HARGA HIJAB, ASUMSI, HINGGA PENILAIAN MANUSIA

Kita tidak bisa menjadi bernilai di hadapan semua orang. Tetapi, kita bisa membuat nilai dari diri kita sendiri dan menjadi berharga untuk hidup yang kita jalani

Di tahun 2016-2017, saya sempat memulai sebuah bisnis hijab dan fashion bersama dengan sahabat saya. Saat proses menjual barang, baik secara online ataupun offline (lewat bazaar, teman-teman, dsb), kami sering mendapat komentar dari berbagai orang.

“Mahal banget sih mbak, hijabnya! Hijab doang masa sampai segitu harganya?”

“Saya mau deh mbak, tapi 30 ribu ya!”

“Ah saya beli di Tanah Abang harganya 25 ribuan mbak hijab motif kayak gini”

Ya, mendapatkan komentar seperti itu di awal kali berbisnis rasanya seperti ditikam harimau dan ingin balas menyerang balik. Kami malah sempat merasa down, marah, bahkan kesal setiap kali ada calon pembeli yang seperti itu. Rasa-rasanya harga hijab yang kami jual dengan harga 75ribu rupiah saat itu, belum ada apa-apanya dibanding dengan harga jilbab lainnya, yang bisa di angka 300ribu ke atas. Ya, bisa 3 kali lipatnya dari harga hijab yang kami jual. Tetapi lambat laun saya dan sahabat saya ini jadi terbiasa dengan komentar tersebut.

Selain komentar yang sedikit nyinyir dan ujung-ujungnya juga nggak beli, kami juga sering mendapat testimoni yang positif. Mulai dari orang yang membeli tanpa menawar dan langsung borong banyak, sampai orang yang ingin jadi agen penjualan kami. Mereka merasa kualitas produk yang kami jual sangat bersaing, walaupun kami ini masih newbie. Pemilihan bahan yang berkualitas, motif hijab yang bagus, sampai dengan kualitas jahitan yang juga oke.

“Aku kalau pengen beli hijab yang bagus-bagus ingetnya ke kamu, mbak!”

Coba deh, senang bukan main kan jika ada komentar positif seperti itu? Andai saja ya semua pembeli seperti itu. Hehehe.

Mengapa semua itu bisa terjadi? Mengapa ada komentar orang yang merasa hijab ini terlalu mahal padahal ada hijab lain yang lebih murah dan kenapa ada orang-orang yang mengapresiasi dengan antusias produk yang kami jual? Saya pun mulai mendapatkan kesimpulannya, bahwa memang untuk menilai sesuatu itu berharga atau tidak, bagus atau jelek, keren atau biasa aja, sangat bergantung kepada kemampuan dan data yang dimiliki oleh orang yang akan menilai. Semakin orang tersebut memiliki kemampuan dalam hal ini: ilmu, skill, pengalaman yang baik disertai data yang juga menunjang, maka ia akan menilai dengan lebih objektif. Ya tidak asal menilai ini bagus atau tidak sesuai dengan kehendak hati mereka saja.

Misalnya saja, dalam kasus orang yang membeli hijab yang kami jual, berkomentar positif, dan sampai jadi pelanggan. Mereka adalah orang-orang yang pernah membeli hijab di tempat lain, pernah kecewa dengan produk tertentu, atau memang mereka benar-benar paham kualitas bahan dan jahitan. Mereka mengambati juga secara teliti produk yang kami jual. Ditambah lagi, mereka memiliki kemampuan untuk membeli. Artinya harga 75ribu sangat affordable di kantong mereka. Tapi, mereka juga paham bahwa ada kualitas jahitan, bahan, bahkan design yang lebih diatas hijab yang kami produksi. Hijab branded istilahnya. Pasti harganya jauh diatas dan wajar karena value produknya juga jauh dari kami.

Andaikata mereka yang menawar hingga harga 25 ribu atau 35 ribu tahu, untuk menghasilkan produk hijab yang kami jual ini tentu tidak mudah. Kami tidak bisa mendapatkan keuntungan dengan menjual di harga tersebut. Belum lagi kami pun harus membeli bahan dasar hijab yang harganya bisa sama dengan harga yang mereka tawar. Belum lagi kami harus membayar penjahit dan memastikan kualitas jahitannya bagus, rapih, dan tidak ada cacat sedikitpun. Mereka juga tidak tahu, bahwa mencari bahan yang bagus, motif yang oke (nggak pasaran, nggak norak), itupun juga tidak mudah. Kami harus bersaing dengan banyak pembeli besar yang bisnisnya lebih besar dari kami. Kami juga harus berdesak-desakkan ke pasar, hunting bahan sana sini, belum lagi kami berdua harus memasarkannya secara online atau offline. Butuh fokus, tenaga, pulsa, ongkos, dan hal-hal lainnya sampai hijab cantik dan memuaskan customer ini bisa siap dibeli. Yang ada mungkin bukan kemahalan, tapi memang si pembeli tak sanggup untuk membelinya, tidak sesuai dengan budget biasanya ia membeli hijab. Bukan menyalahkan penjual dengan alasan kemahalan.

Itu kenapa, kalau ditawar setengah harga, lalu dibilang ini mahal banget padahal ada yang lebih mahal lagi rasanya kami sering nyesek! Tapi semakin lama saya semakin sadar bahwa memang seseorang akan menilai sesuatu berharga atau tidak ya sesuai dengan kemampuan dan data yang mereka miliki. Jika ada calon pembeli yang berkomentar nyinyir seperti itu, kami pun mencoba untuk menjelaskannya dengan baik. Mulai dari kualitas bahan, jahitan, dan beragam kelebihan lainnya yang akan mereka dapatkan.

Well, dalam hidup ini pun banyak hal yang serupa dengan hal ini. Kita tidak akan pernah bisa menilai sesuatu dengan benar-benar objektif, bijaksana, jika kita tidak memiliki kemampuan berpikir, menalar, mendapatkan data, memiliki informasi, dan ilmu yang benar terkait hal tersebut. Apalagi saat ini kita dihadapakan berbagai masalah hidup, seperti memilih pemimpin untuk negeri, memilih pasangan, memilih tempat kita bekerja, dan sebagainya.

Termasuk tentang seberapa besar nilai atau berharganya diri kita di hadapan orang lain, tentu juga akan berbeda-beda. Kita tidak mungkin menjadi bernilai atau berharga di mata semua orang. Kita juga tidak bisa menjadi sesuatu yang sangat bernilai bagi hidup semua orang. Hanya orang-orang yang benar-benar mengenal kita, tahu tentang diri kita, tahu apa manfaat yang bisa kita berikan untuk orang lain, dan apa yang akan terjadi jika kita tak ada di dalam hidup mereka.

Misalnya saja, seberapa berharganya diri kita bagi sebuah perusahaan. Ada yang menganggap kehadiran kita sangat bernilai dan bermanfaat, namun bisa jadi ada yang menganggap kita tidak seberapa bernilai. Namun tidak berarti saat kita dirasa tidak begitu berharga, bukan sebagai aset bernilai perusahaan, sama dengan kita memang seperti itu. Bisa jadi mereka tidak tahu potensi kita, mereka tidak punya alat untuk menilai kita secara objektif, dan tentunya saat kita ingin lebih berharga, bisa jadi kita harus pergi pada perusahaan atau tempat yang lebih menerima kita. Sama halnya seperti hijab yang saya jual. Ia akan menjadi produk yang bernilai jika dilihat oleh orang yang tepat, segmen yang pas, yang memang memiliki kemampuan dan pemahaman yang sesuai.

Ya, begitulah penilaian manusia. Kadang asumsi menjadi basic padahal asumsi hanyalah asumsi, bukan selalu data atau realitas real. Padahal yang seharusnya data dan realitaslah yang menjadi patokan. Manusia memang kadang sulit menilai segala sesuatunya secara utuh, kadang-kadang ada aspek subjektifitas atau dorongan perasaan yang mendominasi. Memang tidak bisa sempurna. Tapi setidaknya, cobalah kita untuk menilai dengan memulainya dari objek atau hal yang akan kita nilai. Bukan berangkat dari asumsi, persepsi, apalagi sesuatu yang kita yakini tanpa bukti. Bukankah Tuhan memang sudah memberikan akal pada manusia sebagai alat untuk kita berpikir dengan benar?

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *