 malam singgah di Sumbawa, keesokan harinya, pukul 08.00 saya harus kembali ke Jakarta karena tugas sudah selesai. Flight menuju Jakarta dari Sumbawa tidak bisa langsung, jadi harus transit dulu sekitar 2 jam di Lombok. Tapi alhamdulillah perjalanan lancar tanpa kurang apapun. Rasanya ingin kembali lagi kesini, mampir ke tempat-tempat yang belum saya singgahi. Semoga saja ada kesempatan lagi untuk ke Sumbawa dan saat saya kembali, Sumbawa sudah lebih berkembang lagi.

You may also like

8 Comments

  1. Sumbawa ini masuk dalam daftar bucket list-ku. Aku kok penasaran dengan eksotisnya pulau ini.
    Suka deh kalo ada orang yg nulisin pengalamannya main di Sumbawa. Semoga bisa balik lagi ya mbak.

  2. Yuk sama sama berdoa supaya Sumbawa bisa dapat perhatian pemerintah juga, agar fasilitas hotel dan tempat wisata bisa dikelola lebih baik lagi.. karena setau saya pun Sumbawa itu menarik

  3. kerja sambil jalan jalan ini judulnya. hehehe

    Seneng banget ya cerita perjalanan kayak gini yang nggaka hanya bercerita tentang keindahahn tempat tapi juga orang orangnya. human interest.

    Semoga Lombok pulih segera dan Bisa sambang lagi ke Sumbawa. Aamiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *