Mengenal Indonesia Lewat Data : Generasi Millenial dan Terbukanya Peluang Ekonomi Baru Indonesia

Marilah kita mengenal Indonesia lewat data. Banyak yang memprediksi kondisi Indonesia dengan berbagai pendekatan. Akan tetapi pendekatan yang berbasis data, fakta yang terukur akan memudahkan kita memahami kondisi secara objektif. Salah satu fakta yang harus kita dekati dengan data dan fakta yang objektif adalah mengenai masalah bonus demografi Indonesia yang diprediksi akan datang di tahun 2020-2030.

Apa dan bagaimana di tahun 2020 akan terjadi, tentu harus dipahami dengan pendekatan data dan fakta yang valid, statistik yang terukur. Kesalahan mengungkap data dan fakta tentu akan menimbulkan rasa pesimis atau bahkan salah dalam menyikapi.

Marilah kita kenali Indonesia dengan data dalam prediksi manfaat dan peluang dari hadirnya bonus demografi. Dengan adanya data data yang pasti, kita akan mudah mengenal bangsa kita sendiri dan tentunya mempersiapkan agar fakta dan data yang ada bisa menjadi modal intelektual yang berdampak besar.

Memasuki Tahun Puncak Bonus Demografi di Indonesia

Indonesia termasuk dalam empat besar negara yang berpenduduk terbanyak di dunia. Dengan jumlah penduduk sekitar 258 juta jiwa, hingga kini Indonesia hanya berada di peringkat kelima dalam hal kemakmuran di ASEAN. Tentu saja Indonesia menginginkan perubahan dan kemajuan ekonomi, dan salah satu harapannya adalah dari adanya bonus demografi di Indonesia.

Tahun puncak bonus demografi di Indonesia diperkirakan akan terjadi pada tahun 2020-2030. Sebelum memasuki tahun tersebut, tentu saja kita sudah dapat melihat perkembangannya pada saat ini. Hal tersebut dapat kita lihat dalam fakta-fakta berikut ini.

  1. Tingkat Ketergantungan Semakin Menurun

Di tahun 2016, Badan Pusat Statistik Indonesia menyebutkan bahwa rasio ketergantungan penduduk Indonesia hanya sebesar 48,4. Artinya 100 orang usia produktif akan menanggung 48-49 usia non produktif. Sedangkan di tahun 2010, rasio ketergantungan penduduk Indonesia masih di angka 51,3% dari 53,8% di tahun 2010. Hal ini tentu menjadi sebuah prestasi tersendiri bagi Indonesia, karena rasio tersebut mengalami penurunan terus menerus di setiap tahunnya.

Rasio ketergantungan penduduk Indonesia di tahun 1971-2016 semakin menunjukkan penurunan. Artinya semakin rendah tingkat ketergantungannya maka penduduk semakin baik dan mandiri. (Data diambil dari katadata)

Adanya penurunan rasio ketergantungan ini memberi arti bahwa Indonesia sudah mulai memasuki tahun bonus demografi, dimana usia produktif mendominasi dari jumlah penduduk dan mampu menanggung perekonomian dari usia non produktif.

  1. Jumlah Usia Produktif Mendominasi

Menurut data statistik, jumlah usia produktif di Indonesia (15-60 tahun) mencapai angka 166,06 juta. Artinya 50% lebih penduduk Indonesia adalah usia produktif. Usia tersebut adalah usia yang masih bisa aktif bekerja dan melakukan aktifitas produktif.

Dari jumlah penduduk usia produktif, kelompok usia yang mendominasi adalah usia 15-39 tahun dengan jumlah sekitar 84,75 juta dari total penduduk Indonesia yang sejumlah 258 juta. Artinya sekitar 32% penduduk Indonesia adalah usia produktif yang merupakan generasi Y, atau disebut dengan generasi millenials.

Struktur penduduk di Indonesia didomonasi oleh penduduk usia produktif yaitu usia 15-64 tahun.

Adanya generasi Millenials yang mendominasi penduduk di Indonesia ini, tentunya menjadi harapan baru bagi kemajuan Indonesia, khususnya dalam pertumbuhan ekonomi. Generasi millenials memiliki karakter tersendiri, cara bekerja yang berbeda, memandang masalah dengan cara berbeda, dan tentunya menghasilkan karya dengan cara yang berbeda.

Salah satu faktornya adalah karena generasi millenials lahir dan berkembang di era digital, high technology, dan tidak bisa lepas dalam kesehariannya dengan berbagai perangkat digital atau platform online.

Fakta Tentang Generasi Millenials

Kita dapat menyaksikan bahwa generasi millenials hampir tidak bisa lepas dari dunia sosial media dan gadgetnya selama 24 jam. Bahkan sebelum mereka tidur, masih menyempatkan diri untuk berbelanja online, meninjau sosial media, bahkan berinteraksi dengan teman-temannya tanpa dibatasi waktu melalui berbagai platform online seperti whatsapp, BBM, Line, atau Telegram.

Hidup generasi millenials dipenuhi oleh broadcast, informasi dari akun-akun sosial media, promosi online, dan berbagai hal lainnya yang didapatkan melalui platform online. Bahkan, untuk mempelajari sesuatu atau mencari informasi yang mereka butuhkan, jawabannya selalu didapatkan melalui google dan berbagai kanal online lainnya secara cepat.

Untuk itu, bagi generasi ini ruang dan waktu tidak membatasi mereka untuk berinteraksi dan menggali informasi. Selagi memiliki gadget dan juga paket data yang mendukung, aktifitas tersebut akan tetap dilakukan oleh mereka dalam situasi apapun.

Selain itu, untuk menunjang pekerjaan dan informasi yang dibutuhkan, mereka selalu meng-update teknologi terbaru. Hal ini tentu berbeda dengan generasi sebelumnya yang mungkin lebih nyaman dengan penggunaan teknologi yang sudah ada. Tapi berbeda dengan generasi millenials, kebutuhan teknologi sangat tinggi dan kebutuhannya selalu meningkat.

Untuk itu, tidak jarang bahwa mereka selalu berusaha untuk mengikuti trend teknologi yang berkembang seperti smartphone, laptop/notebook, aplikasi online, dan berbagai hal lainnya untuk menunjang kebutuhan hidup mereka. Bahkan mengakses sosial media adalah kebutuhan tersendiri bagi millenials. Termasuk mengakses berita yang lebih dominan lewat sosial media.

Akses informasi, berita, dan pengetahuan dengan cepat didapatkan oleh generasi millenial. Untuk itu mereka selalu update informasi dan memiliki pengetahuan yang luas khususnya yang didapatkan dari online atau sosial media.

Generasi Millenial lebih banyak mengakses platform online dan media sosial untuk mendapatkan informasi dan berita yang terupdate.

Adanya pola perilaku seperti ini pada generasi millenials tentu bukan sekedar menjadi kebiasaan yang tidak berdampak. Jika diperhatikan dan dipersiapkan secara matang, bonus demografi dari generasi millenials ini bisa menjadi peluang tumbuh suburnya ekonomi di Indonesia. Salah satunya adalah terbukanya beragam lahan pekerjaan baru yang akan tumbuh di Indonesia. Ada banyak pekerjaan-pekerjaan dan bidang-bidang baru yang tidak ada sebelumnya, namun lahir pada saat generasi millenials mengambil kesempatan, berkreasi, dan mengembangkan beragam bisnisnya.

Peluang Tumbuhnya Lahan Pekerjaan Baru dari Generasi Millenials

World Economic Forum tahun 2015 memprediksikan Indonesia di tahun 2020 akan menempati peringkat ke-8 ekonomi dunia, dengan pengguna internet mencapai 140 juta. Hal ini membuat Indonesia akan menjadi pasar digital terbesar di Asia Tenggara tahun 2020. Tentu saja hal ini terjadi karena pada tahun 2020 adalah tahun bonus demografi dimulai. Diketahui pula bahwa generasi millenial yang akan mendominasi ini memiliki pola perilaku dengan teknologi tinggi, serba digital atau online, dan tentu kreatifitas yang tinggi.

Generasi Y dan Z yang merupakan generasi high tech adalah pengguna platform online terbanyak dan cenderung memilih beraktivitas, bertransaksi, mengakses berita, dsb lewat media tersebut.

Berikut adalah manfaat yang bisa didapatkan dari dominasinya jumlah generasi Millenials di Indonesia terhadap peluang terbukanya lapanganpekerjaan baru di Indonesia.

  1. Tumbuhnya Bisnis Berbasis Digital

Berbekal pengetahuan dan peningkatan skill dari generasi millenial Indonesia, banyak sekali tumbuh perusahaan atau startup baru yang berbasis pada aplikasi digital atau online. Awalnya dunia start up mungkin tidak begitu dilirik dan menjanjikan, ibarat memulai sebuah bisnis baru yang tidak dikenal dan populer di masyarakat.

Namun mulai tahun 2013, startup di Indonesia mulai berkembang. Adanya platform digital, penyedia jasa online, online shop melalui berbagai akun sosial media, bahkan e-commerce mulai tumbuh menjamur. Dilansir oleh CNN.com, Di tahun 2013, transaksi online melalui e-commerce di Indonesia mencapai angka 130 Triliun. Sedangkan di tahun 2016  angkanya ditaksir mencapai 394 Triliun. Diprediksi pada tahun 2020, angka tersebut bisa menjadi 1.710 Triliun. Tentu hal ini menjadi peningkatan ekonomi yang luar biasa bagi Indonesia.

Prospek pembayaran digital Indonesia hingga masa bonus demografi tiba. Pembayaran digital menunjukkan prospek yang besar, khususnya yang dilakukan oleh Generasi Millenial yang sangat melek teknologi.

Dari data statistik yang dilansir BPS, dari tahun 2006-2016 jumlah e-commerce di Indonesia naik hingga 17%. Totalnya berkisar hingga 26,2 juta. Artinya penggunaan platform online atau digital sangat tinggi, khususnya bagi para pengguna media digital yaitu Generasi Millenial.

Adanya startup yang terus tumbuh membuat lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat. Kita bisa mengambil contoh adanya GoJek. Keberadaan Gojek khususnya di kota-kota besar, membuka lapangan pekerjaan baru bagi ribuan orang. Driver online sudah banyak diminati bahkan bagi orang-orang yang tidka memiliki pekerjaan pada awalnya menjadi terbuka lapangan baru bagi mereka. Tidak jarang, mereka yang masih mahasiswa atau bekerja di tempat lain, memiliki penghasilan tambahan dari pekerjaan sampingan sebagai driver.

Saat ini gojek, semenjak kehadirannya di tahun 2014, telah memiliki 200ribu driver dan 100ribu diantaranya adalah driver yang tersebar di Jakarta. Di tahun 2016, Go-Jek mengklaim bahwa ada 667ribu pesanan di setiap harinya. Tentu ini merupakan sebuah peluang ekonomi baru bagi Indonesia, dimana sebelumnya supir ojek adalah pekerjaan yang sama sekali tidak dilihat dan memiliki prospek yang lebih. Di tangan generasi Millenial (Nadiem Makarim – CEO Go-Jek), berhasil merubah semua pandangan dan menggantinya menjadi prospek ekonomi dan peluang pekerjaan baru.

Belum lagi layanan atau jasa yang diberikan oleh Go-jek saat ini tidak berhenti di layanan Ojek, melainkan layanan pengiriman barang, angkut barang (truck), layanan jasa antara atau beli makanan, layanan pijat, make up, dan lain sebagainya. Pekerjaan dengan skill apapun dengan adanya start up maka akan mempermudah siapapun untuk maju dan menghasilkan sumber ekonomi tersendiri.

Belum lagi di bidang pendidikan. Salah satunya adalah platform ruang guru. Menyediakan bimbingan belajar online melalui aplikasi atau group di sosial media membuka kesempatan baru untuk generasi ini berkarya. Para mahasiswa sekalipun bisa memberikan penawaran bimbingan belajar dengan tarif tertentu sesuai kapabilitas dan kemampuannya. Tidak harus menunggu lulus kuliah, ia sudah bisa mencari penghasilan sendiri sebagai tambahan uang jajannya.

Efek ekonomi dari start-up ini tentu saja bukan main-main hasilnya. Ruang guru sendiri, memiliki hampir 7000 guru dan peningkatan omset 20-25% setiap bulannya. Pencapaian ini didapatkan dari tahun 2014, yang secara umum masih berumur jagung bagi ukuran sebuah company atau perusahaan. Akan tetapi di tangan generasi millenials pengembangannya bisa sangat cepat dan mampu bersaing dengan lembaga bimbingan belajar yang masih konvensional.

Pencapaian ini juga kedepannya diprediksi masih akan terus bertumbuh dan merekrut banyak guru serta karyawan lagi karena permintaan yang semakin tinggi, dimana generasi dibawah semakin nyaman dengan aplikasi atau layanan berbasis digital yang sangat memudahkan mereka. Tentu saja ini akan berefek pada perekonomian Indonesia dan perekonomian bagi generasi millenials yang masih produktif.

Kini startup merambah ke berbagai sektor dan jasa lainnya. Mulai dari jasa montir, jasa pembersih AC, jasa asisten rumah tangga, pembelian kebutuhan sehari-hari, jasa pijat, dan hal-hal lainnya sudah bisa terjawab dengan adanya berbagai platform digital. Tentu saja ini adalah peluang ekonomi menarik, yang membuat penduduk Indonesia usia produktif bisa lebih berdaya dan mandiri secara ekonomi. Lapangan pekerjaan sangat terbuka luas dari adanya startup yang semakin menjamur dan berkembang di berbagai sektor masyarakat.

Pengetahuan dan kemampuan apapun dapat teroptimalisasi menjadi penghasilan yang menjanjikan ketika generasi millenial mampu menciptakan paltform digital yang memudahkan pasar untuk mengakses, baik sebagai pengguna ataupun yang memberikan jasa.

  1. Menjamurnya Enterpreneur dan Industri Kreatif Baru

Karakteristik generasi millenial yang suka dengan pekerjaan kreatif, fleksibel, dan berpotensi untuk pengembangan dirinya, membuat pekerjaan menjadi seorang enterpreneur atau bidang-bidang kreatif menjadi cukup menyenangkan bagi mereka.

Bekerja di perusahaan, mengandalkan finansial dari perusahaan mungkin menjadi capaian utama bagi generasi sebelumnya. Namun hal ini berbeda dengan generasi millenial yang sangat cepat menyerap informasi, cepat untuk belajar, dan menuntut cepat juga untuk mengaktuskan ide, inovasi, serta kreativitas. Untuk itu, pilihan membuat perusahaan atau bidang bisnis sendiri adalah hal yang lebih menantang bagi seorang milenial ditambah begitu banyak support platform digital untuk mereka opimalisasikan.

Dengan berbekal sosial media seperti instagram, facebook, twitter, youtube dengan mudah kita dapat mempromosikan produk yang kita produksi. Saling terkoneksi satu sama lain itulah kuncinya. Untuk itu, tidak jarang usia pelajar SD-SMP sudah memiliki akun instagram dan mempromosikan jualannya melalui akun tersebut.

Tidak hanya itu, berkat sosial media yang berkembang, usia pelajar kini bisa mencari lahan pekerjaannya sendiri lewat job sebagai endorser. Endorser bertugas untuk mempromosikan produk atau brand tertentu dan tentunya dengan jasa tersebut, ia bisa mendapatkan penghasilan tersendiri. Semakin banyak ia memiliki followers di social media, semakin tinggi tingkat pengaruhnya atau mampu menjadi seorang influencer, maka akan semakin besar royalty yang akan didapatkan seorang endorser. Tentu sebuah pekerjaan atau job yang tidak didapatkan dari generasi sebelumnya, di masa lampau.

Industri kreatif lokal lainnya misalnya seperti batik, makanan tradisional, crafting, creative design untuk logo, branding, posting sosial media lainnya adalah lahan bisnis baru yang menjanjikan dan sangat diminati oleh para millenials. Minat dan potensi dapat lebih teraktuskan menjadi sebuah produk dan lahan bisnis baru, yang mungkin tidak dikenal dan populer di masa orang tua sebelumya.

Walaupun perusahaan yang telah berdiri lama dan ternama menjanjikan gaji besar hanya mampu menampung SDM dalam jumlah terbatas, generasi millenials memiliki lahan sendiri untuk diberdayakan menjadi potensi ekonomi dan industri baru bagi Indonesia.

  1. Freelancer adalah Pekerjaan Baru Bagi Generasi Millenial

Diungkap dari riset Sociolab, generasi millenial kebanyakan bukan pekerja yang loyal pada sebuah perasaan melainkan pada merek. Untuk itu, millenial bukan pekerja yang suka bertahan pada perusahaan yang stagnan dan tidak menjanjikan perkembangan yang cepat. Mereka suka dengan gaji yang tinggi, jam kerja yang fleksibel, dan menuntut perkembangan karir dalam waktu cepat. Untuk itu, mereka tidak akan segan-segan meninggalkan perusahaan hanya waktu dalam kurang 1 tahun dan berganti pada pekerjaan lainnya.

Hal ini dilakukan karena generasi millenials adalah generasi yang cukup cerdas, kreatif, dan mudah untuk mengelola informasi, sehingga mereka dengan mudah berganti pekerjaan bahkan cenderung memilih pekerjaan yang lebih bebas, kreatif, dan fleksibel. Tidak jarang, pekerjaan sebagai freelancer adalah pekerjaan yang cukup banyak diminati oleh generasi millenial.

Bisa kita lihat bersama, begitu menjamurnya profesi orang sebagai youtuber, vlogger, blogger di berbagai bidang seperti fashion, beauty, healthy, dan lifestyle. Contoh lainnya seperti, penulis lepas, visual designer, social media administrator adalah pekerjaan-pekerjaan baru di era ini. Generasi Millenial cukup banyak tertarik untuk bekerja dalam bidang-bidang tersebut, sehingga walaupun mereka tidak terikat oleh perusahaan atau satu kontrak kerja khusus, mereka masih bisa menghasilkan uang lewat keahlian atau kreativitas yang mereka miliki.

Tidak ada kekhawatiran seharusnya bagi mereka yang melek teknologi dan memiliki kemampuan, untuk bisa mendapatkan pekerjaan dan penghasilan. Kini bekerja sebagai freelancer juga cukup menjanjikan, apalagi banyak platform online atau digital yang khusus membuka kanal untuk para freelancer mencari job atau bahkan memberikan job. Situs-situs seperti Sribulancer, projects.co, dan lain sebagainya mulai tumbuh subur sebagai tempat untuk para millenials yang tidak ingin terikat company namun tetap menghasilkan karya juga financial.

Tidak hanya itu, peluang freelancer mendapatkan pekerjaan bukan saja dari dalam negeri, melainkan dari luar negeri. Generasi millenial yang melek akan teknologi dan informasi, akan mudah mendapatkan job dari platform yang berasal dari luar negeri. Asalkan kemampuan bahasa mereka memadai, hal ini cukup menjanjikan bukan?

Menyiapkan Peluang Bonus Demografi

Adanya bonus demografi khususnya dari generasi millenials Indonesia dapat ditarik intisari bahwa mereka dapat memberikan manfaat kepada terbukanya banyak lapangan pekerjaan baru, munculnya industri kreatif baru sesuai dengan minat juga potensi anak Indonesia, serta memberikan efek pada potensi meningkatnya penghasilan juga kemandirian finansial masyarakat Indonesia sejak dini.

Tentu saja setiap peluang memiliki juga tantangan sendiri. Dalam hal ini pemerintah atau pihak-pihak pemegang kebijakan harus terus mensupport dan merespon peluang ini dengan cepat. Ada beberapa hal yang bisa menjadi strategi dalam menyambut bonus demografi ini sebelum mencapai puncaknya di tahun 2030.

 

  1. Kurikulum Pendidikan yang Supportif

Untuk menyambut bonus demografi ini, tentu SDM yang siap adalah hal yang paling utama. Mempersiapkan SDM millenial bisa dilakukan melalui pendidikan. Sudah saatnya pemerintah menyusun kurikulum yang bisa mensupport SDM millenial untuk bisa lebih berkarya.

Kurikulum mengenai penggunaan platform digital atau sosial media, digital marketing, enterpreneur, adalah hal yang bisa dimasukkan dalam kurikulum pendidikan formal. Optimalisasinya bagi pelajar dan mahasiswa juga bisa dilakukan dengan membuat kegiatan ekstrakurikuler yang memasukkan aktivitas digital dan kewirausahawan sebagai kegiatan baru di sekolah atau institusi pendidikan.

Selain itu, penggunaan bahasa internasional, khususnya bahasa inggris juga bisa lebih ditingkatkan dalam proses pembelajaran dan pembiasaan sehari-hari. Kedepan, potensi ekonomi tentu saja bukan hanya berhenti di dalam negeri, melainkan juga dari luar negeri bahkan persaingan hingga tingkat internasional.

  1. Support Infrastuktur ke Berbagai Pelosok Daerah

Untuk saat ini, support insfrastuktur dan jangkauan akses internet terkadang masih terbatas hanya di kota-kota besar sedangkan di pelosok nusantara masih belum terakses dengan baik. Inilah tugas pemerintah dan pemangku kebijakan untuk turut memperluas akses hingga kepelosok daerah. Tentu saja generasi Millenial tidak hanya ada di kota-kota besar, melainkan di seluruh pelosok-pelosok daerah. Mereka pun juga harus mampu ikut serta dalam menyambut peluang ini, agar di seluruh Indonesia bisa berdaya, mandiri, secara finansial dan ekonomi.

Kesimpulan

Itulah penjelasan mengenai generasi millenial Indonesia dalam angka dan data serta pendekatan informasi lainnya . Menyambut tahun 2020-2030 sebagai puncak tahun bonus demografi di Indonesia tentunya adalah menyambut peluang yang sangat besar untuk kemajuan dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Sebelum memasuki tahun 2020, Generasi Millenials sebagai populasi atau kelompok umur yang akan menjadi bonus ini sudah menunjukkan keunggulan dan kehebatannya melalui aksi nyata, khususnya pengoptimalan teknologi dan digital.

Dengan adanya generasi millenials yang terus tumbuh dan berkembang, akan ada banyak manfaat khususnya dalam bidang ekonomi yang akan didapatkan oleh Indonesia. Salah satu dampak terbesarnya adalah semakin minimnya pengangguran dan terbukanya banyak lahan pekerjaan baru bagi masyarakat Indonesia, yang bisa jadi tidak ada lahannya di masa-masa sebelumnya.

Jika disimpulkan, maka dampak positif dan manfaat yang akan didapatkan Indonesia jika para generasi millenial ini dipersiapkan serta disebar infratuktur yang memadai di seluruh daerah Indonesia adalah :

  • Mengurangi Pengangguran
  • Mengurangi Beban Negara Terhadap Ekonomi Masyarakat
  • Meningkatnya Transaksi Ekonomi Indonesia
  • Peningkatan Pendapatan Masyarakat Indonesia
  • Peningkatan Taraf Hidup
  • Maju dan Berkembangnya Industri Lokal
  • Peluang Baru Bisnis Lokal Go International melalui berbagai platform online

Semoga Indonesia siap menyambut puncak bonus demografi ini dan mengoptimalkan generasi millenial untuk kemajuan ekonomi. Tentunya semua itu juga berbicara tentang mengelola peluang dan memanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Sangat menyenangkan mengenal dan memprediksi bangsa kita sendiri lewat pendekatan data, statistik, dan fakta bukan? Karena data dan fakta adalah pengukuran objektif yang mampu membantu kita dalam memecahkan masalah.

Semoga Bermanfaat! Jangan lupa kenali selalu Indonesia kita melalui data dan fakta yang objektif

 

Artikel ini diikutsertakan dalam kompetisi blog oleh katadata/databoks Indonesia 2017. 

You may also like

6 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *