CERITA PERNIKAHAN : MEMANTAPKAN HATI UNTUK MENIKAH

Pernikahan bukan moment satu hari saja. Tetapi perjalanan seumur hidup dengan berbagai dinamikanya. Untuk itu, sudahkah memantapkan hati untuk menikah sebelum menyesal nantinya? (Feature image by : Athaya Storiese)

Saat berdikusi dengan kebanyak teman-teman yang masih berusia antara 18-25 tahun, pernikahan seakan jadi goal dalam hidup. Rasanya senang, tenang, dan tentram ketika sudah menikah. Mungkin ini juga yang saya pikirkan saat masa-masa awal kuliah dulu. Kok, sepertinya enak ya menikah? Hidup bersama pasangan dan senang-senang selamanya. Maklum saja, pemikiran tersebut lahir dari saya yang masih dedek-dedek.

Semakin dewasa, semakin dekat memasuki jenjang pernikahan rasanya lebih deg-degan. Bukan karena saya khawatir terhadap laki-laki pilihan saya atau ragu apakah dia jodoh saya. Yang paling membuat keresahan itu muncul adalah soal kesiapan saya untuk menikah. Saat sudah menikah, berarti saya bukan hanya memikirkan persoalan diri sendiri, tapi ada orang lain yang juga harus saya pikirkan setiap harinya. Apa kabar dengan bangun di siang hari, bermalas-malasan di akhir minggu, atau bebas mau berbuat apa saja? Bagaimana juga dengan cita-cita saya, keinginan-keinginan diri, apakah masih bisa dicapai setelah berkeluarga?

Baca juga : BUKU ANTI PANIK PERNIKAHAN

Hidup hampir 10 tahun jauh dari orang tua dan keluarga membuat saya jadi orang yang sangan mandiri dan independen. Hampir semua persoalan jika memang tidak membutuhkan orang lain, bisa saya tangani sendiri. Saking seringnya seperti itu, saya jadi nyaman dan menikmati hidup seperti itu. Walaupun, sejak 8 tahun sebelum menikah saya pun sudah mulai mengenal suami saya dan sering berinteraksi dengannya secara intens. Tapi, memasuki pernikahan berbeda kan? Ada tanggung jawab lebih dan tentunya kewajiban yang harus dipenuhi satu sama lain.

Untuk itu, setiap orang pasti pernah melaluinya. Ada keraguan, keresahan bahkan kebingungan apakah saya siap untuk menikah? Bahkan, tidak jarang lho yang munculnya perasaan tersebut saat pernikahan akan segera dilaksanakan. Entah 1 minggu sebelumnya, beberapa hari sebelumnya, atau mungkin saat akad akan terucap. Yang jelas, kemantapan hati sebelum menikah harus kita miliki.

5 Pertanyaan untuk Memantapkan Hati Sebelum Menikah

Sebelum menikah, jawaban-jawaban keresahan ini harus selesai. Jangan sampai masih ada yang mengganjal ketika hari-H sudah dekat. Pengalaman pribadi saya, saat setahun sebelum menikah saya mulai untuk memantapkan hati saya. Mulai dengan menjawab semua pertanyaan-pertanyaan keresahan serta mencari jawabannya secara logis dan rasional. Bukan hanya terhanyut perasaan atau menikah karena dorongan lingkungan. Untuk itu, beberapa pertanyaan yang perlu dijawab untuk memantapkan hati, seperti dibawah ini ya.

  1. Apa Alasan untuk Menikah?

Alasan untuk menikah ini adalah persoalan yang basic banget. Walaupun kayaknya sepele, tapi kalau hal ini tidak dijawab ya bisa bermasalah kedepannya. Alasan untuk menikah tiap orang bisa jadi beda-beda dan ini harus dipastikan dulu bahwa alasan kita dan pasangan kita untuk menikah adalah hal yang sama. Kebanyakan orang saat ditanya apa tujuannya atau alasannya menikah, dijawab karena untuk ibadah. Ada juga yang jawab, ya udah saatnya aja.

Kemana arah pernikahan yang akan kita jalani? Pict by Unsplash : Baby Darbosco

Alasan beribadah juga bisa macam-macam. Nah kita, alasan yang mana? Ingin punya anak juga ibadah, ingin menjalin hubungan yang syah dan sesuai syariah juga ibadah, saling mendukung dan bareng-bareng hidup ya juga ibadah. Intinya ketika bingkai pernikahan itu untuk kebaikan, sepemahaman saya adalah ibadah. Untuk itu, ini harus dipastikan karena banyak kasus yang terjadi setelah pernikahan. Banyak pasangan suami istri yang cerai saat tidak memiliki momongan karena dianggap tujuan pernikahannya adalah untuk punya anak. Ada juga yang karena ingin berbakti pada suami sehingga dia benar-benar ikut dengan argumentasi suami, dan lain sebagainya. Kalau alasan ini belum selesai pada diri kita, khawatirnya akan menjadi masalah besar dikemudian hari dengan pasangan. Semoga dengan niat ibadah yang sesungguhnya, kebaikan itu bisa hadir untuk keluarga yang kita bangun.

Bagi saya sendiri, menikah dengan suami saya adalah karena ingin hidup bersama saling mendukung untuk hidup ini. Untuk itu, ya kita harus saling mendukung untuk karir atau impian kita masing-masing. Saling berkompromi dan mempertimbangkan yang terbaik agar kehidupan kita berjalan sesuai tujuan. Andaikata nanti tidak punya anak, ada masalah pekerjaan, ekonomi, dsb, bagaimana? Ya karena itulah kita bareng-bareng supaya bisa menyelesaikan itu semuanya. Butuh diskusi, kesamaan visi, dan juga rasa cinta agar semuanya bisa berjalan bersama. Semuanya berikhtiar untuk tujuan bersama.

Sehingga, alasan apa yang membuat kita harus menikah dengan pilihan kita sendiri?

  1. Sudah Selesaikah dengan Diri Kita Sendiri?

Sudahkah kita benar-benar paham diri kita sendiri? Saat apa kita bahagia, saat apa kita senang, apa impian atau keinginan yang masih beum tercapai dan masih ingin kita kejar? Menurut saya, saat menikah dan kita belum kenal diri kita sendiri tentu kita akan sulit juga bisa memahami dan mengenal pasangan kita seutuhnya. Saat kita juga masih sulit menerima kekurangan diri dan mengatasi berbagai masalah yang ada dalam diri, nantinya pasti kita juga akan sulit untuk menerima pasangan yang mungkin saja ada banyak hal lainnya yang belum kita ketahui lebih dalam.

Kadang, ada juga yang masih terbawa dengan trauma masa lalu atau mungkin teringat mantan. Alhamdulillahnya, saya tidak mengalami hal ini. Tapi berdiskusi dengan beberapa teman dan juga pengalaman beberapa orang, sulit akhirnya untuk memasuki rumah tangga jika masalah dalam diri tersebut belum selesai.

Intinya, kenali siapa diri kita sendiri sedalam-dalamnya dan sesadar-sadarnya sebelum kita menerima dan mengurusi orang lain di luar diri kita, yaitu suami kita nantinya.

  1. Sudah Tepatkah Dia Menjadi Pendamping Hidup Kita?

Menikah bukan sehari dua hari, tapi seumur hidup. Ada banyak masalah rumah tangga saat kita juga belum mengenal siapa pendamping hidup kita. Ya, setidaknya kita tahu kebaikan dan keburukan pasangan kita. Apa titik kelemahannya dan apa potensi yang membuat konflik dengan dia. Sekedar mengenal saja nama dan keluarganya, apalagi hanya berbekal informasi dari orang menurut saya kurang cukup. Entah kenapa sejak saya akan menikah, saya benar-benar yakin dengan pilihan saya karena saya sudah tahu apa kelemahan dia dan juga hal-hal yang membuat saya bisa berkonflik. Dengan mengetahui itu saya jadi tahu apa yang harus dilakukan jika terjadi masalah. Dari situ saya juga buat kesepakatan jika terjadi konflik, apa yang harus kita lakukan satu sama lain.

Walaupun tidak 100% tapi yang jelas proses ini harus dilalui. Kebetulan, saya mengenal suami saya 8 tahun sebelum menikah. Saya sudah hapal apa yang membuat dia emosi, kesukaannya, hal-hal yang tidak ingin diganggu dari dalam dirinya, hingga mungkin berbagai macam kelemahannya. Saya juga tahu potensi dirinya dan hal apa yang bisa membuat kita bisa lebih hebat. Memasuki masa dewasa dan menjelang pernikahan hal ini terus saya pahami, karena sekedar cinta dan mengikuti perasaan saja tidak cukup.

  1. Punya Modal Apa Setelah Menikah?

Modal disini tidak selalu bernilai harta atau material lho. Belum punya rumah, belum punya aset, belum punya uang banyak bukan berarti tidak bisa menikah. Tapi menurut saya, yang terpenting adalah modal pengetahuan dan juga modal untuk berkarir. Misalnya, apakah sudah ada pekerjaan? Atau jika masih merintis karir, bagaimana rencana kedepannya. Terlihat realistis ataukah tidak? Coba dibandingkan dengan karakternya, apakah dia orang yang bekerja keras atau tidak?

Modal menikah selain finansial yang terpenting adalah pekerjaan atau karir yang akan menghasilkan pendapatan untuk hidup berkeluarga. Pict by : Unsplash – Artem Bali 

Saya pernah berdikusi dengan teman saya di kantor yang sudah 20 tahun menikah. Menurutnya, finansial atau ekonomi ini adalah pondasi dalam keluarga. Hal mendasar yang harus dipenuhi apalagi laki-laki yang tugasnya menafkahi. Saya sepakat dengan argumentasi ini. Toh kita tidak mungkin hidup jika tidak ada uang. Untuk itu, bukan sekedar besaran uangnya, tetapi apakah kita mampu mendapatkan penghasilan dan menghidupi keluarga?

Andai kata belum sanggup, ada juga yang orang tuanya atau keluarganya mau membiayai dan mensupport ekonomi. Tapi, jangan coba-coba bagi kita yang tidak punya modal orang tua atau keluarga, juga tidak punya modal pekerjaan, dan masih bingung mau berbuat apa. Bisa-bisa setelah menikah, pertikaian pun muncul karena persoalan ini.

  1. Mampukah Kita Menangani Konflik dan Toleransi dengan Pasangan?

Namanya manusia, nggak ada yang sempurna kan? Sebaik-baik dan secinta-cintanya kita dengan pasangan pasti konflik akan terjadi. Entah karena lagi emosi, lagi bad mood, atau mungkin karena masalah lainnnya. Tapi, tidak semua konflik itu harus terjadi lama-lama lho. Nggak harus berujung ke pertikaian yang lebih panjang. Kenapa saya bisa bilang begitu? Karena ada banyak contoh keluarga yang sudah bertahun-tahun menikah, terjadi banyak masalah dan ujian dalam rumah tangganya, tapi tetap kokoh berdiri. Kuncinya, mereka bisa menangani konflik dan bertoleransi dengan pasangan.

Baca juga : CERITA PERNIKAHAN : MENYIAPKAN MENTAL DARI SEGALA KOMENTAR ORANG

Salah satu cara menangani konflik dan toleransi dengan pasangan adalah kita bisa mengelola emosi, mengelola pikiran, dan saling terbuka saat ada masalah. Apa kebutuhan saya, apa kebutuhan kamu, apa yang kamu inginkan, sudahkah benar-benar kita pahami? Kalau belum, ya usahakan dipahami benar-benar sebelum menikah. Tapi yang jelas paradigma seperti ini bukan hanya tugas seorang wanita, pastinya suami juga harus punya. Jadi, pastikan juga suami kita punya pandangan yang sama soal ini. Bisa mengatasi konflik dan mau bertoleransi dengan segala kekurangan kita.

Pict by Unsplash : Danica Tanjutco

Ya, ternyata memang menikah itu tidak mudah. Ada bahagia pastinya, ada ujian juga tentunya. Saat sedang khawatir memikirkan menikah, saya mulai sadar bahwa memang saya harus bisa mengelola emosi, mood, berkompromi bukan hanya untuk keinginan saya tetapi juga keinginan pasangan. Saya yang hidupnya independen dan selama ini mandiri mulai menikah tidak bisa 100% seperti itu lagi. Tetapi ada juga ruang dan waktu sendiri yang bisa ditolerir oleh suami karena sudah berbincang itu sebelum menikah.

Lantas bagaimana dengan persiapan kalian yang juga akan menikah? Sudah memantapkan hati? Semoga kemantapan kalian juga didasari oleh alasan yang matang ya. Adakah juga yang mau memberikan tips atau pengalamannya mempersiapkan pernikahan? Silahkan share di kolom komentar ya.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *