NGOBROLIN KEUANGAN KELUARGA BERSAMA SUAMI

Pasca menikah, rasanya lega. Tapi juga ada deg-degannya karena selain happy bisa hidup bersama orang tercinta, tapi masa depan masih panjang yang harus dihadapi. Hidup berumah tangga pastinya bukan cuma masalah cinta ya, tapi ibarat membangun organisasi ada banyak aspek yang harus dikelola bersama. Salah satunya adalah harus pinter-pinter ngatur keuangan. Bagaimanapun pondasi keluarga selain visi bersama juga harus ditopang dengan keuangan yang sehat.

Sudah banyak cerita-cerita tentang masalah keuangan keluarga dari berbagai sumber. Ternyata dari masalah keuangan saja, akibatnya bisa kemana-mana kalau tidak dikelola secara benar. Ada yang jadi ke perceraian, ada yang jadi pertengkaran sengit, ada yang akhirnya keluarga serba kekurangan, dsb. Sedih sih dengernya. Tapi yang jelas, saya jadi tahu bahwa apapun yang terjadi suami istri harus terbuka banget soal keuangan. Apa yang suami dapat, istri dapat, begitupun juga soal pengeluaran. Semuanya harus ada kesepakatan diawal termasuk bagaimana pola keuangan yang akan diterapkan saat menikah.

Photo from Unsplash

Untungnya, dari awal sebelum menikah saya dan suami sudah terbuka soal keuangan. Mulai dari soal gaji masing-masing, tambahan income dari kerjaan sampingan, sampai hutang-hutang yang dimiliki. Mungkin ada beberapa pasangan yang tidak sama seperti apa yang saya terapkan. Tapi kalau bagi saya pribadi, keterbukaan ini bisa membuat lega dan tidak ada saling curiga. Semua ini karena saya punya pandangan bahwa persoalan keuangan bukan hanya tugas suami atau istri, tapi bareng-bareng. Karena menikmatinya juga bareng dan dipake untuk kebutuhan bersama. Jadi rumus pertama, ya udah terbuka aja yuk masing-masing dan semua kita obrolin bareng-bareng.

Ngobrolin Keuangan Setiap Bulan, Apa Aja yang Diobrolin?

Minimal, satu bulan sekali saya selalu obrolin masalah keuangan ini sama suami. Di luar itu pastinya adalah obrolan-obrolan ringan. Tapi, di awal bulan (khususnya setelah menerima gaji) obrolan ini agak serius, seperti rapat-rapat di kantor ya yang perlu perhitungan, kalkulator, dan diskusi diskusi yang panjang. Hehehehe. Tapi tetep asyik, karena ngobrolnya kan bisa sambil bobo-boboan, ngopi santai, dan bercandaan. Beberapa hal yang biasanya saya obrolin dan harus banget terbuka masalah ini saya jelaskan dibawah ya.

  1. Obrolin Sumber-Sumber Keuangan

Soal gaji, udah pasti saling tau. Termasuk kalau ada bonus, penghasilan tambahan saya sebagai blogger misalnya, juga diobrolin. Walaupun hasilnya belum tentu semua dipakai untuk kebutuhan bersama tapi saya tetap bilang kok. Misalnya saja, saya dapat penghasilan dari satu event blogger atau menulis produk review, lalu saya ingin untuk membeli jam tangan baru atau kebutuhan saya lainnya. Saya tetap bilang bahwa ada uang segini dan akan saya belikan ini. Sisanya akan saya simpan atau ditabung untuk kebutuhan lainnya. Begitupun suami saya, juga akan menyampaikan hal yang sama ketika ia dapat bonus kantor dan kebutuhan lainnya.

Kalau tabungan aman dan hutang juga aman, biasanya akan terpikir untuk jalan-jalan atau dipakai untuk refreshing. Hehehe. Yang jelas, setiap bulan kita sudah harus obrolin sumber-sumber keuangan kita ini darimana saja dan berapa saja. Saling terbuka soal sumber keuangan ini lebih nyaman dan pastinya enak karena kita kelola bersama.

  1. List Semua Daftar Kebutuhan, Anggaran, dan Keinginan-Keinginan

Setelah obrolin sumber keuangan selesai, berlanjut ke list semua kebutuhan kita baik untuk rumah tangga ataupun kebutuhan masing-masing. Termasuk nih soal keinginan-keinginan kita. Misalnya aja nih ya, suami saya ada hobi naik gunung. Kalau sudah naik gunung biasanya anggaran jajan bulanannya dia ini bisa jebol. Untuk itu, saya pasti kasih saran untuk anggaran naik gunung ini ditabung setiap bulan dari uang jajan personal. Jadi, saat ada jadwal naik gunung sama teman-teman, gak menguras habis uang jajan langsung. Lebih aman deh jadinya karena udah nabung.

Dari list anggaran dan kebutuhan yang sudah kita buat pastinya lebih mudah nih ngobrolin alokasinya karena kita jadi tahu kebutuhan setiap bulan ini apa saja sih. Termasuk kita juga anggarin uang-uang tidak terduga atau kalau ada teman yang menikah. Kan harus siapin amplop juga ya atau beliin kado sesuai kebutuhan.

  1. Atur Budget yang Realistis

Ini bagian proses mengatur keuangan yang juga penting. Atur budget yang realistis dan sesuai dengan kebutuhan. Kalau tidak mengatur budget, biasanya yang terjadi tiba-tiba suka over budget. Gak sadar uang udah keluar banyak buat jajan di mall atau beli skin care atau bisa jadi belanja kalap karena ada diskon.

Pastinya, masing-masing punya cara dan strategi beda untuk atur budgetnya. Untuk saya sendiri, biasanya presentase pengeluarannya seperti ini:

  • 45% Untuk Kebutuhan Rumah Tangga
  • 30% Untuk Cicilan/Hutang
  • 20% Untuk Tabungan dan Investasi
  • 5% Untuk Dana Cadangan Termasuk Membayar Zakat dan Infaq

Untuk dana zakat sendiri, saya sudah menggunakan sistem autodebet setiap kali gajian dan suami pun secara manual langsung transfer ke rekening lembaga zakat setiap kali gajian. Jadi lebih aman dan tenang uangnya tidak terpakai dulu. Jika ingin infaq atau sedekah, pernikahan teman atau kebutuhan untuk orang tua lainnya, juga bisa digunakan dari alokasi dana yang 10%.

Alokasi budget ini saya pelajari juga dari berbagai literatur dan juga banyak referensi. Yang penting kita terus update dan saling belajar satu sama lain, supaya connect ketika ngobrol masalah keuangan. Hehehe.

  1. Soal Hutang dan Kartu Kredit

Oya, setelah menikah ini kami juga memutuskan untuk punya kartu kredit. Tapi saat akan menggunakannya kami juga harus diskusi dulu akan digunakan untuk apa. Kami bersepakat bahwa penggunaan kartu kredit ini hanya untuk hal darurat saja atau membeli kebutuhan seperti tiket pesawat, tiket mudik yang harus dipesan dari awal, dsb. Kalaupun misalnya untuk dana travelling, ini harus diketahui lebih dulu apakah budgetnya akan ada kemudian? Jika tidak, maka jangan sekali-kali menggunakan kartu kredit.

photo from Unsplash

Selain itu, kartu kredit juga kita pahami sebagai alat pembayaran bukan untuk sesuatu yang konsumtif. Ini juga berfungsi untuk membangun portofolio yang bagus. Siapa tahu kedepannya akan beli rumah lewat KPR, pasti butuh ini kan?

Masalah hutang dan cicilan apapun, kami masing-masing juga saling terbuka. Teman saya juga ada yang pernah bicara soal hutang dan kredit. Beberapa diantaranya ada yang pernah melakukan Gadai BPKB Mobil untuk kebutuhan mendadaknya. Tapi menurut saya, ini bisa saja dilakukan kalau kita punya prediksi sumber penggantinya. Jadi tetap harus realistis menghitungnya ya. Semua hutang itu tidak dilarang, yang penting realistis bisa membayar dan sumbernya tetap produktif. Jadi kita tidak terhimpit dan terjebak.

Kalaupun ada sumber keuangan yang kurang dan harus berhutang terlebih dahulu, kita tahu rumusnya tidak boleh lebih dari 30% keuangan yang kita dapatkan. Selagi syarat itu terpenuhi, tentu masih aman. Jangan sampai keuangan rusak dan gagak karena soal hutang yang tidak terbayar dan tidak terprediksi sebelumnya.

  1. Punya Pegangan Masing-Masing, Bebas Atur Sendiri

Kita masing-masing punya uang pegangan. Biasanya uang tersebut untuk jajan atau beli-beli kebutuhan lainnya yang memang kebutuhan personal kita di luar yang sudah dianggarkan. Untuk pulsa, bensin atau transport sudah kita anggarkan di luar budget ini. Untuk makan, kita memutuskan bawa bekal sehari-hari jadi sudah ada anggaran belanja bulanan. Jadi ini murni untuk lifestyle dan keseharian saja. Entah mau ngopi, beli baju, atau lainnya yang penting cukup saja untuk sebulan. Anggaran ini bisa kita atur sendiri, masing-masing.

Saya sendiri berusaha utuk disiplin dalam mengatur keuangan ini. Mudah-mudahan sih bisa lancar dan keuangan sehat. Karena keuangan yang sehat, juga membantu untuk membuat keluarga yang sehat. Setuju gak? Share juga pengalaman ngobrolin keuangan sama suami versi kalian ya. Jadi buat bahan belajar dan reference mengatur keuangan lebih banyak lagi.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *