TENTANG PENYAKIT DIFTERI YANG SEMPAT MEWABAH DI INDONESIA

Akhir tahun 2017 sampai dengan tahun 2018 yang lalu, penyakit dan gejala difteri ramai jadi perbincangan. Banyak diliput oleh berbagai media, kasus penyakit difteri banyak menjangkiti anak-anak. Saya pun yang dewasa sebenarnya agak kaget mendengar jenis penyakit menular ini, karena sebelumnya pernah mendengar istilah difteri. Semakin hari semakin familiar dengan penyakit difteri ini, setelah tahu bahwa di lingkungan kosan saya dulu ada anak-anak yang terkena penyakit ini.

Saya sempat membaca berita yang saat itu dilansir oleh detikcom bahwa DKI Jakarta termasuk salah satu wilayah yang juga berstatus KLB atas waban difteri. Pemerintah DKI saat itu pun sampai menggolontorkan dana sebesar 70M untuk vaksin difteri. Sedihnya lagi, pasien yang terserang ini banyak yang berasal dari keluarga kurang mampu dan memang tinggal di wilayah kurang higienis.

Ternyata jenis penyakit ini terjadi karena infeksi yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diptheriae. Bakteri ini menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan sehingga bisa memengaruhi kulit hingga bisa berpotensi mengancam jiwa. Bakteri ini juga menular melalui udara, benda pribadi, peralatan rumah tangga yang terkontaminasi, atau menyentuh luka orang yang telah terinfeksi kuman difteri.

Difteri banyak menyerang anak-anak dan balita – Gambar diambil dari web halodoc

Biasanya difteri ini muncul 2-5 hari setelah objek terinfeksi oleh kuman. Gejala difteri yang timbul bisa beragam, tapi biasanya adalah demam, menggigil, nyeri tenggorokan, sulit bernafas, ada pembengkakan di leher atau getah bening, lemas, batuk, dan pilek hingga terjadi gangguan penglihatan. Yang saya baca dari sebuah artikel di halodoc, difteri ini termasuk dalam penyakit yang mematikan karena dapat menyebabkan infeksi nasofaring yang bisa berdampak pada kesulitan bernapas dan menyebabkan kematian. Selain itu, difteri juga bisa menyebabkan komplikasi yang serius jika tidak segera ditangani dan diobati dengan tepat.

Saat membaca berbagai literatur tentang penyakit difteri ini, saya pun agak-agak serem ya. Sejujurnya, saya salah satu orang yang daya tahan tubuhnya kurang baik. Sering sakit, mudah batuk atau pilek jika makan sesuatu yang berminyak atau terlalu banyak MSG, dan kotor. Saya pun saat itu langsung berpikir ingin segera vaksin difteri dan juga memeriksakan kesehatan, agar daya tahan tubuh tidak mudah tumbang. Tapi karena satu lain hal, ujung-ujungnya saya pun tidak sempat untuk melakukan vaksin. Hahaha. Alhamdulillah, tidak sampai terkena penyakit ini dan berusaha menjaga kesehatan tubuh semaksimal mungkin.

Sebenarnya simpel saja cara untuk menghindari difteri. Selain mendapatkan vaksin, kita juga harus menjaga imunitas dan kekebalan tubuh dengan baik. Saat bakteri Corynebacterium diptheriae menyerang tubuh, jika kekebalan tubuh kita baik maka pastinya akan terhindar dari hal ini. Selain itu, pastikan juga kita memiliki gaya hidup dan lingkungan yang sehat. Pastikan kita setiap hari bisa mendapatkan udara yang segar, matahari yang cukup, dan tentunya tidak asal-asalan dalam memilih makanan. Lingkungan dan kebersihan sanitasi yang buruk akan berpotensi untuk menghadirkan penyakit difteri.

Gambar diambil dari website halodoc

Untuk para orang tua, sebaiknya segera membawakan anak ke dokter atau puskesmas terdekat untuk anak mendapatkan vaksin atau imunisasi sejak usia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, 18-24 bulan, dan juga saat memasuki usia sekolah dasar. Hal ini tentunya untuk mencegah lebih dini agar anak tidak terkena difteri. Apalagi anak-anak kan sering sekali bermain ke luar, bersentuhan dengan orang lain dan teman-temannya yang belum tentu juga sehat. Bagi yang tidak pro imunisasi atau vaksin, tetap juga harus memikirkan bagaimana agar anak-anak terhindar dari penyakit ini. Entah dengan cara alami atau dengan menjaga kekebalan tubuh dengan baik.

Dari halodoc, disampaikan juga beberapa vaksin yang bisa diberikan diantaranya seperti:

  • Vaksin DPT-HB-HiB untuk bayi di bawah 1 tahun dan bayi berusia 18 bulan.
  • Vaksin DT yang akan diberikan pada anak ketika ia berada di kelas 1 SD atau berusia sekitar 6 tahun.
  • Vaksin TD yang akan diberikan pada anak ketika ia berada di kelas 2 atau 5 SD, yaitu berusia sekitar 7 tahun atau 10 tahun.

Mudah-mudahan wabah ini tidak datang lagi di Indonesia ya. Yang lebih penting orang tua, pakar kesehatan, dan berbagai gerakan sehat lainnya bisa mencegah anak-anak dan masyarakat agar terhindar dari penyakit difteri ini. Kasihan lho, apalagi anak-anak kalau sampai terkena sakit ini.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *