Mengapa Saya Menulis? Inilah Alasannya

Ada beberapa hal yang ingin saya geluti saat ini di luar pekerjaan utama, yaitu menulis. Sejak SD saya senang sekali menulis apapun di buku harian saya terutama mengenai pengalaman dan aktivitas yang sudah saya lewati. Jika dibaca ulang saat ini begitu lucunya, ingin tertawa sendiri, dan yang pasti tulisan anak kecil begitu polosnya.

Sejak SMP saya pernah mencoba membuat blog sendiri. Isinya hanya satu , dua tulisan lalu tidak pernah saya update kembali. Lain cerita ketika SMA. Hampir setiap minggu saya bisa upload tulisan dan pengalaman saya di blog. Senang sekali rasanya ketika blog itu banyak dihampiri dan terlebih bisa membagi pengalaman pribadi pada orang lain. Sayangnya, blog tersebut saya tulis di friendster.com yang saat itu sedang hits. Namun belum sempat saya migrasi data, friendster sudah menutup semua lamannya, dan akses blog saya jadi hilang semuanya.

Oke, tidak masalah. Let’s start to make new blog again.

Seiring berkembangnya waktu, saya pun mencari-cari dan mendalami tentang dunia tulis menulis di blog atau menjadi seorang blogger. Banyak sekali manfaatnya dan tentu saja menjadi kenikmatan tersendiri ketika tulisan tersebut di baca oleh banyak orang. Mudah-mudahan saja menjadi bermanfaat bagi si pembaca. Mungkin ini yang dikatakan bahwa menulis adalah mengukir keabadian. Andai sudah tidak ada di dunia ini, tulisan dan apa yang ada di pikiran kita masih eksis, entah ada di buku atau di blog yang kita buat.

Ada banyak hal yang bisa saya dapatkan ketika menulis di web-blog, baik blog pribadi atau berkontribusi di web orang lain. Yang saya pikir, tidak ada ruginya menulis itu, apalagi jika tulisan kita berniat baik dan mengandung manfaat untuk orang lain.

Nah, ini adalah hal-hal yang membuat saya semakin menikmati aktivitas menulis, khususnya menulis di blog atau berkontribusi di web portal komunitas atau lainnya. Tentunya ada banyak manfaat lainnya, tapi hal-hal ini yang saya highlight, karena sudah saya rasakan langsung.

Menambah Ilmu dan Membentuk Cara Berpikir

Menulis bukan hanya menuangkan kata dan merangkainya menjadi kalimat. Untuk bisa membuatnya menjadi sebuah tulisan yang baik tentu saja membutuhkan pengetahuan dan cara berpikir. Banyak orang-orang yang bilang bahwa menulis mengalir saja. Menurut saya, mengalir pun membutuhkan pengetahuan, pengalaman, dan berpikir yang baik. Jika tidak, pasti tulisan kita entah kemana mengalirnya.

Walaupun tulisan saya belum berkualitas, dengan menulis saya menjadi sering untuk membaca lebih banyak, mencari inspirasi baru, belajar hal-hal baru yang kemudia membentuk juga cara berpikir saya lebih sistematis, open mind, dan terus menerus untuk menguji kualitas pemikiran. Hal ini tentu saja akan bisa dirasakan seiring waktu berjalan dan semakin kita sering menulis.

Tidak perlu takut juga merasa tulisan tidak berkualitas. Toh selalu ada ruang untuk perbaikan. Tidak perlu takut juga tema-nya tidak sesuai dengan kesukaan orang lain, toh semua orang punya kesukaan atau minat yang berbeda-beda. Selagi pengetahuan tersebut diaplikasikan, ada hikmah dan orientasi untuk kebaikan, maka tidak perlu khawatir menjadi mubazir.

Yeah, it’s note to my self.

Menebar Manfaat dan Kebaikan

Semakin banyak tulisan yang kita bagikan maka semakin banyak manfaat yang kita sebar. Tentu saja tulisan yang mengandung kebaikan dan beretika. Setidaknya, walaupun belum dan tidak semua orang menerima manfaatnya, tulisan itu akan menjadi kebaikan bagi diri kita sendiri.

Untuk itu, saya selalu berusaha mencari topik-topik apa yang bisa membuahkan hikmah dan manfaat. Walaupun sulit untuk menjadi tulisan berbobot dan berkualitas, berlatih dan mencari pengalaman tentunya hal yang harus dilakukan untuk bisa menjadi penulis handal. Apalagi di era digital seperti sekarang ini. Menebar keburukan saja bisa secepat kilat, seharusnya menebar kebaikan pun juga bisa dong.

Tulisan pertama saya yang di muat di web portal adalah yang berjudul, Begini Cara Perhatian pada Anak Walaupun Ibu Bekerja. Tulisan ini dimuat di website ummi-online saat saya coba-coba menulis dan sedang tertarik dengan dunia anak dan parenting (walaupun saya belum menjadi orang tua, saat itu saya banyak berhadapan dengan dunia anak dan pelajar, jadi seperti orang tua mereka sendiri). Terasa sangat bahagia ketika dilihat kembali sudah 11.221 yang membaca dan 1550 share di Facebook. Nah, ini rasa kebermaknaan menulis yang tidak bisa digantikan oleh apapun.

Saya pun melihat bahwa tulisan-tulisan kemanusiaan (feature) yang ada di website seperti kitabisa.com, website milik LAZNAS seperti Dompet Dhuafa, Aksi Cepat Tanggap (ACT), dan lain sebagainya bisa mengguggah dan menggerakkan orang. Saya berpikir bahwa beragam feature yang dibuat oleh mereka, dapat menarik simpati publik dan juga meraih pendanaan untuk program-program sosial kemanusiaan mereka. Coba bayangkan, berapa banyak kebaikan pula yang akan si penulis raih dari hasil tulisannya tersebut?

Untuk itulah, menulis dapat menebar manfaat dan kebaikan. Menjadi seperti itu, tentu saja saya masih belum handal. Lagi-lagi, it’s still process.

Membangun Networking dan Personal Branding

Tahun 2016 ini saya belajar tentang dunia blogger. Menulis di blog ternyata dapat membangun 2 hal yaitu networking dan personal branding. Networking ini karena kita bisa bertemu dengan para blogger lainnya lewat berbagai komunitas blog yang ada. Lebih asik lagi jika mereka memiliki niche yang sama dengan kita. Bertambah ilmu sudah pasti, bertemu orang baru yang lebih berpengalaman dengan kita itu poin plusnya.

Selain itu, personal branding juga bisa terbentuk dari niche di blog yang kita bangun. Walau kadang masih acak-acakan yang saya tulis di blog, tapi setidaknya dari tips blogging yang saya dapatkan, saya tahu bahwa idealnya blog kita memiliki niche yang spesifik dan konsisten. Untuk membangun personal dan blog branding kita tentu membutuhkan hal tersebut.

Nah ini yang kadang masih menjadi dilema saya. Terkadang menulis untuk berkontribusi di web portal milik yang lain lebih sering daripada menulis di blog sendiri. Hasilnya terkadang blog saya agak krik-krik berbulan-bulan.

Ada poin plus dan minus tentunya ketika menulis di blog sendiri atau menulis di web milik orang lain. Menulis di web orang lain biasanya tulisan kita langsung di baca oleh banyak orang, tapi jarang diingat siapa penulisnya. Jika di blog sendiri, akan mudah diingat siapa kita, dan bisa membangun brand di blog sendiri. Tetapi bagi saya yang belum banyak memiliki follower dan belum dikenal, tentu bisa sepi pengunjung.

Untuk itu, strateginya adalah menulis dan mempromosikan blog pribadi di web portal yang sudah dikenal. Mungkin istilahnya, berkontribusi sambil numpang promosi. He he he.

Menambah Penghasilan

Ini manfaat yang terkahir. Bagi blogger yang handal, menulis di blog sudah bisa menjadi lumbung penghasilan tersendiri. Bagi saya pribadi, menulis di blog belum bisa menjadi penghasilan utama, untuk itu hanya sekedar menambah penghasilan dan poin plus dari sekian manfaat lain yang sudah saya sebutkan di atas.

Salah satu contohnya, saya pernah merasakan nonton film favorit di bioskop ruangan kelas1. Kalau bukan karena hadiah dari kontribusi menulis saya di blog ruangguru.com, seumur hidup saya tidak akan pernah nonton di tempat yang harganya bisa 300 ribu lebih. Tapi namanya rezeki, ya disyukuri dan dinikmati. (Tulisannya bisa di lihat di sini)

Selain itu, ada juga beberapa tulisan yang menjadi tambahan penghasilan saya. Ya itung-itung untuk beli beras J sebulan. Yang ditayangkan di web dalamislam.com. Tulisannya simple dan masih mengutip dari berbagai sumber, tapi cukup membantu saya untuk mendalami dan mendapatkan pengetahuan islam yang kebetulan menjadi keminatan saya pribadi. Poin plusnya ada tambahan uang jajan buat sehari-hari, walaupun tidak besar.

Baiklah, itu semua pengalaman saya tentang manfaat menulis yang bisa saya rasakan. How about you? Let’s begin to write!

Continue Reading

Saatnya Bersama-Sama Bergerak untuk Indonesia | Review Seminar IP Fest 2016

Beberapa waktu lalu (8 Oktober 2016) di tanggal saya mengikuti kegiatan IP Fesr 2016 , sebagaimana yang telah saya review di posting sebelumnya. Sebelumnya mohon maaf karena posting ini termasuk posting yang terlambat akibat kesibukan lainnya.

Di review kali ini saya ingin berbagi tentang hal-hal yang saya dapatkan saat mengikuti salah satu sesi seminar di IP Fest kemarin yaitu dengan Judul Membangun Filantropi Keagamaan yang Strategis dan Inklusif. Tidak semuanya saya ikuti, untuk itu review ini hanya untuk seminar yang syaa ikuti saja. Beberapa Lembaga/Organisasi filantropi sempat menjadi pembicara dan membagi hal-hal yang menarik untuk diketahui oleh pegiat sosial. Sebelumnya mohon maaf atas keterbatasan review yang saya bagi ya.

Topik kali ini disampaikan langsung oleh 3 orang aktivis dan pengelola lembaga filantropi yang berbasis pada agamanya masing-masing. Diantaranya adalah Bapak Suriadi dari Yayasan Budha Tsu Tji, Tommy dari PKPU lembaga filantopi berbasis islam, dan James Tumbuan dari Habitat for Humanity yang berbasis agama kristen. Tentunya ini hal menarik dimana mereka membicarakan persoalan yang sama yaitu sosial dan kemanusiaan dalam satu ruang yang sama.

  1. PKPU – Pos Keadilan Peduli Ummat

PKPU adalah salah satu lembaga sosial kemanusiaan yang digerakkan awalnya oleh pemuda-pemuda islam sejak tahun 90-an. Awalnya lembaga ini, menurut Tommy (Program Director di PKPU) masih terkesan tradisional, mencari dana dengan keliling rumah sambil menggunakan peci. Namun hal ini berubah pasca kejadian Tsunami Aceh dan dibantu oleh seorang profesor. Tentu sangat berbeda sebagaimana hari ini bisa kita simak kiprah dan profesionalitas dari PKPU untuk ummat.

20161008_104049.jpg

 

PKPU digerakkan oleh Aktivis Mahasiswa yang pada dasarnya adalah para mahasiswa aktivis kampus di BEM ataupun himpunan. Menurut Tommy, pada mulanya mereka tidak berpikir panjang soal PKPU yang ada hanya melaksanakan dan jika salah baru membenahi. Istilahnya Nabrak dulu baru dibenerin.

Dalam pengelolaan lembaga mereka menggunakan sistem manajemen Balanced Score Card yang dimana aspek mendasar dari manajemen adalah customer. Walaupun bukan perusahaan profit, PKPU memiliki customer yaitu para penerima manfaat dan donor. Aspek kedua barulah aspek finansial yang didapatkan melalui dana ummat zakat, infaq, atau shodaqoh atau dana halal lainnya lewat kerjasama dengan mitra. Mengapa aspek customer menjadi satu? Tommy mengatakan bahwa prinsip dari lembaga filantropi – dalam hal ini adalah lembaga zakat, yang dicari dan didapatkan sebanyak-banyaknya adalah penerima manfaat. Tujuannya bukan mendapatkan funding sebanyak-banyaknya melainkan sesuai dengan kebutuhan dan juga penerima manfaat yang membutuhkan. Walaupun memang dengan dana sebanyak-banyaknya dapat memberikan manfaat sebanyak-banyaknya pula, namun ini menjadi prinsip lembaga.

Selain itu, bentuk inklusifitas PKPU pengalaman KPU bekerja sama dalam beberapa program dengan Habitat Humanity yang mayoritas digerakkan oleh orang-orang dari agama kristen. PKPU pun memberikan bantuan tersebut di gereja. Hal ini sebagai bentu kolaborasi PKPU dalam hal kemanusiaan, sosial, dan kebencanaan.

Program-program yang dicanangkan oleh PKPU untu saat ini seperti program klaster budaya, disaster risk management, perlindingan anak dan 5418 anak sudah terbantu. Hingga saat ini PKPU sangat aktif terlibat di dalam masalah-masalah tanggap bencana, kemiskinan, pendidikan yang tentu dilaksanakan dengan upaya-upaya yang profesional dengan semangat kemanusiaan – rahmatan lil alamin bagi umat.

  1. Yayasan Budha Tsu Tji

Disampaikan oleh Bapak Suriyadi, Yayasan Budha Tsu Yji adalah organisasi sosial kemanusiaan yang pada awalnya digerakkan oleh sekelompok budhis. Mereka memiliki tokoh sentral yang menjadi penggerak utama yayasan ini eksis. Luar biasanya Budha Tsu Tji menganut sistem keorganisasian yang 100% untuk charity. Tidak ada satupun volunteer ataupun pengurus di dalamnya menerima dana dari charity atau fundrising mereka.

20161008_102303.jpg

Di dalamnya mereka pun menerapkan sistem fundrising seperti MLM. Setiap orang pengurus atau volunteer berkewajiban untuk menyebarkan dan mengajak orang-orang yang dikenalnya untuk memberikan sumbangsih kepada Budha Tsu Tji sehingga persebaran mereka cepat dan meluas. Mereka yang menjadi pengurus dan volunteer pun bukan hanya menjadi pengurus namun juga sebagai donatur. Hingga hari ini mereka memiliki 500ribu donatur bulanan dan 420ribu donatur dari koin cinta kasih yang dibuka setiap 3 bulan satu kali.

Dengan semangat humanisme yang dibawa oleh Budha Tsu Tji kontribusi sosial mereka di Indonesia cukup banyak. Hal-hal tersebut diantaranya adalah Perumahan Cinta Kasih Tsu Tji , Program berbenah kampung untuk 1100 keluarga yang dibantu. Ada pula perumahan cinta kasih di cengkareng yang merupakan perumahan khusus mereka yang tidak mampu dan terdapat 1100 keluarga tidak mampu yang dibantu di perumahan tersebut. Diantara 1100 keluarga yang tinggal di daerah tersebut, 70% nya adalah mengidap penyakit TBC dan Buta Huruf.

Menariknya lagi Budha Tsu Tji pernah membantu pesantren islam di daerah Parung dan membangun 2 sekolah umum di pantai indah kapuk. Bantuan mereka sudah tidak memandang suku ataupun agama, yang penting adalah berarti dan membantu masyarakat yang tidak berdaya.

Membangun Peradaban Bangsa adalah Tugas Setiap Orang

Irfan Abu Bakar, Direktur dan Peneliti di CSRC UIN Jakarta, moderator untuk sesi ini, mengatakan bahwa ia sempat mengkritisi umat islam yang selalu berbicara mengenai konsep islam rahmatan lil alamin namun minim aksi dan penggerakan. Namun, ia melihat bahwa dengan (salah satunya) adanya PKPU, ia mampu melihat citra islam yang lebih inklusif, tidak menutup diri atau eksklusif, dan lebih terpancar kerahmatan lil alaminnya dengan apa yang dilakukan.

Di dunia yang semuanya serba global ini tentu saja membangun peradaban tidak bisa dimonopoli oleh salah satu pihak saja, melainkan ini tugas semua manusia dengan apapun agama atau suku bangsanya. Kemiskinan, minimnya moralitas, bencana alam, dan masalah lainnya di Indonesia bahkan di dunia tidak akan pernah selesai tanpa adanya kolaborasi dan kerjasama yang baik antar ummat, bahkan antar agama. Jika berbicara sosial dan kemanusiaan tentunya hal ini dapat menjadi satu titik dalam ruang yang sama. Permasalahan-permasalahan tersebut tidak akan pernah selesai andai sisi eksklusifitas tersebut masih kuat berada pada lembaga.

Lembaga-lembaga yang tradisional, masih berasa kesan eksklusifitasnya tentu sudah mulai harus membuka diri agar segera berkolaborasi dan tentu berlomba-lomba untuk menebar kebaikan. Semakin lama masalah masyarakat tentunya semakin banyak, mengerjakannya sendiri tentu memperlambat lahirnya perubahan.

Semoga, Indonesia semakin kaya dengan orang-orang atau komunitas atau lembaga yang bergerak dalam bidang sosial kemanusiaan – filantropi, agar masalah bangsa dapat terselesaikan dan Indonesia dapat berkiprah di bidang yang lebih global. Aamiin.

Continue Reading

Indonesia Philantropy Festival (IP Fest) 2016

Festival Filantropi? SDGs?

Ini adalah kali pertama saya menghadiri acara Indonesia Philantrophy Festival. Indonesia Philantophy adalah satu agenda yang berisi beragam acara seperti pameran, konferensi, talk show, forum kemitraan, seminar, serta field trip ke beberapa proyek filantropi yang ada di Indonesia.

Acara ini diadakan oleh Komunitas Filantropi Indonesia bekerja sama dengan Pemerintah dan berbagai komunitas filantropi lainnya di Indonesia maupun luar negeri. Ada banyak sekali lembaga dan komunitas yang ikut serta dalam acara ini. Mereka hadir dari beragam latar belakang baik agama, bidang yang digeluti, ataupun basis kelembagaannya (perusahaan, komunitas, atau lembaga besar). Yang menarik, kita semua bisa menyadari dan merasakan bahwa Indonesia begitu kaya oleh orang dan pihak yang peduli terhadap kemajuan bangsa dan ummat manusia.

Pertama kali melangkah ke pintu masuk, saya sudah dapat merasakan hawa semangat kebaikan yang ada di Jakarta Convention Center. Betapa banyak orang-orang yang peduli terhadap kemanusiaan, terhadap masalah sosial, masalah pendidikan, masalah kesehatan, masalah agama, dan lain sebagainya. Semua ditujukan untuk dapat mengangkat kualitas hidup dan memberikan kebermanfaatan yang mengalir di setiap penerimanya. Ada ribuan relawan sosial hadir disana dari berbagai kalangan. Semuanya tertarik dan menginginkan pengalaman serta ilmu yang lebih untuk dapat diterapkan di organisasi atau komunitasnya masing-masing.

Filantropi di Inodnesia saat ini sedang berkembang dan terus meningkat jumlahnya. Beragam jenis kontribusi, amal, program yang didukung berkembang pesat seiring meningkatnya pula kesadaran masyarakat untuk pedui dan berbagi bagi sesama. Hal ini diharapkan pula oleh dunia bahwa Indonesia bisa berperan signifikan dalam pencapaian target SDGs (Suistanable Development Goals). SDGs adalah seperangkat tujuan universal, target dan indikator dari agenda pembangunan yang telah disepakati di tingkat global. SDGs sendiri didukung 193 negara anggota PBB dan digunakan untuk membingkai pembangunan nasional negara-negara di dunia selama 15 tahun kedepan.

Program-program yang dituju dari SDGs, diantaranya adala masalah-masalah kemiskinan, kelaparan, kesehatan, pendidikan, pembangunan kota, kesetaraan gender, masalah lingkungan (air, energi, iklim, kelestarian alam), perdamaian dan keadilan, inovasi industri, dan pertumbuhan ekonomi. Program-program tersebut tentu tidak bisa hanya dilaksanakan oleh pemerintah atau pihak-pihak tertentu saja. Adanya lembaga-lembaga filantropi ini, justru diharapkan dapat membantu tercapainya SDGs dan  berinovasi menerapkan teknologi, informasi, dan keterlibatan aktif dari masyarakat khususnya anak muda.

goals

Ada Siapa Sajakah di Sana?

Ada banyak sekali stand-stand yang bertengger di IP Fest kali ini. Yang mulanya saya tidak mengenal, akhirnya mengenal dan tertarik juga dengan berbagai program yang dibentuk. Inspirasi akhirnya datang dan juga tercerahkan setelah mengenal mereka.Tentunya beragam kebaikan dan perubahan sosial yang ditawarkan hadir terlihat di stand-stand mereka.

Berikut adalah beberapa komunitas dan lembaga filantropi yang saya capture. Tidak semuanya bisa saya capture, hanya beberapa yang kebetulan saya rasa menarik J

  1. CSR Program – PT Indofood

Ada PT Indofood yang membuka stand dari program CSR mereka. Sebagai salah satu perusahaan besar nasional di Indonesia, ternyata mereka memiliki program-program CSR yang cukup bervarian khususnya dalam bidang pembangunan kelestarian lingkungan.

20161008_113558.jpg

  1. YCAB – Yayasan Cinta Anak Bangsa

Ini dia, salah satu foundation yang cukup besar kontribusinya bagi pendidikan di Indonesia bahkan di tingkat global. Didirikan oleh Ibu Veronica Cologdam, YCAB berfokus pada persoalan pendidikan dan juga peningkatan ekonomi dari masyarakat marginal. Relawannya sudah ribuan, partnershipnya tidak hanya dari dalam negeri, namun berasal dari mancanegara.

Di stand pameran filantropi kemarin, YCAB meng-high light program Rumah Menjahit, sebagai salah satu program pemberdayaan mereka. Produknya keren-keren dan lucu-lucu.

20161008_113722.jpg

20161008_113703.jpg

  1.   Save The Children

Tidak jauh seperti YCAB, fokus bidang Save The Children adalah pada perkembangan dan pendidikan anak-anak. Usaha-usaha yang dilakukan Save The Children adalah menjadikan anak-anak Indonesia agar berkembang dan memiliki pendidikan berkualitas. Support mereka tidak hanya soal fasilitas, dana pada anak-anak yang kurang beruntung, melainkan menggerakkan relawan-relawan untuk membantu program-program yang telah dibentuk. Save The Children juga salah satu lembaga filantropi global lho…

20161008_113815

  1. Yayasan Budha Tsu Tji

Tag line mereka adalah “Menebar Cinta Kasih Universal”. Mereka berusaha dengan tulus dan ikhlas untuk menebar cinta kasih kepada sesama manusia. Yayasan ini sudah berdiri selama 56 tahun dan dengan jutaan relawan di seluruh dunia. Berbasis nilai-nilai agama Budha, Yayasan Budha Tsu Tji secara konsisten telah membantu sesama dalam berbagai program seperti pendidikan, kebencanaan, relokasi dan pembangunan kampung-kampung kumuh. Tidak jarang beberapa program mereka mensupport pembangunan pesantren, pembangunan kampung-kampung untuk masyarakat miskin, pembangunan sekolah, fasilitas kesehatan, dsb.

Tidak hanya orang yang berasal dari agama Budha saja yang dibantu dan turut membantu. Dari beragam latar belakang dan agama pun bisa terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial Budha Tsu Tji. Inklusif sekali bukan?

20161008_113843.jpg

  1. Rumah Zakat Indonesia

Siapa yang tidak tahu lembaga zakat yang satu ini? (Itu loh yang terkenal dengan Kornet Hasil Qurban-nya). Dengan warna orange yang merupakan ciri khas lembaga ini, stand-nya sudah terlihat mencolok dari kejauhan. Di stand Rumah Zakat kemarin dipajang berbagai hasil kerajinan dari anak-anak atau para penerima manfaat yang merasakan manfaat dari program-program RZ. Kerajinan ini dibuat dari barang-barang bekas yang masih bisa didaur ulang. Kreatif sekali bukan?

Salah satu program unggulan dari Rumah Zakat adalah Sekolah Juara yang bertempat di Bandung. Sekolah ini diperuntukkan untuk anak-anak dhuafa yang masih ingin melanjutkan pendidikan namun terbatasi oleh masalah ekonomi atau minimnya support keluarga. Selain itu, Rumah Zakat juga mendukung Suistanable Development Goals lainnya seperti Kesehatan, Lingkungan, dsb.

20161008_113933.jpg

  1. BAZNAS – Badan Amil Zakat Nasional

Nah, yang satu ini sudah tentu sudah dikenal. BAZNAS, Badan Amil Zakat Nasional, adalah lembaga milik pemerintah non struktural. Di stand-nya kemarin, BAZNAS meng-high light program mengenai tanggap bencana dan juga pengembangan lembaga keuangan mikro.

Saat hadir di Sabtu kemarin, BAZNAS sekaligus mengadakan launching program Pengembangan Lembaga Keuangan Mikro, yang ditujukan untuk membantu para kaum miskin dan dhuafa untuk dapat mengembangkan usaha-nya. Dalam hal ini BAZNAS membantu mereka secara finansial, pendampingan, dan tentunya turut membantu mengupgrade hasil usaha para mustahik. Harapannya, para mustahik dapat keluar dari kesulitan ekonomi, hidup mandiri, dan berubah statusnya menjadi Muzzaki.

Semoga saja usaha BAZNAS dapat perkembang , memberikan inspirasi juga teladan, dan tidak kalah oleh lembaga filantropi lainnya yang digerakkan oleh masyarakat.

20161008_114035.jpg

  1. Dompet Dhuafa

20161008_114100.jpg

Lihat para lelaki yang menggunakan topi koboy dan rompi coklat? Mereka adalah barista di kedai kopi settingan dari Dompet Dhuafa. Mereka barista sungguhan? Ya mereka para amil Dompet Dhuafa yang menjelma menjadi para barista. Unik sekali bukan?

Dompet Dhuafa mendesign stand dalam pameran IP Fest kali ini menjadi seperti kedai kopi. Disana dibagikan kopi gratis untuk para pengunjung sekaligus penjelasan berbagai program ekonomi yang mereka kembangkan. Kopi yang disajikan adalah kopi gayo dari Aceh, hasil produk dari program pemberdayaan mereka.

Disana juga terdapat produk ekonomi hasil pemberdayaan seperti, beras, gula semut, berbagai jenis kopi, dan lain sebagainya. Di satu kesempatan, Bapak Ahmad Juwaini, selaku mantan Direktur Utama Dompet Dhuafa (Sekarang General Sekretaris di World Zakat Forum dan Direktur DD University) juga sempat mencoba menjadi barista.

Unik dan Keren! Good luck ya Dompet Dhuafa, semoga dapat semakin memberdayakan ummat menuju kemandirian.

  1. ACT –Aksi Cepat Tanggap

20161008_114119.jpg

ACT, Aksi Cepat Tanggap. Inilah salah satu lembaga kemanusiaan di Indonesia yang selalu siap siaga saat bencana datang. Bukan hanya di dalam negeri, ACT juga senantiasa tanggap masalah-masalah kemanusiaan di tingkat global.

Di stand-nya kali ini, ACT menampilkan foto-foto menarik bertema kemanusiaan dan kerelawanan (ada di walpapper stand) dan video-video buatan mereka sendiri mengenai program-program dan pencapaiannya. Selain itu, ada juga berbagai marchandise seperti kaos yang dijual di stand dan keuntungannya akan digunakan untuk penerima manfaat dari program mereka.

  1. DJARUM Foundation

20161008_18182620161008_181730

Ini adalah stand terbesar yang ada di IP Fest 2016. Di dalam ruangan gelap berukuran kurang lebih 5×5 meter ini ditampilkan video dengan full screen di tembok ukuran 5×4 m yang menceritakan program Djarum terhadap alam. Tidak hanya video yang ditampilkan, namun juga ada maket besar yang terlihat seperti real dan sangat telrihat bagaimana proses Djarum dalam mengelola program ini.

Program yang di high light oleh Djarum adalah penanaman pohon trembesy di sepanjang jalan pantura mulai dari Jakarta hingga ujung wilayah Pantura. Menurut hasil penelitian, pohon ini dapat tumbuh secara cepat dibanding pohon lainnya, dan dapat menyerap 2.600.000 ton CO2 di setiap tahunnya. Tentu jika ditanam dan dipelihara secara konsisten, dapat menjaga kelestarian bumi dan menciptakan udara yang lebih segar, apalagi jalur Pantura adalah jalur padat kendaraan yang tentunya banyak menhasilkan polusi.

Djarum Foundation ternyata tidak hanya memberikan dana sosial nya untuk pendidikan saja, namun kontribusi Djarum Foundation terhadap pelestarian lingkungan juga cukup besar.

IP Fest 2016, so Insightfull!

Saya sudah sampai di JCC untuk mengikuti acara IP Fest pukul 10.00 dan baru kembali ke rumah pukul 20.00. Rasa-rasanya betah sekali berada disini, mengenal dan mengetahui berbagai program sosial kemanusiaan yang ada di Indonesia bahkan dunia. Tidak hanya berhenti disitu, ingin juga segera memberikan dan memperbaiki kinerja diri untuk dapat berkontribusi lebih baik untuk Indonesia.

Berkunjung ke IP Fest membuat saya secara pribadi merasakan manfaat yang luar biasa. Orang-orang baik dan program-program pembangunan sosial di Indonesia ternyata sangat banyak. Jika benar-benar dikelola dengan profesional, manajemen yang berkualitas, pemanfaatan teknologi, dan kerja sama atau kolaborasi antar kelembagaan terlaksana dengan baik, maka SDGs di Indonesia bisa diwujudkan. Bangsa ini tidak lagi hanya sekedar memikirkan diri sendiri, namun mulai memberikan kontribusinya untuk kemajuan peradaban dunia.

Semoga tahun depan berkesempatan lagi mengunjungi IP Fest dan ada cerita baru mengenai kontribusi kita untuk masyarakat di tahun depan.

Di post selanjutnya, saya akan ulas mengenai forum-forum yang saya ikuti di Seminat IP Fest 2016.

Salam…

yang belum kesana semoga tahun depan bisa kesana ya

Continue Reading

Belajar Adil dalam Menilai

Ada hal yang mungkin harus banyak dipelajari ketika manusia hendak menilai apalagi memberikan stempel. Tidak layak kita menilai segala sesuatu yang tidak kita ketahui seluk beluknya secara mendetail atau mampu kita buktikan kebenarannya. Bayangkan saja, manusia itu banyak sekali memiliki kelemahan. Tuhan berikan perangkat akal, fisik, rasa semuanya dalam suatu kadar tertentu. Tidak sempurna 100%.

Continue Reading