ITINERARY YOGYA 4 HARI 3 MALAM (PART-1)

Bagi yang butuh referensi itinerary yogya 4 hari 3 malam, ini pengalaman saya dan suami saat jalan-jalan di Yogya. Semoga membantu dan menginspirasi perjalanan kalian ya. Rasanya, gak pernah bosan jalan-jalan di Yogya. Selalu ada pengalaman baru, selalu ada cerita baru, dan selalu excited dengan kota yang masih sangat kental dengan budaya lokalnya ini. Di bulan September lalu, saya berkesempatan jalan-jalan bersama dengan suami di Yogya selama 4 Hari 3 Malam. Inginnya, sih semua tempat-tempat asik di penjuru Yogya bisa kita kunjungi, tetapi karena waktu yang terbatas dan jatah cuti yang semakin menipis, akhirnya hanya beberapa tempat saja yang bisa kita kunjungi.

Sebenarnya, bukan hanya daerah Kota Yogya yang kami kunjungi, tetapi sampai ke daerah-daerah di sekitarnya juga, seperti Sleman, Magelang, dsb. Untuk jalan-jalan berdua ini, kita memilih untuk pakai motor dibanding mobil. Selain karena lebih hemat dan menghindari macet, pakai motor lebih intimate sih hehehe.

Jadi sebelum ke Yogya, kita sudah booking via whatsapp ke penyewaan motor. Kebetulan penyewaan motor ini kenalannya teman saya, jadi sudah enak dan terpercaya. Bahkan motornya juga langsung diantar ke hotel tempat saya menginap. Syarat peminjamannya hanya butuh menyerahkan KTP saja. Setelah itu kunci motor, motor, beserta dua helm dipinjamkan kepada kita. Untuk pembayarannya pun di akhir setelah sewa motor selesai.

Di Yogya kemana saja? Ini itenerary Yogya 4 Hari 3 Malam,  perjalanan saya bersama suami. Semoga bermanfaat bagi yang akan jalan-jalan di Yogya ya.

Hari Pertama di Yogya

Jam 13.00 kami berdua naik pesawat dari Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta untuk menuju Bandara Adi Sucipto Yogya. Alhamdulillah perjalanan lancar dan pukul 14.00 kami sudah sampai di Bandara Yogya.

Menggunakan taxi online dari Bandara Yogya, kami pun menuju Hotel Grand Serela yang ada di wilayah Sleman. Walaupun ini wilayah Sleman, tapi hotel ini masih di perbatasan antara Yogya dengan Sleman. Jadi masih sangat dekat kalau mau jalan-jalan ke daerah Yogya. Sedangkan, kalau kita mau jalan-jalan ke wilayah Magelang atau wilayah Sleman lainnya pun tinggal lurus aja mengikuti jalan besar Yogya-Magelang dan dekat juga dari Hotel.

Kamar Hotel Superior di Grand Serela (Maafkan Gelap karena di foto saat dini hari kita akan berangkat + masih berantakan)

Kami menginap 4 Hari 3 malam di Hotel ini. Untuk kenyamanan dan fasilitas, hotel ini biasa saja sih. Tidak terlalu bagus tapi juga tidak bisa dibilang jelek atau tidak nyaman. So far, selama menginap disini cukup nyaman dan betah. Kami sengajak tidak memilih hotel yang fasilitasnya lengkap dan berbintang-bintang, karena memang sudah berencana bukan untuk staycation melainkan jalan-jalan ke banyak tempat. Jadi, tidak akan terlalu lama-lama di Hotel, selain dari istirahat, tidur, dan sarapan.

Jam 15.00-16.00 kami pun istirahat sebentar di hotel sambil memikirkan mau makan apa dan kemana. Kebetulan kami belum punya rencana yang pasti untuk jalan-jalan kemana saja, jadi benar-benar random dan spontan saat itu saja direncanakan. Hehehe.

Pukul 16.00 kami pun mulai keluar hotel dan menuju Rumah Makan Jejamuran yang ada di Jalan Pendowoharjo Niron, Pandowoharjo, Sleman. Dari hotel ke Jejamuran menempuh waktu sekitar 30 menit. Waktu itu sempat hujan gerimis, tapi kami hadang aja. Hehehe. Tapi pastinya tidak rugi karena bisa menikmati berbagai menu jamur yang enak-enak di rumah makan ini. Pelayanannya juga sangat cepat, jadi kita tidak perlu menunggu lama untuk bisa menikmati makanan yang kita pesan.

Saat sebelum menikmati makanan di Rumah Makan Jejamuran, Sleman, Yogya

Selain dari tempatnya yang sangat luas, suasana di Jejamuran juga sangat romantis. Ada beberapa tempat yang bisa kita pilih. Saya dan suami memilih tempat yang lampunya agak kuning temaram dan dekat dengan air mancur serta kolam ikan. Suara gemercik air jadi makin bikin betah deh. Oya, Jejamuran juga punya musholla yang cukup besar dan nyaman. Jadi tidak perlu khawatir kalau setelah jalan-jalan jauh dan mengejar waktu shalat, bisa shalat disini aja.

Sekitar pukul 19.00 kami pun selesai makan di Jejamuran. Tapi kami baru ingat kalau ternyata kami tidak membawa jaket. Padahal, cuaca di sekitar Yogya saat itu sedang musim hujan dan cukup dingin. Apalagi kami juga menggunakan motor kemana-mana, akhirnya kami pun mampir dulu membeli jaket sebelum pulang ke hotel.

Setelah searching, kami pun mampir sebentar ke Toko Sakola Jalan Kapten Tendean No. 47 Wirobrajan, Yogya. Saya dan suami membeli jaket masing-masing 100ribu saja. Jadi toko baju ini sangat lengkap sekali lho! Saya saja tidak percaya, suami saya bisa dapat jaket bomber yang kece hanya dengan harga 100ribu. Hahaha.

Hari Pertama, tidak terlalu banyak menghabiskan waktu lama-lama di luar. Kami langsung kembali ke hotel, karena rencananya besok pagi ingin lihat sunrise di Punthuk Setumbu dan harus berangkat dari hotel pukul 03.30 pagi.

Hari Kedua di Yogya

Kemana saja kami berdua di hari kedua? Yang jelas kami mulai bangun sejak pukul 03.00 dan berangkat perjalanan pukul 04.00. Walau sedikit mengantuk dan rasanya masih ingin menempel di tempat tidur, kami tetap excited bersiap melihat sunrise.

  1. Punthuk Setumbu

Kami harus bangun sepagi mungkin untuk bisa melihat sunrise yang muncul dari Candi Borobudur. Akhirnya kami pun berangkat pukul 04.00 dari hotel menuju Punthuk Setumbu. Sebenarnya ingin sih melihat langsung sunrise dari Borobudur, tetapi biayanya cukup mahal. Kami pun tidak ingin berspekulasi karena belum tentu juga bisa terlihat pemandangan sunrise padahal sudah mengeluarkan kocek yang lumayan. Mending dibuat jajan dan coba makanan baru, hehe.

Punthuk Setumbu, salah satu destinasi Cinta dan Rangga dalam film AADC

Perjalanan menuju Punthuk Setumbu sedikit menyedihkan karena hujan gerimis datang subuh ini. Tapi kami lanjut perjalanan dengan menggunakan jas hujan. Untungnya hujan tidak lama dan kami pun tidak basah kuyup. Pukul 04.45 kami sudah sampai di Puthuk Setumbu. Kami pun shalat dulu di mushola kecil yang ada di dekat tempat parkiran.

Mendaki dari bawah menuju Punthuk Setumbu, rasanya lumayan melelahkan bagi saya yang jalan jauh dan naik-naik ke atas gunung (duh payah ya, hehe). Kami pun menunggu sampai pukul 06.30 tapi benar saja, pemandangan tertutup kabut. Pengunjung sudah ramai padahal dan ada yang mau shooting untuk pembuatan video juga. Tapi sayang, alam berbicara lain.

Sunrise yang terutup kabut di Punthuk Setumbu

Sambil menunggu kabut, saya pun ngantuk sekali rasanya. Tanpa sadar, saya pun tertidur sampai 1 jam lamanya di Punthuk Setumbu. Suami saya membiarkan saya tidur terlebih dahulu sampai saya terbangun sendiri dan melihat di sekitar sudah tidak ada pengunjung lain yang ada di atas. Hehehe.  Akhirnya selepas saya bangun dari tidur, kami pun melanjutkan perjalanan untuk ke Candi Borobudur dan mencari sarapan dulu tentunya.

  1. Borobudur

Sekitar jam 07.30-08.30 saya bersama suami pun mencari-cari tempat makan di sekitar Borobudur. Sebetulnya agak aneh dengan Magelang, di tengah-tengah tempat wisata seperti ini, mengapa pukul 07.30 belum banyak penjual makanan? Resto dan juga warung makan masih belum buka dan kami pun bingung akan sarapan dimana? Hampir 1 jam berlalu, kami pun tidak menemukan tempat makan yang layak dan benar-benar khas lokal daerah sini. Akhirnya kami pun masuk ke Borobudur dan makan di tempat-tempat jualannya. Tapi sayang sekali, harganya tidak sesuai dengan rasanya.

Arca di Candi Borobudur

Selesai sarapan, kami pun langsung masuk ke area Candi Borobudur. Sayangnya, kami disini tidak menggunakan jasa travel guide. Jadi, kami pun hanya mengingat kembali sejarah dan informasi detail tentang candi, hanya membaca di papan-papan informasi. Sambil sesekali kalau ada anak-anak sekolahan yang sedang mendapat penjelasan gurunya, kami pun ikut-ikut mendengar. Hehehe.

Dulu, Borobudur masuk dalam 7 keajaiban dunia ya? Tapi sayangnya sekarang tidak lagi. Saya pun melihat, kawasan wisata candi Borobudur ini nampaknya kurang dimonetasi. Tidak banyak informasi tentang candi, event-event disini juga jarang-jarang diadakan, dan dari segi kerapihan masih jauh dari Candi Prambanan (nanti saya ceritakan ya). Semoga kedepannya, ada perbaikan ya. Supaya semakin banyak wisatawan yang mampir ke Borobudur.

  1. Makan Siang di Warung dan Kopi Khas Wirosani

Seperti saya ceritakan sebelumnya, kami tidak merencanakan secara detail perjalanan di Yogya. Benar-benar berpikir dan mencari ide on the spot. Akhirnya, sekitar pukul 11.00 kami duduk di sekitar pintu Borobudur. Suami saya akhirnya terpikir untuk mencari tempat makan enak dan suasana alam-nya masih segar, misalnya makan dengan pemandangan sawah.

Eh, ketemu dong! Akhirnya kami dari Magelang, menuju daerah Wirosani, Sleman dan Makan Siang di Warung dan Kopi Khas Wirosani.

Warung Kopi Wirosani, Gondong, Donoharjo, Ngaglik, Kabupaten Sleman, Yogya

Disini udaranya sejuk sekali dan nuansa alamnya dapet banget. Gak nyangka ada resto dan café seperti ini, di tengah-tengah desa hehehe. Perjalanan dari Magelang ke Wirosani ini sekitar 45 menit dengan menggunakan motor. Lumayan jauh sih ya, 45 menit di sini nggak sama dengan di Jakarta pastinya. Tapi saya dan suami nggak nyesel, karena bisa menikmati beragam menu yang harganya sangat murah plus nuansa alam yang sejuk. Ditambah hujan rintik-rintik, makin bikin kita gak mau pergi dari sini.

Suasana Outdoor di Warung Kopi Wirosani (sayang hujan, jadi nggak bisa duduk disitu)

Oya kopi disini juga enak sih kalau kata suami saya yang pecinta kopi. Soal harga, ya jauh dari kopi-kopi yang ada di kedai atau café tengah kota. Tapi kualitasnya yang masih OK lah. Hehehe. Walaupun jauh, kalau kalian pergi-pergi ke daerah Yogya atau Sleman, bisa lah mampir dulu kesini. Kami pun menghabiskan waktu dari pukul 13.00-14.30 di Warung Wirosani, selanjutnya kita akan langsung mengunjungi Musium Ullen Sentalu.

  1. Museum Ullen Sentalu

Setelah kenyang menikmati menu yang ada di Warung Kopi Wirosani, saya pun bersama suami langsung melaju ke Museum Ullen Sentalu yang ada di Kaliurang, Sleman, di bawah kaki gunung merapi. Perjalanan dari Warung Kopi Wirosani menuju Museum Ullen Sentalu sekitar 20 menit dengan jarak 12,9 Km. Tenang aja, walaupun jauh jaraknya perjalanan cepet kok karena gak macet, hehehe. Ditambah suasana yang sejuk-sejuk damai dan tentram sekali.

Suasana di depan pintu masuk Museum Ullen Sentalu ( Jl. Kaliurang, Kaliurang Barat, Pakembinangun, Pakem, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta)

Awalnya, saya juga agak sanksi. Emang ada ya, museum di bawah kaki gunung, masuk-masuk ke daerah seperti hutan ini? Ternyata beneran ada hehehe. Suami saya bilang museum ini sempat dapat penghargaan gitu. Sesampainya disana, ternyata terlihat tidak seperti museum. Kelihatannya sangat moderen dan lebih cocok dibilang Art Gallery kalau dari luar. Padahal di dalamnya ada banyak benda-benda bersejarah, lho!

Suasana saat keluar dari Museum Ullen Sentalu

Untuk berkeliling museum, nantinya kita akan diajak bersama dengan pengunjung lainnya bersama-sama dengan guide. Waktu disana, saya barengan dengan dedek-dedek mahasiswa Yogya yang lagi liburan sama teman-temannya. Hehehe. Tapi asyik sih, mereka senang bercanda soalnya, hehehe.

Tiket Masuk Museum Ullen Sentalu @40.000 Rupiah

Setiap masuk kesini, kita akan bayar 40.000 Rupiah saja. Nanti saat jalan-jalan keliling museum, kita akan dipandu oleh guide dari Ullen Sentalu. Waktu kesana, saya dipandu oleh seorang Mbak yang sepertinya hafal sekali sejarah-sejarah Indonesia, khususnya di Yogya. Dia juga sepertinya sudah hapal betul kisah dan cerita di balik setiap foto, lukisan, atau benda-benda yang ada. Sayangnya, saat berkeliling kita tidak boleh mengambil foto atau video. Jadi Cuma menikmati dan mengikuti mbak-nya aja. Kalau mau foto-foto ada spot khususnya.

Yang bikin gak nyangka juga, disini ada ruang bawah tanahnya lho.

  1. Makan Es Krim Gelato

Setelah dari Museum Ullen Sentalu, kita lanjut akan kembali ke kota. Akhirnya kami pun melakukan perjalanan dari Kaliurang menuju Tempo Gelato dengan jarak hampir 27Km. Jauh banget ya mainnya? Hehehe. Jadi, ada waktu sekitar 1 jam untuk perjalanan kesana. Dari Museum Ullen Sentalu, kami berangkat pukul 15.30 dan sampai di Tempo Gelato sekitar pukul 16.30 lebih.

Es Krim Tempo Gelato Yogya (Jl. Prawirotaman No.43, Brontokusuman, Mergangsan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta)

Penasaran sih sama es krim satu ini. Jadi, walaupun hujan ya tetep aja dingin-dinginan makan es krim. Hehehe. Setelah coba, ternyata kalau saya lebih suka es krim susu biasa lho dibanding gelato. Entah kenapa ya? Terus saya dan suami ambil porsi yang harganya 40ribu dengan bonus wafle kering. Kenyang banget, sampai-sampai saya juga gak habis. Hehehe.

Gak lama-lama disini, kami pun langsung ke hotel untuk mandi dan istirahat sebentar.

  1. Jalan Malam Santai di Malioboro dan Makan Malam di Angkringan

Setelah istirahat sebentar hingga waktu isya, kami pun melanjutkan jalan-jalan sebentar di Malioboro. Suami saya juga ingin banget lihat musik jalanan yang ada di pinggiran trotoar Malioboro. Akhirnya kami pun mampir sebentar dan menikmati musik serta hebohnya orang-orang yang ikut bergoyang. Walaupun bukan hari libur, ternyata Malioboro tetap ramai dan macet ya.

Hiburan rakyat di Jalan Malioboro Yogya

Karena belum makan malam, kami pun makan malam di angkringan. Angkringan yang kami pilih adalah Cak Lek Man yang sangat legendaris di Yogya. Katanya, angkringan ini sudah ada sejak 1950 dan turun temurun dikelola keluarga. Harganya memang sangat murah dan rasanya juga enak. Saya pun gak segan-segan mengambil beberapa tusuk sate dengan berbagai jenis dan 2 nasi kucing. Hehehe. Angkringan Lek Man ini ada di sekitar Stasiun Tugu Yogya. Walaupun berada di jalanan yang tidak terlalu besar, jalanan ini pinggir-pinggirnya adalah angkringan lho. Disini selalu ramai pengunjung dengan menikmati makannya lesehan di sebrang tenda angkringan. Kapan lagi coba makan seperti ini, kalau nggak ke Yogya?

Makan enak, kenyang, tapi hemat. Setelah kenyang, kami pun segera kembali ke hotel. Rasanya lelah sekali setelah perjalanan berpuluh kilo menggunakan motor.

Itulah itinerary perjalanan saya bersama suami di Yogya selama 2 hari. Selanjutnya akan saya tulis juga untuk itinerary hari 3 dan ke-4. Semoga bermanfaat.

You may also like

9 Comments

  1. aaaah baca ini jadi kangen jogja. Makan di sekitar borobudur emang bikin nangis mbak. Dulu jaman disana saya bela-belain makannya di semarang (kos) wkwk

    Warung wirosani dan Museum Ulen sentalu kayaknya harus dijadiin wish list kalau ke jogja. Mbak boleh tau kontak penyewaan motor mbak? dan biaaya berapa per hari? kebetulan saya ada rencana ke jogja tapi agak bingung kalo ga ada motor. terimakasih mbak

  2. Seru banget ya mba, sayang hujan.
    Jogja emang selalu ngangenin banget.

    Pengen deh main ke sana pas liburan sekolah anak, tapi mikir juga karena udah masuk musim penghujan 🙂

  3. Aku udah dua kali ke Jogja, dan bisa aku bilang aku kurang cocok dengan kota ini, hehehehe. Soalnya apa ya, aku gak suka makanan manis sedangkan jogja makanannya kok rasanya dilidah aku manis semua >.< dan aku gak suka wisata sejarah, cocok deh, hehehe.

    Tapi banyak tempat yang baru ngehits di jogja, jadi galau mau ke sana lagi, tapi cukup jauh dari pontianak, kalau cuma pengen sehari dua hari aja, hmmm..

  4. Wah, banyak juga tempat yg mbak sebutin tadi. Yg kupernah cuma borobudurnya hehhee…
    Padahal dulu sering maen ke jogja. Asyik nih kalo ke jogja lagi bisa jadi panduan. Makasih ya mbak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *