CERITA PERNIKAHAN : MENYIAPKAN MENTAL DARI SEGALA KOMENTAR ORANG

Hampir 2 tahun sebelum tanggal menikah, saya dan suami sudah mempersiapkan hitung-hitungan terkait budget dan kebutuhan acara resepsi pernikahan. Aslinya, bisa-bisa saja menikah saat itu juga. Kami hanya tinggal pergi ke KUA dengan restu orang tua dan memenuhi segala rukun-rukun pernikahan dalam islam, semuanya selesai. Tapi ternyata tak semudah itu, Ferguso….Ada permintaan orang tua, permintaan keluarga, permintaan sanak saudara nun jauh disana. Bahkan ada juga anggota keluarga jauh yang sebetulnya tidak terlalu dekat pun, ingin ikut ambil keputusan di pernikahan ini.

Tapi tahap pertama mempersiapkan mental menjelang pernikahan adalah menghadapi orang tua. Saya di keluarga adalah anak pertama dari dua bersaudara. Suami saya anak kedua dari tiga bersaudara dan kakaknya sudah menikah. Dari pengalaman saya, pihak suami tidak terlalu banyak menuntut atau request segala macam. Tapi biasanya, permintaan ini banyak dari keluarga wanita. Untungnya, Orang tua saya bukan yang permintaannya aneh-aneh juga. Prinsipinya, mengadakan acara yang layak, tidak memalukan keluarga, dan sebisa mungkin sih nggak jadi bahan omongan keluarga besar atau tetangga. Alasannya, ya malu kan kalau jadi omongan.

Persoalannya, menghadapi omongan orang tentunya tidak akan selesai-selesai. Bagi tetangga yang ukurang ekonominya high class ya pasti pesta sederhana pun bisa saja jadi omongan. Cateringnya mungkin kurang pas di lidah, kok biasa saja kok begini kok begitu. Atau bagi orang-orang islam tertentu, bisa juga jadi omongan, katanya ngerti agama, kok nikahan gak ada hijabnya, tamu laki-laki dan perempuan bercampur? Kalau kata orang-orang yang mungkin memegang teguh adat, juga pasti ada omongan, aneh kok pernikahan gak ada acara adatnya. Katanya orang Indonesia, darah Sumatera dan Sunda, nggak ada sama sekali sih.

Awalnya, Ayah saya sempat meminta untuk mengadakan acara sesuai dengan adat Batak. Kebetulan, Ayah saya asli sana dan keluarga di Sumatera pasti meminta untuk acara tersebut dilaksanakan. Dan harus tau nih, acara adat Batak itu kalau diturutin bisa habisin waktu lebih dari 2 hari (di luar acara resepsi). Belum lagi, baju adat yang dikenakan biasanya lebih mahal dan ribet juga. Dan ternyata alasan Ayah saya saat itu lebih ke menghargai keluarga dan khawatir jika nanti keluarga ngobrolin di belakang karena tidak ada acara adat.

Ibu saya pun juga sama, sempat meminta ada seragam keluarga, ada tambahan menu, ada tambahan ini itu, jumlah undangan yang diperbanyak, yang membuat saya akhirnya sempat bingung dalam mengatur budget. Tapi, seiring berjalan waktu dan tentunya sedikit perdebatan juga pertengkaran kecil diantara kami, semua bisa selesai dengan baik-baik. Semuanya saya komunikasikan dan clear setahun sebelum acara pernikahan. Iya, bayangkan ya persiapan menikah aja sampai dua tahun sebelumnya. Hehehe.

Dari situ, saya menjelaskan, bahwa budget saya dan suami tidak cukup. Kami hanya bisa membayar untuk kebutuhan Gedung Sederhana, Catering dengan total 700-800 porsi tidak lebih, dan kebutuhan inti lainnya. Apalagi, hampir 90% dana pernikahan adalah uang saya dan suami. Keluarga hanya mensupport yang kecil-kecil saja. Itupun saya bersyukur Alhamdulillah, karena banyak yang peduli dan sayang sama kami.

Ya, hal itu semua sudah saya prediksi sejak awal sebelum menikah. Bagi saya dan suami saat itu, kami bisa menikah, menjadi pasangan halal, bisa mengundang sahabat terdekat dan keluarga rasanya sudah bersyukur. Maklum saja, 8 tahun saling mengenal dan menjalin hubungan, rasanya ingin kami sudahi dengan berlabuh di pelaminan dan segera hidup bersama mengarungi kehidupan. Bukankah begitu keinginan setiap orang yang saling mencintai? Wkwkw.

Tetapi, menyiapkan mental menghadapi omongan orang ini bukan hanya untuk saya dan suami. Tapi juga untuk keluarga. Khususnya, Ibu saya. Karena menurut saya Ibu saya lah yang paling dekat dan berpengaruh untuk saya ambil keputusan. Untuk itu, saya pernah sedikit berdebat dengan Ibu saya sendiri soal acara pernikahan. Kemudian, saya memberanikan diri untuk bilang :

“Kenapa harus ada ini itu? Apa karena mamah takut diomongin orang kan? Takut kalau nanti digossipin dibelakang? Memang kenapa harus takut diomongin, toh juga mereka nggak tahu kita bahagia-bahagia aja? Mereka juga nggak tau kan, rezeki kita ini gimana? Bukannya yang paling penting itu berkah dan halal ya, dan restu Mamah sama Papah? Kalau itu udah ada, kenapa harus pusing mikirin orang? Memang orang yang ngomongin kita, udah pasti mereka lebih bahagia? Nggak jamin juga. Paling bertahan ya mereka ngomongin 1 bulan, kalau dua bulan masih ngomongin itu tandanya mereka nggak ada kerjaan sih.

Hahaha, agak ngegas juga nih anak ngomongnya. Tapi bagi kami berdua ini hal biasa, karena keluarga kami sering blak-blakan dan ngomong apa adanya. Tapi jujur, itu kalimat-kalimat yang saya utarakan ke Ibu saya. Kami bukan nggak pernah berantem, berdebat, dan diem-dieman. Pernah! Tapi yang pasti saya selalu utarakan, kalau apapun yang terjadi semuanya saya ingin bahagiakan orang tua juga. Saya nggak ingin orang tua ribet mikirin hal-hal seperti ini. Sudahlah, yang penting menikmati acara dan melihat anaknya bahagia. Dan akhirnya, seiring berjalan waktu Ibu saya pun mulai tidak peduli dengan omongan Ibu-Ibu yang suka bergosip ria. Walaupun kami sering berbeda pendapat dan sering ribut karena urusan ini, apapun yang terjadi saya selalu sampaikan ke Ibu saya. Walaupun uang untuk persiapan menikah adalah dari saya dan suami, saya selalu libatkan Ibu saya untuk yang terbaik. Selain karena minta saran, itu juga sebagai wujud saya menghormati Ibu saya yang ternyata beliau sangat senang ikut mempersiapkan acara.

Menyiapkan mental seperti ini, tentu saja bukan hal mudah tapi bukan berarti tidak bisa dilakukan. Sejak awal, saya dan suami sudah berpikir tentang pernikahan bahkan sejak kami menyatakan ada rasa satu sama lain (itu masih kuliah semester-3 lho.., hahaha). Ya memang substansi pernikahan adalah dimana saat kita mulai hidup bersama, mendukung satu sama lain, menyelesaikan persoalan yang ada dalam hidup, dan bersama-sama mencapai tujuan hidup. Resepsi pernikahan, hanya setitik dari perjalanan hidup dan rumah tangga yang akan dibangun. Lantas, bagi kami yang budgetnya pas-pasan dan bukan juga berasal dari keluarga yang bisa mensupport utuh ekonomi menjelang pernikahan, tentunya nggak ada hal yang mengharuskan kami buat pesta mewah, megah, dan menjadi kesan “WOW” bagi semua yang hadir. Cukup menjamu mereka, ungkapan rasa terimakasih karena telah hadir dan mendukung kami. Itu saja.

Ketika ada yang ngomongin atau bahkan jadi obrolan keluarga, kami sudah siapkan semua itu. Lagipula, kalau soal diomongin orang atau nggak, sebenarnya bukan hanya saat menjelang pernikahan. Setelah menikah pun pasti ada saja omongan orang. Entah itu soal pekerjaan suami, pekerjaan istri, rencana punya momongan, soal punya rumah atau tidak, dsb. Untuk itu, saya rasa saat mempersiapkan pesta yang sesuai budget kami dan pastinya ada kekurangan disana-sini, We don’t care! Tanpa mengurangi rasa hormat, khususnya untuk keluarga terdekat. Yang penting, kami tidak menyalahi aturan pernikahan-nya Tuhan, tidak merugikan orang lain, dan tidak menyusahkan juga. Ya, kami siap menghadapi semua itu.

Untuk itu, berikut adalah beberapa hal dari saya untuk mempersiapkan mental menjelang pernikahan, agar kita tidak termakan omongan orang dan jadi EMOSI gara-gara hal tersebut. Semoga bisa membantu, bagi kalian yang sedang mempersiapkan pernikahan ya.

1.   Buat Konsep Pernikahan Ala Sendiri

Sebelum kita mendengar berbagai masukan dan komentar orang lain terhadap pernikahan kita, sebaiknya kita buat konsep pernikahan kita sendiri. Jika perlu melibatkan orang tua, tidak masalah, tetapi yakinilah bahwa konsep kita sendiri pasti akan membuat kita lebih puas dan bahagia. Konsep pernikahan sendiri ini, sangat penting apalagi jika budget pernikahan banyak ditanggung oleh kedua pasangan, bukan keluarga. Konsep ini sebagai patokan, sehingga kita bisa memilah mana komen dan saran orang lain yang bisa kita terima dan tidak. Jika tidak bisa, tinggal hempaskan saja kawan!

2.   Jangan Bandingkan diri Kita dengan Orang Lain

Kalau kita hanya bisa membuat pesta sederhana, dengan makanan sekadarnya dan kondisi yang sebisanya, ya syukuri saja. Jangan bandingkan diri kita dengan orang lain. Ya misalnya saja nih, saya membandingkan pesta yang akan saya buat dengan Mbak Raisa dan Mas Hamish Daud. Ya jelas jauh lho, Marimar… Mbak Raisa ini, penghasilannya saja berapa. Tamu undangan pentingnya juga segambreng. Lah saya? Ya begitu contohnya ya. Intinya, setiap orang punya kondisi masing-masing. Pesta mewah itu bukan standart dan begitupun dengan pesta sederhana bukan juga sebagai standart. Intinya, sesuai dengan kemampuan orang tersebut.

3.   Fokus dengan Apa yang Kita Miliki dan Tujuan Masa Depan

Pesta atau Resepsi pernikahan ini hanya sebentar saja. Sisanya adalah masa depan yang membentang dihadapan mata kita bersama suami. Jadi, fokus saja dengan apa yang kita miliki dan siapkan masa depan terbaik. Energi kita jangan habis dengan apa yang dikatakan orang lain, karena omongan orang lain bak Anjing Menggonggong Kafilah Berlalu. Siapkan saja rumah tangga yang sudah ada dihadapan mata.

4.   Komunikasi yang Intensif dan Heart to Heart pada Orang Tua

Awal-awal mempersiapkan pernikahan, saya sering nge-gas ke orang tua, khususnya Ibu. Lama-lama saya ngerasa sering bersalah dan berdosa karena sering memaksanakan kehendak. Nah intinya, mengikuti kehendak kita itu sah-sah saja, tetapi coba bicara yang heart to heart pada orang tua. Saat coba berbincang dengan Ibu, saya coba cari momentum yang pas, mood yang sedang bagus, dan pastinya bikin suasana yang nyaman dulu. Sambil makan atau ngeteh misalnya. Makanya, sejak sering ngegas saya rubah komunikasi saya lebih nyantai dan coba jelaskan pelan-pelan kondisinya. Alhamdulillah, diberikan kelancaran.

5.   Buat Kebahagiaan Sendiri, Karena Kita Tidak Bisa Membahagiakan Semua Orang

Ya, sebagai manusia, kita nggak bisa membahagiakan semua orang. Kalau resepsi atau pesta pernikahan kita ada kurang-kurangnya, ya memang kita nggak bisa seperfect itu, nggak bisa bikin semua orang senang. Setidaknya, kita senang karena sudah sah sebagai suami istri. Pasti ada orang tua yang senang, anaknya sudah menikah, keluarga dekat yang mendoakan dan sahabat yang juga berbahagia. Kalau ada orang yang julid atau nyinyir, say good bye saja. Doakan semoga dia mendapatkan kebahagiaan lainnya, walau bukan di tempat resepsi pernikahan kita.

6.   Anggap Saja Ini Latihan

Ya, anggap saja ini latihan. Setelah menikah pasti akan ada juga kok berbagai komentar dari orang lain yang pasti nggak enakin di hati kita. Tapi jangan diambil hati dan dibawa perasaan, karena ingat 5 hal diatas ya! Hidup kita bukan milik orang lain, jadi jangan bawa apa yang orang lain katakan apalagi Cuma selentingan saja masuk kedalamnya.

****

Jreng jreng jreng…..Tibalah hari H pernikahan kami. Saat di pelaminan semua nampak bahagia dan berjalan dengan lancar saja. Tidak terdengar di telinga kami omongan-omongan orang. Alhamdulillah lancar dan tentunya proses pernikahan ini adalah moment yang kami tunggu sejak lama. Bahkan testimoni positif dari teman-teman dan keluarga juga kami terima. Seperti, cateringnya enak, memuaskan, dekorasinya bagus, pengantinnya cantik, souvenirnya lucu, dsb. Tapi, setelah pernikahan selesai ya ada dong omongan-omongan dan komentar orang itu terdengar, bagai netizen julid yang maha benar. Hehehe.

“Itu pengantinyya agak gemuk, nggak diet apa ya sebelum menikah”

“Kok maharnya sedikit amat!”

“Aneh banget itu acara nggak ada adat. Katanya orang Batak keluarganya”

“Prosesi pernikahannya kok begitu sih, salah itu deh kayaknya. Pilihan WO nya sih kayaknya nggak sesuai”

“Saya nggak diundang tuh, nggak tau mungkin nggak inget kali….”

Kok Pilihan tanggalnya, bulan Muharam sih. Muharam kan………”

“Kok….

“Kok….

“Kok…….”

Dan beragam kok-kok lainnya yang pastinya saat saya mendengar hal itu, We don’t care about it! Mohon maaf kalau ada kekurangan dan salah-salah. Yang terpenting, hari ini kami sudah bersama dan ada tujuan yang harus kami capai. Terus gimana dengan komen-komen itu? Ya, itu Cuma komen lewat yang tidak perlu di follow up. Nanti juga mereka lupa dan capek sendiri. Mungkin saja saat itu, mereka sedang Gabut alias gak ada yang dikerjain. Bye…

You may also like

1 Comment

  1. Huaaa! Thank you for sharing kak. Ini semakin menguatkan kalo pesta tuh yaaa buat sehari doang, sebagai org batak juga banyak bgt ketakutan yg muncul huhu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *